Murid Dilarang Bermedsos, Mahasiswa Cari Pacar Kutu Buku dan Tinggalkan Smartphone
Temuan tersebut diperoleh dalam rangkaian kegiatan Australia-Indonesia Senior Editors Program yang difasilitasi Kedutaan Besar Australia
TRIBUNTERNATE.COM - Murid-murid sekolah dasar di Australia mengaku belum mengenal media sosial dan belum pernah memiliki akun. Mereka memahami bahwa undang-undang di negara tersebut membatasi usia pengguna media sosial minimal 16 tahun.
Sementara itu, di kalangan mahasiswa dan generasi muda Australia muncul tren baru untuk menjaga kesehatan mental dengan mengurangi ketergantungan terhadap smartphone. Sebagian bahkan beralih menggunakan ponsel jadul atau dumbphone dan lebih gemar membaca buku cetak.
Temuan tersebut diperoleh dalam rangkaian kegiatan Australia-Indonesia Senior Editors Program yang difasilitasi Kedutaan Besar Australia untuk Indonesia.
Baca juga: Penduduk Majemuk, Biaya Terjangkau dan Kampus Kualitas Dunia, Tempat Favorit untuk Kuliah
Pada suatu pagi yang cerah dengan suhu sekitar 12 derajat Celsius di Perth, Australia Barat, delegasi wartawan Indonesia mengunjungi Bertram Primary School, sekolah dasar negeri yang mendidik siswa mulai taman kanak-kanak hingga kelas enam.
Sekolah yang terletak di pinggiran Kota Bertram, sekitar 30 menit dari Perth itu memiliki nuansa Indonesia yang cukup kuat.
Di ruang kelas terlihat berbagai atribut budaya Indonesia seperti wayang, miniatur becak, angklung, peta Indonesia, hingga berbagai tulisan sederhana dalam Bahasa Indonesia seperti "Halo Pak, Bu", "Siapa nama kamu?", hingga nama-nama hari dan unsur alam.
Sekolah tersebut juga menjalin kemitraan dengan SD Negeri 023 Pajagalan Kota Bandung, Jawa Barat, melalui program sahabat pena.
Dalam sesi perkenalan, para murid mempraktikkan percakapan menggunakan Bahasa Indonesia. Sebagian mengaku pernah berlibur ke Bali dan menggunakan Bahasa Indonesia saat berinteraksi dengan masyarakat setempat.
Austin, siswa kelas enam, mengaku sering mengucapkan "terima kasih" kepada pelayan restoran atau hotel saat berlibur di Bali. Sementara Mia, siswa kelas lima, mengatakan dirinya senang mempelajari budaya dan bahasa Indonesia serta gemar bermain sepak takraw.
Murid SD Tidak Kenal Media Sosial
Saat sesi tanya jawab dengan wartawan Indonesia, Austin mengungkapkan bahwa dirinya dan teman-teman sekolah dasar lainnya belum memiliki akun media sosial.
Menurutnya, hal tersebut karena aturan di Australia yang membatasi usia pengguna media sosial minimal 16 tahun.
Guru Bahasa Indonesia di Bertram Primary School, Vincent Sweetman, membenarkan hal tersebut.
Sweetman yang pernah mengajar di sekolah internasional di Jakarta dan kini menikah dengan perempuan asal Bandung mengatakan seluruh murid sekolah dasar memang dilarang menggunakan media sosial.
"Murid-murid SD Bertram memang dilarang bermedia sosial. Sebab konstitusi tidak membolehkan anak usia di bawah 16 tahun mengakses platform media sosial," ujarnya.
Australia menerapkan Online Safety Amendment (Social Media Minimum Age) Act 2024, yang merupakan amandemen terhadap Undang-Undang Keamanan Daring 2021.
Aturan tersebut melarang anak di bawah usia 16 tahun membuat atau memiliki akun media sosial.
Tanggung jawab pengawasan juga dibebankan kepada perusahaan teknologi dan platform media sosial seperti Instagram, TikTok, Facebook, dan X.
Platform yang gagal mematuhi aturan tersebut dapat dikenakan sanksi hingga 49,5 juta dolar Australia atau sekitar Rp613 miliar.
Konsul Informasi, Sosial, dan Budaya pada Konsulat Jenderal Republik Indonesia di Perth, Antonius Prawira Yudhianto, mengatakan pembelajaran bahasa asing di Australia cukup berkembang.
Menurutnya, terdapat sekitar 30 ribu siswa sekolah dasar di Australia yang mempelajari Bahasa Indonesia.
"Mereka menganggap perlu karena dekat dengan Bali, dan Indonesia adalah negara sahabat yang dekat. Jadi selain belajar Bahasa Inggris, siswa juga belajar bahasa negara asing lainnya, misalnya Bahasa Italia atau Bahasa Indonesia," kata Antonius.
