Halmahera Timur
Halmahera Timur Berbenah Menuju Transformasi Kemajuan

Virus Corona

Sri Lanka di Ambang Kebangkrutan akibat Krisis Covid-19, Orang Muda Antre untuk Meninggalkan Negara

Kehancuran kini dihadapi oleh pemerintahan Presiden Gotabaya Rajapaksa itu sebagian besar disebabkan oleh dampak langsung dari krisis Covid-19.

ISHARA S. KODIKARA / AFP
ILUSTRASI Masyarakat Sri Lanka - Dalam foto: Seorang umat Buddha berdoa selama Poya, sebuah festival keagamaan untuk menandai bulan purnama, di Kuil Kelaniya di pinggiran Kelaniya, Kolombo pada 18 November 2021. 

TRIBUNTERNATE.COM - Sri Lanka tengah menghadapi krisis keuangan dan kemanusiaan yang disertai dengan kekhawatiran bahwa negara itu akan bangkrut di tahun 2022.

Kemungkinan kebangkrutan itu disebabkan oleh inflasi yang naik ke tingkat tertinggi, di mana harga pangan meroket, sementara pundi-pundi uang mengering.

Kehancuran yang saat ini sedang dihadapi oleh pemerintahan Presiden Gotabaya Rajapaksa itu sebagian besar disebabkan oleh dampak langsung dari krisis Covid-19 dan hilangnya pariwisata.

Keadaan ini kemudian diperparah dengan pengeluaran tinggi dari pihak pemerintah, pemotongan pajak yang mengikis pendapatan negara, pembayaran utang yang besar ke China serta cadangan devisa yang berada pada level terendah dalam satu dekade terakhir.

Di sisi lain, inflasi Sri Lanka juga didorong oleh pemerintah yang mencetak uang untuk melunasi pinjaman dalam negeri dan obligasi luar negeri.

Sejak awal pandemi Covid-19, Bank Dunia memperkirakan bahwa telah ada 500 ribu orang Sri Lanka yang telah terjerumus di bawah garis kemiskinan.

Padahal, jumlah tersebut setara dengan kemajuan selama lima tahun Sri Lanka dalam memerangi kemiskinan.

Baca juga: Bank Dunia Sebut UU Cipta Kerja Bantu Indonesia Perangi Kemiskinan

Baca juga: 5 Upaya BUMN Bangkitkan Garuda Indonesia yang Disebut Sakit dan Terbilang Bangkrut

Inflasi yang mencapai rekor tertingginya pada angka 11,1 persen di bulan November 2021 dan kenaikan harga telah membuat mereka yang sebelumnya kaya menjadi kesulitan dan berjuang untuk memberi makan keluarga mereka.

Saat ini, barang-barang kebutuhan pokok di Sri Lanka sudah tidak terjangkau lagi bagi banyak orang.

Setelah Rajapaksa menyatakan bahwa Sri Lanka berada dalam keadaan darurat ekonomi, anggota militer diberi kekuasaan untuk memastikan barang-barang penting seperti beras dan gula dijual oleh pedagang sesuai dengan harga yang ditetapkan pemerintah.

Namun, hal tersebut rupanya tidak banyak membantu meringankan penderitaan rakyat Sri Lanka.

Anarudda Paranagama, seorang sopir di Ibu Kota Sri Lanka, Kolombo, mengambil pekerjaan sampingan untuk bisa membeli makan dan menutupi pinjaman mobilnya, tetapi itu juga tidak cukup.

"Sangat sulit bagi saya untuk melunasi pinjaman. Ketika saya harus membayar tagihan listrik dan air dan menghabiskan makanan, tidak ada uang tersisa," katanya dikutip dari The Guardian, Selasa (4/1/2021).

Anarudda juga menambahkan bahwa saat ini keluarganya sudah tidak makan tiga kali sehari, tetapi hanya makan dua kali sehari.

Dia kemudian menggambarkan bagaimana pedagang di desanya membuka satu kilogram bungkus susu bubuk dan mengubahnya ke dalam kemasan 100 gram, karena pelanggannya tidak mampu membeli kemasan yang lebih besar.

Halaman
12
Berita Terkait
Ikuti kami di
AA

Berita Terkini

© 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved