Senin, 20 April 2026
Halmahera Timur
Halmahera Timur Berbenah Menuju Transformasi Kemajuan

Virus Corona

Demi Kebutuhan Hidup, PSK Thailand Terpaksa Ambil Risiko Saat Lockdown

Lockdown yang diterapkan di Thailand membuat keramaian menghilang, dan Pekerja Seks Komersial ( PSK) terpaksa ambil risiko demi penuhi kebutuhan hidup

Editor: Sansul Sardi
net/google via Tribunnews.com
Ilustrasi 

TRIBUNTERNATE.COM - Dampak wabah virus corona atau Covid-19 di berbagai belahan dunia tak dapat dipungkiri sangat berpengaruh dengan di bidang ekonomi.

Utamanya hal ini sangat dirasakan oleh masyarkat kelas menengah ke bawah, salah satunya di Negeri Gajah Putih.

Seperti diketahui, lockdown yang diterapkan di Thailand membuat keramaian menghilang, dan Pekerja Seks Komersial ( PSK) terpaksa ambil risiko demi penuhi kebutuhan hidup.

Pim contohnya, PSK yang ditemui AFP ini ketakutan karena sangat butuh pelanggan untuk membayar sewa tempat tinggalnya.

Distrik lampu merah dari Bangkok ke Pattaya menjadi sepi, dengan kelab malam dan panti pijat ditutup dan turis dilarang masuk.

Situasi ini menyebabkan sekitar 300.000 PSK kehilangan pekerjaan, membuat mereka "turun" ke jalan yang berisiko tertular virus corona.

"Aku takut tertular tapi aku perlu mencari pelanggan untuk membayar sewa kamar dan membeli makanan," kata Pim (32) seorang PSK transgender.

Di Bangkok yang sebelumnya dihiasi gemerlap lampu neon, kini senyap dengan bar dan rumah bordil sudah tutup.

Dampak Corona, PHK Hantui Industri Otomotif AS: Boeing Tawarkan Program PHK kepada 161 Ribu Karyawan

Ketika Iwan Fals Khawatir Napi Korupsi Ikut Dibebaskan demi Cegah Covid-19

Sejak Jumat (3/4/2020) Thailand menerapkan jam malam dari pukul 22.00 sampai 4.00 pagi keesokan harinya.

Bar dan restoran sudah tutup beberapa hari sebelumnya.

Biasanya banyak PSK Bangkok bekerja di bar, mendapat tip lalu pulang dengan pelangganya.

Ketika tempat kerja mereka tiba-tiba ditutup, sebagian besar kembali ke rumah sembari menanti wabah virus corona usai.

Sementara itu yang lainnya seperti Pim turun ke jalanan mencari pelanggan.

Pim turun ke jalan dengan risiko tinggi karena melanggar aturan jam malam.

Dia menuturkan belum punya pelanggan selama 10 hari dan tagihannya menumpuk.

Temannya yang bernama Alice PSK transgender lain, juga angkat kaki dari bar menuju pinggir jalan.

"Aku dulu menghasilkan uang yang cukup, kadang-kadang 300-600 dollar AS seminggu (sekitar Rp 5 juta sampai 9,8 juta) seminggu," kata Alice.

"Tetapi ketika bisnis ditutup, penghasilanku berhenti juga."

"Kami melakukan ini karena kami miskin. Jika kami tidak dapat membayar hotel, mereka akan mengusir kami," imbuh Alice.

Positif Corona Setelah Dimakamkan, Pejabat yang Berkontak dengan Bupati Morowali Utara Diminta Lapor

Fakta-fakta Keluarga Pasien PDP Covid-19 di Makassar yang Ngamuk Ingin Kebumikan Sendiri Almarhum

Berisiko tinggi

Risiko yang sudah tinggi dari bekerja sebagai PSK kini bertambah dengan risiko dari virus corona.

Para PSK Thailand banyak yang pulang ke rumah beberapa minggu sebelum pemerintah memberlakukan penguncian.

Ada kekhawatiran krisis berlangsung selama berbulan-bulan, membuat kerugian miliaran dollar AS dari sektor ekonomi dan membuat para pekerja di sektor informal melarat.

Mereka termasuk PSK, yang ilegal tapi diterima secara luas di kehidupan malam Negeri "Gajah Putih".

Ada kekhawatiran skema darurat pemerintah Thailand untuk memberikan 5.000 baht (sekitar Rp 2,5 juta) ke jutaan pengangguran baru selama 3 bulan ke depan, akan mengecualikan PSK.

Sebab, mereka tidak masuk dalam kategori pekerja formal.

The Empower Foundation sebuah kelompok advokasi untuk PSK di Thailand mengatakan, tempat-tempat hiburan menghasilkan sekitar 6,4 miliar dollar AS (sekitar Rp 104,8 triliun) setahun, yang banyak di antaranya menjajakan seks dalam berbagai bentuk.

Wanita menjadi yang paling menderita dari wabah virus corona ini, katanya.

Banyak dari mereka adalah ibu dan pencari nafkah utama keluarga.

Mereka dipaksa jadi PSK karena kurangnya kesempatan kerja atau gaji lulusan rendah.

Kelompok tersebut telah menulis surat terbuka pada pemerintah, mendesak untuk "menemukan cara memberi bantuan ke semua pekerja yang kehilangan penghasilan mereka."

"Menurutku pemerintah sangat lambat. Mereka tidak peduli dengan orang-orang seperti kami yang bekerja di industri seks," kata Alice.

"Kami lebih takut tidak bisa makan daripada (terkena) virus," pungkasnya. (Kompas.com/Aditya Jaya Iswara)

Artikel ini telah tayang di Kompas.com dengan judul "PSK Thailand Saat Lockdown, Terpaksa Ambil Risiko demi Kebutuhan Hidup"

Sumber: Kompas.com
Ikuti kami di

Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved