Senin, 27 April 2026
Halmahera Timur
Halmahera Timur Berbenah Menuju Transformasi Kemajuan

Angkat Bicara soal Viral Tagar #StopBayarPajak, Sri Mulyani: Nggak Ingin Tinggal di Indonesia?

Sri Mulyani menilai, orang yang menyuarakan tagar tersebut berarti tidak mencintai Indonesia dan tidak ingin negara ini maju. 

Tribunnews/HO/Biro Pers Setpres/Muchlis Jr
Menteri Keuangan, Sri Mulyani indrawati. Sri Mulyani menanggapi viralnya tagar #StopBayarPajak. 

TRIBUNTERNATE.COM - Belakangan media sosial diramaikan dengan hashtag atau tagar #StopBayarPajak, di mana seruan ini mengajak masyarakat untuk berhenti membayar pajak

Viralnya tagar #StopBayarPajak pun mendapat tanggapan dari Menteri Keuangan (Menkeu) Sri Mulyani Indrawati. 

Sri Mulyani menilai, orang yang menyuarakan tagar tersebut berarti tidak mencintai Indonesia dan tidak ingin negara ini maju. 

Baca juga: Indonesia Dinilai Berpotensi Bangkrut seperti Sri Lanka, Luhut Geram, Sri Mulyani Membantah

Baca juga: Sri Mulyani Tetapkan PPN Naik Jadi 11 Persen, Ekonom: Jumlah Orang Miskin Bisa Meningkat

"Jadi mereka yang sampaikan hastag enggak bayar pajak, yah berarti anda enggak ingin tinggal di Indonesia atau enggak ingin lihat Indonesia bagus, itu saja," ujarnya dalam acara dalam Perayaan Hari Pajak 2022, Selasa (19/7/2022).

Sri Mulyani menjelaskan, pajak digunakan untuk pembangunan Indonesia agar semakin maju.

Pajak yang terkumpul dialokasikan pemerintah untuk sektor pendidikan hingga kesehatan agar bisa dinikmati masyarakat, khusus masyarakat miskin.

Menteri Keuangan Sri Mulyani masuk Top World's 100 Most Powerful Women versi Forbes. Jadi satu-satunya wanita Indonesia.
Menteri Keuangan Sri Mulyani masuk Top World's 100 Most Powerful Women versi Forbes. Jadi satu-satunya wanita Indonesia. (KOMPAS.com/KRISTIANTO PURNOMO)

Selain itu, melalui pajak masyarakat bisa menikmati subsidi elpiji, bahan bakar minyak (BBM), hingga listrik.

Pengadaan fasilitas umum, seperti pembangunan jalan raya, juga menggunakan anggaran yang didapat dari pajak.

"Indonesia kan negara kita sendiri, dan kita semua tahu pajak itu dipakai untuk mengurusi pendidikan, rumah sakit, kemarin saat pandemi. Kalau anda tadi pagi nikmati teh atau makan nasi goreng misalnya, itu kan perlu dimasak pakai elpiji, dan kalau pakai yang tabung 3 kilogram artinya anda menikmati uang pajak untuk subsidi," papar dia.

Menurut Sri Mulyani, pada dasarnya masyarakat Indonesia sudah banyak yang mengetahui pentingnya peran pajak dalam mendorong kemajuan Indonesia.

Hal itu tercermin dari banyaknya netizen yang menolak seruan tidak membayar pajak.

"Rasanya saya lihat masyarakat yang meng-counter (menentang seruan tidak bayar pajak), itu karena merasa memiliki Indonesia. Artinya mereka mengatakan 'siapa kamu nyuruh-nyuruh kita enggak bayar pajak?'," ungkapnya.

Baca juga: Mantap Nyapres di Pemilu 2024, Muhaimin Iskandar Bidik Sri Mulyani Jadi Cawapres, Ini Alasannya

Baca juga: Anies Bebaskan Pajak Rumah di Bawah NJOP Rp2 Miliar, Gubernur DKI Tuai Pujian dari Pengamat

Lebih lanjut, ia mengaku, setuju dengan sejumlah pendapat warga net yang menekankan bahwa masa depan Indonesia ada di tangan semua masyarakat.

Jika ingin melihat Indonesia maju maka mulai dari diri sendiri, sehingga memang peran setiap individu sangat diperlukan.

"Kalau mau bikin semuanya menjadi bagus yah kita yang bikin, kalau mau bikin republik ini ini rusak yang kita sendiri yang bikin. Jangan terbiasa nyalah-nyalahin orang lain. Jadi kita harus terbuka, kalau ada yang kurang, perbaiki terus, enggak pantah menyerah. Jangan pernah lelah mencintai Indonesia, karena mencintai ini perlu banyak kerja keras," pungkas Sri Mulyani.

Menteri Keuangan, Sri Mulyani
Menteri Keuangan, Sri Mulyani (Tribunnews/Ria Anastasia)
Sumber: Kompas.com
Halaman 1/2
Ikuti kami di

Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved