DATA HIV AIDS
Cerita Haris Mendampingi ODHA di Maluku Utara: Tantangan, Stigma, dan Harapan
Ia menjadi pendukung sebaya bagi Orang dengan HIV/AIDS (ODHA/ODHIV), sebuah peran yang menuntut kesabaran, empati, dan komitmen jangka panjang
Penulis: Sitti Muthmainnah | Editor: Sitti Muthmainnah
Namun tantangan itu tidak menyurutkan langkahnya.
Haris juga pernah mendampingi ODHA/ODHIV perempuan hamil. Meski prosedurnya hampir sama, perbedaan biasanya terletak pada tingkat stadium dan dosis obat yang diberikan.
Dari ratusan pasien yang ia dampingi, sebagian besar berada pada stadium 1 dan 2.
Setiap hari, Haris harus mengambil obat untuk sekitar 15 ODHA/ODHIV, masing-masing satu botol berisi 30 tablet.
Ia menjaga catatan laporan tiap pasien dengan rapi, memastikan tidak ada satu pun yang terlewat.
Stigma Masih Menjadi Musuh Terbesar
Bagi banyak ODHA/ODHIV, tekanan mental sering kali lebih berat daripada gangguan fisik. Stigma masih menjadi momok yang membuat mental mereka drop, merasa rendah diri, atau takut meminta pertolongan.
Karena itu, membangun kepercayaan menjadi bagian penting dari pekerjaan Haris. Jika hubungan tidak terbangun, ODHA/ODHIV mudah menarik diri dan berhenti pengobatan.
“Saya merasa berguna ketika mereka membaik dan sehat,” ucap Haris.
Meski pekerjaannya melelahkan, Haris tidak pernah mengeluh. Justru sebaliknya, ia merasa pekerjaan sebagai pendukung sebaya adalah panggilan hati.
Baca juga: Air Minum Vpol Diduga Tidak Higienis, Polda Maluku Utara Mulai Penyelidikan
Ada rasa puas yang dalam ketika melihat kondisi ODHA/ODHIV yang ia dampingi berangsur membaik.
“Itu pencapaian buat saya,” ujarnya pelan.
Bagi Haris, ini bukan sekadar pekerjaan. Ini adalah tanggung jawab moral, sebuah komitmen terhadap kemanusiaan yang tidak pernah ia tanggung setengah hati. (*)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/ternate/foto/bank/originals/Haris-pendamping-ODHA.jpg)