Tanah Longsor di Tambang Emas di Solok Selatan, Empat Orang Meninggal Dunia Tertimbun Longsoran
Tanah longsor terjadi di sebuah penambangan emas di Kabupaten Solok Selatan, Sumatera Barat (Sumbar), Senin (11/1/2021).
TRIBUNTERNATE.COM - Tanah longsor terjadi di sebuah penambangan emas di Kabupaten Solok Selatan, Sumatera Barat (Sumbar), Senin (11/1/2021).
Dalam musibah tersebut, empat orang meninggal dunia tertimbun longsoran.
Sebelumnya, korban bersama rekan-rekannya melakukan aktivitas penambangan, Senin (11/1/2021) sekitar pukul 20.00 WIB lalu di Timbahan Jorong Kapalo koto, Nagari Abai, Kecamatan Sangir Batang Hari, Kabupaten Solok Selatan, Sumbar.
Camat Batang Hari, Gurnahadi saat dihubungi TribunPadang.com mengatakan korban terakhir sudah ditemukan.
"Korban sudah ditemukan semuanya, yaitu totalnya ada sembilan orang. Sebanyak empat orang ditemukan dalam keadaan meninggal dunia dan ada lima orang berhasil selamat," kata Gusnahadi, Rabu (13/1/2021).
Sebelumnya, korban yang ditemukan sebanyak tujuh orang, yakni dua orang meninggal dunia dan lima orang lainnya selamat.
Dari lima orang yang selamat, empat orang di antaranya mengalami luka-luka dan mengalami patah tulang.
Yang benar-benar selamat dari kejadian tersebut hanya satu orang.
"Korban terakhir ditemukan tadi (Rabu 13/1/2021 sore-red) sekitar pukul 17.00 WIB, dan sampai saat ini pukul 21.20 WIB masih di Puskesmas Abai," kata Gurnahadi.
Korban berasal dari Provinsi Jawa Tengah dan akan dibawa ke Kabupaten Dharmasraya, Sumbar.
Baca juga: Black Box Sriwijaya Air SJ182 Ditemukan, Penyelam: Terendam Lumpur, Ditemukan di Kedalaman 18 Meter
Baca juga: Kisah Dokter Abdul Muthalib Memvaksin Covid-19 Joko Widodo: Mengaku Gugup hingga Tangan Gemetar
"Saat ini kondisi cuaca sedang turun hujan, dan longsor itu juga disebabkan oleh hujan," kata Gurnahadi.
Lokasi penambangan tersebut jauh dari pemukiman masyarakat.
"Lokasi tambang cukup jauh, kalau jalan kaki ada sekitar 4,5 jam perjalanan. Karena tidak bisa menggunakan kendaraan," kata Gurnahadi.
Dia mengaku pernah menempuh lokasi dengan melakukan perjalanan dan selama 15 menit baru melewati 1 kilometer perjalanan.
"Lokasinya itu di hutan belantara, proses evaksuai ditembak menggunakan dompeng dan dibantu menggali menggunakan alat tradisional," kata Gurnahadi.