Jumat, 5 Juni 2026
Halmahera Timur
Halmahera Timur Berbenah Menuju Transformasi Kemajuan

Israel Miliki Perisai Udara yang Bisa Menangkis Serangan Roket, Begini Cara Kerjanya

Dalam hal pertahanan serangan rudal, Israel mengandalkan sistem pertahanan serangan udara yang disebut Iron Dome alias Kubah Besi.

Tayang:
ANAS BABA/AFP
Ilustrasi - Foto: Asap mengepul setelah serangan udara Israel di Kota Gaza dekat Taman Barcelona dan beberapa tempat pemerintahan, salah satu serangan udara terbesar di Jalur Gaza, pada awal 12 Mei 2021. 

TRIBUNTERNATE.COM - Beberapa waktu belakangan, ketegangan di antara Israel dan Palestina kian memanas.

Diketahui, Palestina telah menembakkan serangkaian roket terhadap Israel pada Selasa (11/5/2021).

Ini merupakan balasan Palestina karena Israel tidak juga menyurutkan serangannya terhadap Palestina.

Di saat bersamaan, militer Israel juga terus melancarkan serangan udara ke Gaza hingga Selasa (11/5/2021) dini hari.

Saling balas serangan roket menjadi hal yang paling sering terjadi di wilayah ini.

Namun, Israel sendiri sepertinya cukup percaya diri dengan sistem pertahanan udara milik negaranya.

Dalam hal pertahanan serangan rudal ini, Israel mengandalkan sistem pertahanan serangan udara yang disebut Iron Dome alias Kubah Besi.

Alat ini bukan berbentuk selayaknya wujud kubah, bahkan tidak terlihat wujud kubah pada umumnya.

Istilah ini dipakai untuk menggambarkan sistem pertahanan udara yang benar-benar melindungi seluruh wilayah Israel seperti halnya kubah.

Baca juga: Studi di Israel Menemukan Virus Corona Varian B.1.351 Dapat Terobos Perlindungan Vaksin Pfizer

Baca juga: Presiden Palestina Batalkan Perayaan Idul Fitri dan Perintahkan Pengibaran Bendera Setengah Tiang

Sebagaimana dilansir dari NBCNews, sistem pertahanan rudal tersebut berfungsi sebagai penangkal rudal yang diluncurkan ke arah Israel.

Akun Twitter resmi militer Israel mengklaim bahwa sejauh ini alat tersebut telah berhasil melumpuhkan roket-roket yang diluncurkan ke wilayah mereka.

Adapun, Iron Dome sendiri merupakan kependekan dari Dual Mission Counter Rocket, Artillery and Mortar and Very Short Range Air Defense System.

Alat tersebut dikembangkan Rafael Advanced Defense System terhitung sejak tahun 2007 silam sejak ekskalasi konflik meningkat.

Menggunakan rudal bertenaga baterai, alat ini digadang-gadang sanggup melumpuhkan serangan roket udara.

Pasalnya, alat ini memiliki sensor sensitif yang mampu mengenali dan melumpuhkan ancaman roket jarak dekat dan jarak menengah.

Skema cara kerja Iron Dome alias Kubah Besi sebagai pencegat serangan rudal.
Skema cara kerja Iron Dome alias Kubah Besi sebagai pencegat serangan rudal. (VOA News via Tribun Jogja)

Setidaknya terdapat tiga bagian inti sistem pertahanan rudal yang dipasang secara portable.

Pertama, sistem radar yang terus mengawasi kawasan udara dengan jangkauan hingga radius 40 mil persegi.

Segala benda tak dikenal yang melewati kawasan tersebut akan ditangkap oleh peralatan yang dipasang di sebuah truk pengendali.

Di sini, semua informasi diolah, untuk menentukan apakah akan melakukan penangkalan ataupun sebaliknya.

Jika keputusan pencegatan diambil, maka data ini akan segera dikirimkan ke unit interceptor alias pencegat, yang akan meneruskan perintah untuk meluncurkan misil penangkal rudal yang sudah diprogram sedemikian rupa sehingga sanggup mengenali ancaman tersebut.

Mereka mengklaim bisa meluncurkan rudal penangkal serangan dalam jumlah yang banyak sekaligus untuk mengantisipasi serangan roket yang lebih besar.

Baca juga: Hasil Survei: Israel Dinobatkan Sebagai Negara Paling Aman saat Pandemi Covid-19

Baca juga: Tak Punya Hubungan Diplomatik, Arab Saudi Larang Warga Israel untuk Berkunjung

Tiap rudal yang diluncurkan Iron Dome, setidaknya menghabiskan anggaran sekitar USD 40 ribu.

Namun demikian, mereka menganggap bahwa harga yang mahal itu sebanding dengan efektifitas yang ditunjukkan sistem pertahanan rudal canggih ini.

Militer Israel bahkan mengklaim bahwa pihaknya berhasil melumpuhkan roket-roket yang diluncurkan Hamas.

Selain itu, sistem pertahanan rudal ini juga sanggup mengenali arah roket yang datang.

Jika mengarah ke wilayah padat penduduk, maka skema pencegatan segera dilakukan.

Lain halnya ketika roket mengarah pada wilayah yang tidak didiami penduduk, biasanya dibiarkan begitu saja lantaran tidak menimbulkan kerusakan dan korban.

Pengembangan sistem pertahanan rudal ini, tak terlepas dari peran serta Amerika Serikat.

Pada awal pengembangannya, pemerintahan AS yang saat itu masih dipimpin Barack Obama bahkan memberikan USD 200 juta untuk pengembangan sistem pertahanan rudal ini.

Artikel ini telah tayang di TribunJogja.com dengan judul "Inilah Cara Kerja Perisai Udara Israel, Sistem Penangkis Serangan Roket"

Sumber: Tribun Jogja
Ikuti kami di

Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved