Di Ternate Ada Makam Sultan Mahmud Badaruddin II, Sebuah Simbol Pahlawan di Masa Perjuangan
Makam Sultan Mahmud Badaruddin II yang berada di Ternate, Maluku Utara bisa diartikan sebuah simbol pejuangan sebagai seorang pahlawan nasional.
Penulis: Laode Havidl | Editor: Munawir Taoeda
TRIBUNTERNATE.COM - Sultan Mahmud Badaruddin II merupakan pahlawan nasional, dengan nama asli Raden Hasan, merupakan Sultan Palembang yang dimakzulkan di Ternate hingga wafat dan dikebumikan di Ternate, Maluku Utara.
Pantauan Tribunternate.com Senin, (18/7/2022). Makam Sultan Mahmud Badaruddin II berada di Pekuburan Islam, Kelurahan Makassar Barat, Ternate Tengah, Maluku Utara.
Dalam bangunan tersebut, terdapat tiga makam berdekatan. Makam Sultan Mahmud Badaruddin II sendiri berada di tengah. Menariknya, ada puluhan kuburan berderet yang merupakan kuburan keluarga dan kerabat serta pengikut.
Sekilas, perjalan Sultan Mahmud Badaruddin II bisa terlihat dengan jelas, pada sebuah prasasti yang berada di lokasi makam.
Baca juga: Adu Mulut Berujung Pengeroyokan, Tiga Pemuda di Ternate Dilaporkan ke Polisi
Pada prasasti itu menjelaskan, Sultan Mahmud Badaruddin II lahir di Palembang 1 rajab 1181 Hijriyah/1767 Masehi, dan dinobatkan sebagai Sultan Palembang Darussalam pada 4 April 1803.
Dimakzulkan ke Ternate pada Juli 1821 Masehi, wafat di Ternate pada 14 Syafar 1269 Hijriyah, bertepatan dengan tanggal 26 November 1852 Masehi.
Kepala Litbang Jaringan Kota Pusaka Indonesia (JKPI) Rinto Taib, mengatakan beberapa poin penting yang perlu kita tanamkan dalam hati sanubari dan perspektif kita, sebagai generasi muda akan eksistensi keberadaan makam Sultan Mahmud Badaruddin II di Ternate.

"Spirit juang seorang pejuang dan pahlawan nasional, dalam melawan penindasan dan penjajahan serta ketidakadilan. Etos kepahlawanan dan kejuangan ini kita tafsirkan ulang sesuai perkembangan zaman di masa kini, yang tentu berbeda dengan era kolonialisme di masa lalu, yakni merevitalisasi nilai-nilai historis tersebut, "katanya.
Selain itu, ia mengatakan bahwa sebagai generasi muda Maluku Utara kita bangga bahwa negerinya, menjadi pilihan seorang Sultan melayu dalam hingga tutup usianya.
"Bahkan adanya wasiat untuk tidak dipindahkan ke negeri asalnya Palembang, Sumatera Selatan sungguh sebuah pelajaran tentang ikatan emosional antara Palembang dan Ternate. Yang begitu kuat dan mendalam, ini soal ikatan batin yang hanya bisa dirasakan sehingga jalinan hubungan emosional seperti ini, patut dipertahankan dan dipelihara" jelasnya.
Dikatakan, bahwa dekatnya hubungan emosional tersebut turut berlanjut ke hubungan genetis, dimana adanya ikatan perkawinan dan hubungan kekerabatan, yang terjalin erat hingga kini di Maluku Utara.
"Secara akademik, hal ini memberi peluang kepada kita sebagai generasi muda untuk memikirkan dan melakukan riset keilmuan, dalam ragam tema tentang dimensi kesejarahan dan relasi sosial kultural, antara etnisitas dan basis keagamaan yang melatari diplomasi politik antara Kesultanan Melayu dan Moloku Kie Raha sejak era kolonial."
"Untuk mewujudkan, maka dapat dilakukan oleh kalangan akademisi dalam hal riset keilmuan baik secara mandiri (swadaya) oleh generasi muda, maupun secara institusi oleh perguruan tinggi lokal maupun jejaring bersama, lintas perguruan tinggi khususnya dalam tema-tema terbatas tentang Kesultanan Melayu dan Keagamaan (Islam), atau tematik kebudayaan maupun tematik lainnya yang lebih luas, "jelasnya.
Rina salah seorang penjaga makam mengaku, sudah setahun dirinya menjaga makam tersebut dan digaji Rp 700 ribu per bulan, oleh Kementrian Sosial RI.
"Sudah satu tahun saya jaga makam, dan setiap bulannya saya digaji oleh Kemensos RI sebesar Rp 700 ribu, "ungkapnya.