Halmahera Timur
Halmahera Timur Berbenah Menuju Transformasi Kemajuan

Perubahan Iklim

Bencana Alam akibat Perubahan Iklim akan Jadi Tema Utama Laporan Sains PBB

Meningkatnya suhu udara, kebakaran hutan, dan kekeringan tak bisa dipungkiri merupakan dampak dari pemanasan global yang diakibatkan oleh manusia.

Twitter/Forest Service NW via disasterphilanthropy.org
ILUSTRASI - kebakaran hutan akibat perubahan iklim. 

TRIBUNTERNATE.COM - Di tengah pandemi virus corona Covid-19, dunia kini juga dihadapkan dengan ancaman dan dampak perubahan iklim.

Dengan adanya kekeringan dan banjir bandang di tiga benua, hampir 200 negara akan berkumpul pada Senin (26/7/2021) mendatang untuk memvalidasi laporan penting klimatologi Perserikatan Bangsa Bangsa (PBB), 100 hari menjelang pertemuan puncak politik yang bertujuan menjaga agar Bumi tetap layak huni.

Dunia kini sudah menjadi tempat yang berbeda dibandingkan pada tahun 2014 silam.

Ketika itu, Panel Antarpemerintah tentang Perubahan Iklim (Intergovernmental Panel on Climate Change/IPCC) PBB mengeluarkan penilaian komprehensif kelima tentang pemanasan global, pada masa lalu dan masa depan.

Temperatur udara yang memecahkan rekor tertinggi, kebakaran hutan, dan bencana alam kekeringan telah menghapus keraguan mengenai pemanasan global yang diakibatkan hampir seluruhnya oleh manusia.

Tiga peristiwa tersebut juga mematahkan anggapan yang menyebut dampak perubahan iklim masih akan terjadi jauh di masa depan.

ILUSTRASI - kebakaran hutan akibat perubahan iklim.
ILUSTRASI - kebakaran hutan akibat perubahan iklim. (Twitter/Forest Service NW via disasterphilanthropy.org)

Memang, sejumlah wilayah di dunia mengalami fenomena cuaca mematikan yang belum pernah terjadi sebelumnya di musim panas ini.

Misalnya, suhu udara yang tinggi menyerupai Death Valley terjadi di Kanada bagian barat, banjir bandang di seluruh Eropa Barat, hingga terjadinya hujan deras di China bagian tengah hingga mengakibatkan insiden penumpang gerbong kereta bawah tanah tenggelam.

Fenomena-fenomena ini dapat menjadikan tahun 2021 sebagai tahun di mana prediksi terburuk dari kondisi iklim dunia menjadi fakta yang mustahil untuk diabaikan, dikutip dari Channel News Asia.

Baca juga: Jokowi Penuh Senyum saat Ngobrol dengan Anak SD, Tiba-tiba Ada yang Curhat Bosan Sekolah di Rumah

Baca juga: Bantah Tudingan ICW Soal Keterlibatan Anaknya dalam Bisnis Obat Ivermectin, Moeldoko: Ngawur

Baca juga: Pandemi Covid-19 Membuat 1,5 Juta Anak di Dunia Kehilangan Orangtua atau Orang yang Mengasuhnya

Sementara itu, tonggak sejarah lain sejak buku besar IPCC terakhir adalah Perjanjian Paris (Paris Agreement).

Perjanjian itu menetapkan target kolektif dunia untuk menekan kenaikan suhu permukaan Bumi "di bawah" dua derajat Celcius di atas tingkat akhir suhu yang tercatat pada abad ke-19.

Polusi karbon dari pembakaran bahan bakar fosil, kebocoran metana, dan aktivitas pertanian telah menaikkan temperatur dunia sebesar 1,1 derajat Celcius sejauh ini.

Perjanjian tahun 2015 itu juga menetapkan tambahan batas aspirasional sebesar 1,5 derajat Celcius.

Namun, banyak pihak dalam pembahasan perjanjian tersebut berasumsi bahwa batas itu hanya sebatas aspirasi saja, dan dengan demikian mudah dikesampingkan.

"Tetapi kemudian negara-negara di dunia berbalik dan meminta IPCC untuk membuat laporan khusus tentang dampak perubahan iklim saat ini, dan itu benar-benar mengubah pemikiran tersebut," kata penulis utama sekaligus ahli paleoklimatologi IPCC, Peter Thorne dari Maynooth University di Irlandia, kepada AFP.

Halaman
123
Berita Terkait
Ikuti kami di
AA

Berita Terkini

© 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved