Opini
Rolemodel Hikmah Puasa Ramadan
Puasa Ramadan adalah ibadah ritual spiritual yang komprehensif dan sarat makna. Sebagaimana firman Allah, puasa diwajibkan bagi umat Islam
Kadri Laetje
Asisten I Gubernur Maluku Utara
Puasa Ramadan adalah ibadah ritual spiritual yang komprehensif dan sarat makna. Sebagaimana firman Allah, puasa diwajibkan bagi umat Islam yang beriman dalam ketetapan rukun, sebagaimana juga diwajibkan kepada kaum terdahulu.
Pertanyaan awal penulis: apa hikmah puasa yang kita jalankan setiap tahun?
Jawaban konvensional tentu berkisar pada pemahaman bahwa Puasa Ramadhan membentuk ketakwaan, meraih pahala surga, rahmat, magfirah, ampunan, kesabaran, keikhlasan, kesehatan jasmani dan rohani, serta menekan nafsu. Itulah role model hikmah yang setiap tahun kita impikan.
Namun, tidak adakah model impian lain yang harus kita dapat dari hikmah Puasa Ramadan untuk diimplementasikan pada dekade peradaban modern, peradaban teknologi saat ini?
Setelah Puasa Ramadan, kita sering kali hanya menjadi penonton dan pengguna di tengah moderasi teknologi kaum Atheis, kaum China, dan kaum Barat yang berkemajuan serta menyumbangkan teknologi untuk kehidupan umat manusia dengan moto mereka: One Planet, One Humanity, One Love.
Paradigma cara pandang kemanusiaan mereka telah berubah. Sehingga Tuhan kita yang sama, Tuhanmu, Tuhanku, Tuhan kita semua umat manusia, melimpahkan atmosfer ilmu pengetahuan kepada mereka yang berkembang. Saat ini mereka menguasai teknologi dan telah berupaya hijrah ke Planet Mars.
Padahal 1500 tahun silam, Alquran adalah sumber inspirasi ilmu pengetahuan kita. Namun kita tidak menjadikannya sebagai sumber inspirasi keilmuan untuk peradaban teknologi kebutuhan umat manusia. Kita hanya mengambil sepotong ayat-ayat untuk memuluskan ambisi politik. Kita hanya menggunakan Alquran untuk mata lomba STQ dan MTQ, padahal seharusnya lebih jauh dari itu, Alquran dikaji sebagai sumber segala pengetahuan.
Sejarah panjang politik kekhalifahan Islam banyak yang gagal dan berakhir dengan penaklukan sesama kaum muslimin, baik di era Khulafaur Rasyidin, Muawiyah, Fatimiyah, Abbasiyah maupun Utsmaniyah, karena ambisi politik dan monarki kekuasaan.
Kita lupa pada kejayaan Islam di era pertengahan yang jaya dengan sains dan peradaban ilmu pengetahuan. Ilmuwan Islam seperti Umar Khayam, Al-Khawarizmi, Al-Kindi, Al-Farabi, Abu al-Wafa, Ibnu Sina, Al-Buni, dan Yusuf Al-Battani telah meletakkan dasar dan menyumbang bagi peradaban modern yang kemudian dipelopori pada abad ke-15 oleh Rene Descartes, Leonardo da Vinci, Galileo Galilei dan lainnya.
Kita kini harus bersikap meninggalkan ambisi politik dan kembali kepada ambisi sains dan ilmu pengetahuan. Hafal dan analisis Alquran, juga hafal dan analisis ilmu matematika, kimia, fisika, dan biologi untuk umat manusia. Sehingga kita juga dapat ambil bagian dalam moto One Planet, One Humanity, One Love.
Pertanyaan terakhir penulis: apa hikmah Puasa Ramadhan di era peradaban teknologi, era 5.0, era IA?
Jawabannya, kita masih berada pada puasa rutin ritual, dan setelah puasa kita hanya menjadi user teknologi dan sibuk tukar tambah teknologi di dealer dan counter.
Idealnya, hikmah puasa membuka pikiran kita untuk melahirkan peradaban teknologi, pertahanan alutsista, dan ketahanan pangan umat manusia di segala dimensi: pendidikan, kesehatan, pendapatan, pertanian, perikanan, transportasi, informasi dan komunikasi.
Kita melupakan peradaban ilmu pengetahuan yang menjadi budaya generasi tengah yang ditinggalkan ilmuwan Islam di abad pertengahan.
Puasa Ramadhan di abad modern saat ini makna dan hikmahnya adalah membentuk generasi Islam yang siap berpuasa dari keramaian gemerlap kota, puasa dari pesta dan kesenangan, puasa dari tour keliling, puasa arisan dan berkumpul berfoya-foya.
Wujud hikmah puasa di era modern adalah:
Pertama, masuk ke berbagai perpustakaan konvensional dan modern, membaca dan menganalisis ilmu pengetahuan, baik literasi konvensional maupun literasi digital, dari berbagai bahasa. Berdiam diri dan membaca berbulan-bulan, bertahun-tahun hingga kaya referensi, lalu keluar mengembangkan.
Kedua, masuk ke laboratorium berbulan-bulan, bertahun-tahun, menekuni riset dan eksperimen di segala dimensi untuk mewujudkan teknologi informasi dan komunikasi, kedokteran, pertanian, perikanan, transportasi, hingga astronautika.
Dua hal ini yang harus dilahirkan pada generasi Islam kini agar dapat ambil bagian dalam peradaban teknologi saat ini. Dua kunci ini harus menjadi role model generasi Islam dalam memaknai hikmah puasa: berpuasa dari keramaian kota dan masuk ke perpustakaan serta laboratorium, untuk dipersiapkan berkompetisi kelak dari bumi hingga luar angkasa.
Firman dan hadis yang dibawa Baginda tercinta Muhammad SAW mengajarkan bahwa untuk mendapatkan dunia dan akhirat hanya dengan ilmu pengetahuan. Untuk menembus luar angkasa pun hanya dengan ilmu pengetahuan.
| Menghidupkan Kembali 'Agent of Change' yang Mati di Layar Gadget |
|
|---|
| Perahu Saruma: Menuju Senyum Halmahera Selatan Berkelanjutan |
|
|---|
| Pancasila dan Masa Depan SDM Indonesia: Sebuah Agenda yang Terlupakan |
|
|---|
| Kasus Chromebook Rp 9,9 Triliun: Ketika Fakta Sidang Berhadapan dengan Drama Media Sosial |
|
|---|
| Tubuh Perempuan Bukan Wilayah Bebas |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/ternate/foto/bank/originals/Opini-Kadri-Laetje.jpg)