Kamis, 7 Mei 2026
Halmahera Timur
Halmahera Timur Berbenah Menuju Transformasi Kemajuan

Diludahi dan Ditarik Jilbabnya hingga Terluka, Seorang Muslimah jadi Korban Rasisme di Austria

Seorang wanita Muslim yang tinggal di ibu kota Austria, Wina, menjadi korban serangan rasisme karena menggunakan hijab.

Tayang:
Anadolu Agency
Korban penyerangan rasisme di Austria, Baraa Bolat - Seorang wanita Muslim yang tinggal di ibu kota Austria, Wina, menjadi korban serangan rasisme karena menggunakan hijab. 

TRIBUNTERNATE.COM - Seorang wanita Muslim yang tinggal di ibu kota Austria, Wina, menjadi korban serangan rasisme karena menggunakan hijab.

Korban yang bernama Baraa Bolat tersebut mengaku diserang secara fisik di dalam bus.

"Ini benar-benar mengecewakan bagi saya, saya tidak benar-benar tahu bagaimana harus bereaksi karena ini adalah pertama kalinya saya berada dalam situasi seperti itu," kata Bolat dalam sebuah wawancara seperti dikutip dari Anadolu Agency, Minggu (26/9/2021).

Bolat mengatakan bahwa serangan itu terjadi di dalam bus kota.

Ia mengaku diludahi, dan jilbabnya pun ditarik hingga jarum hijabnya melukai dagunya.

"Seorang wanita mendekat, dan menyuruh saya untuk kembali ke Turki dengan prasangka karena saya mengenakan jilbab, meskipun saya bukan dari Turki," kata Bolat.

Bolat mengatakan bahwa dia mengabaikan kalimat rasis wanita itu dan bergerak ke depan bus.

Namun, wanita yang menyerangnya tidak berhenti sampai di situ saja, ia melanjutkan dengan komentar menghina dan rasis.

Tak puas hanya menghina dengan perkataan, si penyerang meludahi Bolat, kemudian mengikuti Bolat turun, dan menarik jilbabnya hingga menyebabkan dagu Bolat terluka.

“Saya mengabaikannya sampai dia meludahi saya, padahal sedang pandemi, siapa tahu mungkin dia membawa penyakit (Covid-19). Saya kemudian turun, dia mengikuti saya dan menyerang jilbab saya, menariknya dengan sangat keras. Ditarik sampai jarum yang di bawah dagu saya melukai saya," lanjut Bolat.

Baca juga: Sempat Merenggang, Pangeran Harry & Pangeran William Kembali Jalin Komunikasi Sejak Tuduhan Rasisme

Baca juga: Kasus Dugaan Rasisme Ambroncius Nababan: Awal Mula, Klaim Satire, hingga Respon Natalius Pigai

Bolat mengatakan, meskipun ia sudah berteriak dan meminta si penyerang untuk berhenti, ia tetap melanjutkan aksi menyerangnya.

Si penyerang baru berhenti setelah Bolat mengambil ponsel untuk memotret pelaku itu.

"Saya berteriak padanya tetapi dia tidak berhenti sampai saya mengeluarkan ponsel saya dan mulai mengambil gambar (si penyerang), dia kemudian menyeberang ke sisi lain jalan," katanya.

Bolat pun membagikan kejadian tersebut di media sosial.

“Saya pikir saya harus mengambil sikap terhadap insiden ini, dan semua orang harus mempelajarinya. Terlepas dari mengenakan jilbab atau tidak, warna kulit atau etnis, tidak ada yang harus mengalami insiden semacam ini, dan ini tidak boleh diabaikan dalam hal apa pun," katanya.

Kasus diproses secara hukum

Pelaku rasisme di Austria penyerang Baraa Bolat.
Pelaku rasisme di Austria penyerang Baraa Bolat. (Anadolu Agency)

Banyak orang menghubungi Bolat setelah ia mengunggah kejadian itu di media sosial.

Banyak yang berharap dia baik-baik saja dan membelanya.

Bolat mengatakan dia mengajukan laporan ke otoritas polisi setempat dan proses hukum mulai dilakukan.

Dia mengatakan bahwa ternyata penyerang rasis itu telah beberapa kali melakukan tindakan seperti itu sebelumnya dan menargetkan beberapa orang lain dengan cara yang sama.

"Saya bukan orang pertama yang diserang, diludahi oleh orang ini, banyak wanita berhijab yang menjadi sasaran serangan serupa oleh orang itu. Jadi, dia harus membayar atas perbuatannya. Jika dia secara psikologis terganggu, maka dia harus dirawat di rumah sakit atau (dilakukan) solusi lain. Tidak dapat diterima bahwa orang tersebut di luar dan merugikan orang lain," tambahnya.

Selain itu, hal lain yang disayangkan oleh Bolat adalah tidak ada penumpang lain di bus yang membantunya.

Menurut Bolat, penumpang lain hanya menonton kejadian itu.

Ia menambahkan bahwa harus ada lebih banyak upaya kesadaran yang dapat membuat orang membantu orang lain yang membutuhkan bantuan, terlepas dari latar belakang mereka yang berbeda.

(TribunTernate.com/Qonitah)

Ikuti kami di

Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved