Minggu, 19 April 2026
Halmahera Timur
Halmahera Timur Berbenah Menuju Transformasi Kemajuan

Perubahan Iklim

Bencana Alam akibat Perubahan Iklim akan Jadi Tema Utama Laporan Sains PBB

Meningkatnya suhu udara, kebakaran hutan, dan kekeringan tak bisa dipungkiri merupakan dampak dari pemanasan global yang diakibatkan oleh manusia.

Twitter/Forest Service NW via disasterphilanthropy.org
ILUSTRASI - kebakaran hutan akibat perubahan iklim. 

Analisis tahun 2018 yang dihasilkan mengungkapkan betapa dahsyatnya dampak dari peningkatan temperatur global hanya sebesar setengah derajat Celsius.

Dan hari ini, 1,5 derajat Celcius adalah satu-satunya angka yang harus disepakati.

Bongkahan es terlihat pada saat ekspedisi The Greenpeace's Arctic Sunrise ship di Laut Arktik pada 14/19/2020. (Reuters/Natalie Thomas)
Bongkahan es terlihat pada saat ekspedisi The Greenpeace's Arctic Sunrise ship di Laut Arktik pada 14/19/2020. (Reuters/Natalie Thomas) (Reuters/Natalie Thomas)

MEREMEHKAN ANCAMAN

"Angka itu menjadi target de facto", dan bukti pengaruh IPCC dalam membentuk kebijakan global, kata Peter Thorne dalam wawancara Zoom.

Perubahan besar ketiga selama tujuh tahun terakhir adalah dalam sains itu sendiri.

"Hari ini kita memiliki model proyeksi iklim yang lebih baik, dan pengamatan yang lebih lama dengan sinyal perubahan iklim yang jauh lebih jelas," kata ahli iklim, Robert Vautard, yang juga menjadi penulis utama IPCC dan direktur Institut Pierre-Simon Laplace Prancis, kepada AFP.

Bisa dibilang terobosan terbesar saat ini adalah hal yang disebut studi atribusi.

Untuk pertama kalinya, studi itu memungkinkan para ilmuwan untuk dengan cepat mengukur sejauh mana perubahan iklim telah mendorong intensitas atau kemungkinan terjadinya peristiwa cuaca ekstrem.

Dalam beberapa hari, misalnya, dari "kubah panas (heat dome)" mematikan yang melanda Kanada dan AS bagian barat bulan lalu, konsorsium Atribusi Cuaca Dunia mengalkulasi bahwa gelombang panas hampir tidak mungkin terjadi tanpa meningkatnya suhu global akibat aktivitas manusia.

Namun, analisis pasca-fakta tidak sama dengan tinjauan ke masa depan.

Baca juga: WHO: Virus Corona Varian Delta akan Mendominasi Pandemi Covid-19 dalam Beberapa Bulan ke Depan

Baca juga: WHO Prediksi Lebih dari 100.000 Orang di Dunia akan Meninggal karena Covid-19 dalam 19 Hari ke Depan

Sementara, IPCC - yang dibentuk pada tahun 1988 untuk menginformasikan negosiasi iklim PBB - telah dikritik oleh beberapa pihak karena meremehkan bahaya, sebuah pola yang disebut oleh sejarawan sains Harvard Naomi Oreskes. "adanya bias di sisi yang memiliki paling sedikit drama/masalah (konservatisme saintifik)."

"Pertama, ada konservatisme umum sains - di mana dalam banyak hal itu hal yang baik," katanya kepada AFP.

"Akan tetapi, dalam pembahasan perubahan iklim, para ilmuwan harus menghadapi tekanan politik dan budaya yang sangat besar untuk tidak 'melebih-lebihkan' ancamannya," lanjut Peter Thorne.

IPCC, tambahnya, harus menghadapi campur tangan langsung dari pemerintah yang menjadi pihak tempat organisasi itu bekerja.

"Saya pikir ada sedikit keraguan bahwa efek tekanan dari luar, secara keseluruhan, telah menyebabkan pernyataan IPCC condong pada sisi 'kurang waspada' daripada 'lebih waspada'," kata Peter.

Halaman 2/3
Ikuti kami di

Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved