Banjir di Kalimantan Selatan
Banjir Besar di Kalimantan Selatan, KLHK Sebut Kerusakan Hutan Bukan Penyebab Tunggalnya
“Sekali lagi bahwa ini (banjir) terjadi di alur DAS Barito khususnya wilayah Kalsel, juga akibat dari cuaca yang ekstrem,” kata Karliansyah.
TRIBUNTERNATE.COM - Wilayah Provinsi Kalimantan Selatan (Kalsel) dilanda banjir besar pada awal tahun 2021 ini.
Data terakhir yang dihimpun Badan Nasional Penanggulangan Bencana RI (BNPB) pada 17 Januari 2021 menunjukkan, sebanyak 10 kabupaten/kota terdampak banjir di Provinsi Kalimantan Selatan.
Antara lain, Kabupaten Tapin, Kabupaten Banjar, Kota Banjar Baru, Kota Tanah Laut, Kota Banjarmasin, Kabupaten Hulu Sungai Tengah, Kabupaten Balangan, Kabupaten Tabalong, Kabupataen Hulu Sungai Selatan, dan Kabupaten Batola.
Tercatat pula sebanyak 24.379 rumah terendam banjir dan 39.549 warga mengungsi.
Sementara itu, Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) membantah bahwa kerusakan hutan menjadi penyebab tunggal banjir besar yang terjadi di Kalimantan Selatan.
Namun, ada sejumlah faktor lain yang mengikutinya.
Direktur Jenderal Pengendalian Pencemaran dan Kerusakan Lingkungan (Dirjen PPKL) KLHK, Karliansyah mengatakan lokasi banjir terjadi di sepanjang daerah aliran sungai (DAS) yang menjadi sub-DAS Barito.
Lokasi tersebut dijelaskannya saat ini tengah mengalami persoalan anomali cuaca dengan curah hujan yang sangat tinggi.
“Sekali lagi bahwa ini (banjir) terjadi di alur DAS Barito khususnya wilayah Kalsel, juga akibat dari cuaca yang ekstrem,” kata Karliansyah pada konferensi pers virtual terkait banjir Kalimantan Selatan, Selasa (19/1/2021).
Baca juga: Toyota Land Cruiser 200 Mobil Dinas Jokowi Terjang Banjir di Kalimantan Selatan, Ini Spesifikasinya
Baca juga: Video Mobil Dinas Jokowi Terobos Banjir di Kalsel, Ini Jenis Mobil yang Digunakan Presiden
Baca juga: Jokowi: Banjir di Kalimantan Selatan Ini Adalah Banjir Paling Besar dalam 50 Tahun Terakhir
Berdasarkan data curah hujan dari BMKG yang diterima KLHK, curah hujan yang terjadi di Kalimantan Selatan pada Sabtu hingga Rabu, 9-13 Januari 2021 tercatat sebesar 461 mm selama lima hari.
Padahal, normalnya curah hujan bulanan pada bulan Januari 2020 sebesar 394 mm.
Angka curah hujan dalam periode lima hari itu meningkat dari curah hujan di tahun sebelumnya.
“Dengan demikian maka volume air yang masuk ke sungai luar biasa, 2,08 miliar meter kubik. Padahal normalnya hanya 238 juta meter kubik,” katanya
Dirjen PPKL KLHK itu juga menjelaskan bahwa lokasi banjir itu saat ini memiliki kondisi infrastruktur ekologisnya atau jasa lingkungan pengaturan air yang sudah tidak memadai, sehingga tidak mampu lagi menampung aliran air masuk.
Sistem drainase juga tidak mampu mengalirkan air dengan volume yang besar.