Kamis, 23 April 2026
Halmahera Timur
Halmahera Timur Berbenah Menuju Transformasi Kemajuan

Pemkot Tidore

Kekerasan Anak di Tidore Masih Tinggi per 2025, Persetubuhan Dominan

Kasus kekerasan terhadap perempuan dan anak di Kota Tidore Kepulauan, Maluku Utara masih menjadi persoalan serius

|
TribunTernate.com/Sitti Muthmainnah
KEKERASAN ANAK DAN PEREMPUAN - Kepala Dinas P2KBP3A Kota Tidore Kepulauan, M. Hasbi Marsaoly. Ia menyampaikan data dan upaya penanganan kasus kekerasan terhadap perempuan dan anak di Kota Tidore Kepulauan, Senin (26/1/2026). 
Ringkasan Berita:
  • Kasus kekerasan terhadap perempuan dan anak di Kota Tidore Kepulauan, Maluku Utara masih menjadi persoalan serius.
  • Sepanjang tahun 2025, tercatat lebih dari 68 kasus dengan variasi tindak pidana, mulai dari kekerasan seksual, kdrt, hingga anak berhadapan dengan hukum.
  • Data Dinas P2KBP3A Tidore menunjukkan, kasus persetubuhan terhadap anak menjadi yang tertinggi, yakni 14 kasus, dengan 11 kasus telah diselesaikan dan 3 kasus masih dalam proses hukum.

TRIBUNTERNATE.COM, TIDORE – Kasus kekerasan terhadap perempuan dan anak di Kota Tidore Kepulauan, Maluku Utara masih menjadi persoalan serius.

Sepanjang tahun 2025, tercatat lebih dari 68 kasus dengan variasi tindak pidana, mulai dari kekerasan seksual, kekerasan dalam rumah tangga (kdrt), hingga anak berhadapan dengan hukum.

Data Dinas Pengendalian Penduduk, Keluarga Berencana, Pemberdayaan Perempuan, dan Perlindungan Anak (P2KBP3A) Kota Tidore Kepulauan menunjukkan, kasus persetubuhan terhadap anak menjadi yang tertinggi, yakni 14 kasus, dengan 11 kasus telah diselesaikan dan 3 kasus masih dalam proses hukum.

Baca juga: 4 Zodiak Ini Alami Kelimpahan dan Keberuntungan yang Abadi pada Senin 26 Januari 2026

Selain itu, terdapat 9 kasus pencabulan anak, yang mana 6 kasus masih berproses dan 3 lainnya telah selesai. Sementara kekerasan terhadap anak tercatat sebanyak 12 kasus dan seluruhnya telah ditangani hingga tuntas.

Kasus anak berhadapan dengan hukum (ABH) juga cukup tinggi, mencapai 15 kasus, dan seluruhnya telah diselesaikan.

Tak hanya anak, kasus kekerasan terhadap orang dewasa juga terjadi. Penganiayaan dewasa tercatat 5 kasus, kekerasan dalam rumah tangga (KDRT) sebanyak 2 kasus, serta kekerasan psikis terhadap orang dewasa berjumlah 2 kasus, yang semuanya telah diselesaikan.

Sementara pencabulan dewasa mencapai 3 kasus 1 masih proses, 2 selesai, pelecehan seksual 1 kasus, persetubuhan dewasa 1 kasus, dan pemerkosaan 1 kasus, yang seluruhnya telah ditangani.

Kepala Dinas P2KBP3A Kota Tidore Kepulauan, M. Hasbi Marsaoly, mengatakan Kecamatan Tidore menjadi wilayah dengan kasus tertinggi, mencapai 25 kasus, disusul Tidore Timur sekitar 15 kasus, Tidore Selatan 10 kasus, sementara Oba Selatan dengan jumlah kasus paling rendah.

Menurut Hasbi, tingginya angka kekerasan tersebut dipicu oleh faktor ekonomi, rendahnya pemahaman agama, serta kurangnya intensitas komunikasi dalam keluarga.

“Ini faktor-faktor mendasar yang harus ditangani secara bersama, bukan hanya oleh pemerintah, tetapi juga keluarga dan lingkungan,” ujarnya, Senin (26/1/2026).

Sebagai langkah mitigasi, kata Hasbi, pihaknya melakukan pendampingan psikologis, konseling rutin, pendampingan hukum dan medis, serta mediasi keluarga bagi korban.

Baca juga: 5 Shio Paling Beruntung Besok Selasa 27 Januari 2026, Hoki Finansial dan Sukses

Ia menuturkan, P2KBP3S juga menggandeng Pusat Pembelajaran Keluarga (Puspaga) serta aparat penegak hukum (APH) untuk memastikan perlindungan korban dan penegakan hukum berjalan seimbang.

Untuk menekan angka kekerasan terhadap perempuan dan anak, Wali Kota Tidore Kepulauan Muhammad Sinen telah menerbitkan surat edaran yang ditujukan kepada tiga instansi strategis, yakni Kepala Kementerian Agama Kota Tidore Kepulauan, seluruh kepala desa dan lurah, serta Dinas Pendidikan Kota Tidore Kepulauan.

Surat edaran tersebut menekankan penguatan peran institusi keagamaan, pemerintahan desa/kelurahan, dan satuan pendidikan dalam upaya pencegahan kekerasan terhadap perempuan dan anak, mulai dari edukasi nilai moral, pengawasan lingkungan, hingga penguatan komunikasi di keluarga dan sekolah. (*)

Sumber: Tribun Ternate
Ikuti kami di

Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved