Kebakaran Kilang Minyak Balongan
Kebakaran Kilang Minyak Pertamina Balongan, Pakar ITB: Terlalu Pagi Jika BMKG Sebut Tak Ada Petir
"Jadi masih terlalu pagi kalau BMKG mengatakan petir tidak terjadi di daerah sekitar Balongan pada saat kebakaran tangki Pertamina,”
TRIBUNTERNATE.COM - Kepala Pusat Penelitian Petir, Lightning Research Center (LRC), Sekolah Teknik Elektro & Informatika (STEI)- Institut Teknologi Bandung (ITB) Profesor Reynaldo Zoro, menyampaikan tanggapan mengenai petir yang meenyebabkan kebakaran kilang minyak Balongan Pertamina.
Diketahui, Direktur Logistik dan Infrastruktur Pertamina Mulyono mengatakan, sebanyak ratusan ribu barel minyak di Refinery Unit (RU) VI Balongan di Indramayu Jawa Barat ludes akibat terbakarnya tangki pada Senin (29/3/2021) dini hari.
Sementara, menurut Zoro, lightning detector milik Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) dinilai kurang akurat untuk melakukan evaluasi detail.
“Peralatan yang dipakai BMKG bukan untuk evaluasi detail. Lebih banyak ke arah cuaca. Jadi masih terlalu pagi kalau BMKG mengatakan petir tidak terjadi di daerah sekitar Balongan pada saat kebakaran tangki Pertamina,” kata Zoro, dalam pernyataannya kepada media hari ini, Jumat (2/4/2021).
Menurut Zoro, terdapat dua hal penting untuk melakukan evaluasi mengenai lightning detection system.
Pertama adalah local accuration, kedua adalah detection efficiency.
Zoro menilai, bahwa peralatan BMKG tidak bisa untuk kedua hal tersebut.
Baca juga: Kisah Teja Saat Kilang Minyak Balongan Terbakar, Selamatkan Diri dan Anaknya Meski Kondisi Lumpuh
Baca juga: Pengobatan dan Perbaikan Bangunan Akibat Ledakan Kilang Minyak Balongan Dijamin Pemkab dan Pertamina
Baca juga: Kebakaran Kilang Minyak Pertamina Balongan, Pengamat: Nilai Tukar Rupiah Bisa Ikut Terbakar
“Makanya kalau mau evaluasi, kita harus menggunakan data yang baik dan alat yang canggih. Kalau peralatan BMKG itu agak berbeda,” lanjut Zoro.
Zoro kemudian membandingkan data-data lain yang justru berbeda dibandingkan data BMKG.
Termasuk data satelit Himawari yang dikenal sangat akurat.
Berbagai data menyebut, bahwa di sekitar Balongan sekitar pukul 00.00-03.00 WIB, terjadi pergerakan badai petir.
“Bahkan menurut pengamatan Himawari, dari sore sampai pukul 05.00 pagi. Dan konsentrasi petir tertinggi justru berada pada waktu yang diklaim BMKG,” lanjutnya.
Sedangkan hasil monitoring lighting detector BMKG, kerapatan petir sekitar pukul 00.00- 02.00 WIB, justru berkumpul pada bagian barat kilang minyak Balongan atau sejauh kurang lebih 77 kilometer.
“Makanya tanya masyarakat lokal, apakah pada saat kebakaran mereka mendengar petir atau tidak? Jika berjarak 77 kilometer tentu tidak terdengar,” kata Zoro.
Ihwal kurangnya akurasi lightning detector milik BMKG, juga pernah terjadi beberapa kali.
Pada 21 Juli 2020, misalnya, ketika terjadi sambaran petir di Tower 18 PT Inalum, dekat Danau Toba.