Mahasiswa Mulai Tinggalkan Smartphone
Fenomena menarik lainnya terjadi di kalangan mahasiswa dan generasi muda Australia.
Dosen Department of Politics, Media and Philosophy Universitas La Trobe, Melbourne, Dr Nasya Bahfen, mengatakan saat ini mulai muncul tren meninggalkan ketergantungan terhadap smartphone dan media sosial.
Menurutnya, mahasiswa kini lebih senang membaca buku dibanding terus-menerus memegang ponsel.
"Mahasiswa saya sekarang lebih senang membaca buku daripada memegang ponsel. Bahkan ada semacam prinsip bagi anak muda, mencari pacar yang kutu buku daripada yang ketagihan ponsel," kata Bahfen.
Perempuan kelahiran Singapura yang pernah tinggal di Jakarta itu menjelaskan bahwa dalam lima tahun terakhir mulai berkembang gerakan menggunakan dumbphone, yaitu telepon genggam sederhana yang tidak terhubung internet dan hanya digunakan untuk menelepon atau mengirim pesan singkat.
Fenomena tersebut muncul sebagai bentuk kesadaran terhadap dampak kecanduan smartphone yang dapat memicu kelelahan kognitif, kecemasan, gangguan kesehatan mental, hingga hilangnya batas antara kehidupan pribadi dan pekerjaan.
Bahfen menyebut generasi muda kini memasuki era BookTok, sebuah fenomena yang berkembang sejak pandemi Covid-19.
Fenomena BookTok dan Kebangkitan Buku Fisik
BookTok merupakan komunitas pecinta buku di TikTok yang membagikan ulasan, rekomendasi, hingga reaksi emosional terhadap buku yang mereka baca.
Fenomena ini mulai berkembang di Australia sejak masa lockdown Covid-19 pada 2020.
Saat itu banyak remaja dan dewasa muda menghabiskan waktu di rumah sehingga TikTok menjadi sarana untuk menemukan komunitas pembaca.
Memasuki 2021, toko-toko buku mulai menyadari adanya lonjakan permintaan terhadap buku-buku tertentu yang direkomendasikan para kreator BookTok.
Penjual buku Dymocks, Josh Hortinela, mengatakan tren BookTok sangat memengaruhi minat pembeli.
"Anda dapat melihat tren muncul di BookTok, dan itu memengaruhi orang-orang yang bertanya tentangnya di toko. Dulu orang datang dan meminta rekomendasi untuk romansa paranormal, tetapi sekarang mereka meminta trope. Mereka akan berkata, saya mencari trope 'hanya satu tempat tidur', atau buku 'musuh-menjadi-kekasih'. Itu pasti ada hubungannya dengan bagaimana buku dipasarkan di TikTok," ujarnya.
Eksekutif pemasaran HarperCollins Australia, Caitlin Toohey, juga mengakui fenomena tersebut telah mengubah pola pemasaran buku.
Puncak BookTok di Australia terjadi pada 2022 hingga 2023.
Pada periode itu, toko buku besar seperti Dymocks, QBD Books, dan Readings memasang rak khusus bertuliskan "As Seen on BookTok" atau "Trending on TikTok".
Novel It Ends with Us karya Colleen Hoover bahkan bertahan berbulan-bulan dalam daftar buku terlaris di Australia.
Fenomena tersebut turut mendorong pertumbuhan industri buku fisik yang sebelumnya diprediksi akan ditinggalkan generasi muda akibat perkembangan teknologi digital.
Data Nielsen Bookscan menunjukkan penjualan novel romantis di Australia tumbuh rata-rata 49 persen dalam tiga tahun terakhir.
Kini toko buku besar menyediakan rak khusus novel romantis, sementara berbagai acara peluncuran dan penandatanganan buku ramai dihadiri pembaca muda.
Fenomena BookTok pun menjadi bukti bahwa di tengah derasnya arus digitalisasi, buku fisik masih memiliki tempat yang kuat di kalangan generasi muda Australia.
(Tribunetwork.com/domu d ambarita)
| Penduduk Majemuk, Biaya Terjangkau dan Kampus Kualitas Dunia, Tempat Favorit untuk Kuliah |
|
|---|
| Waspada Pemerasan Sindikat Penipu, Modus Mengaku Wartawan Tribun Tipu Warga di Ternate |
|
|---|
| MoU dengan V-Green, Tribun Network Jadi Lokasi Pemasangan Charging Station VinFast di Indonesia |
|
|---|
| Perkuat SDM, Dubes Austria Jajaki Kerja Sama Pendidikan Vokasi di Malut |
|
|---|
| Indonesia-Australia Perkuat Kerja Sama Keamanan |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/ternate/foto/bank/originals/Foto-bareng-murid-Bertram-Primary-School.jpg)