Derap Nusantara
Balai ternak Baznas RI Wujudkan Kedaulatan Pangan
Salah satu Balai Ternak Baznas adalah Ponjen Tani di Desa Bomerto, Kabupaten Wonosobo, Jawa Tengah, yang baru diresmikan pekan ini.
TRIBUNTERNATE.COM, TERNATE - Indonesia sebagai negara agraris memiliki potensi untuk beternak sangat tinggi, dengan ketersediaan pakan yang cukup.
Balai ternak kambing yang didirikan Badan Amil Zakat Nasional (Basnas) merupakan salah satu gerakan untuk mewujudkan kedaulatan pangan di Indonesia.
Sesuai data akumulasi 2020-2024, sebaran Balai Ternak Baznas RI, antara lain berada di Aceh, Sumatera Barat, Riau, Lampung, Banten, Jawa Tengah, Daerah Istimewa Yogyakarta, Jawa Timur, Nusa Tenggara Barat, dan Sulawesi Selatan.
Salah satu Balai Ternak Baznas adalah Ponjen Tani di Desa Bomerto, Kabupaten Wonosobo, Jawa Tengah, yang baru diresmikan pekan ini dengan jumlah ternak 190 ekor kambing dan dipelihara 20 peternak dari kalangan mustahik atau orang yang berhak menerima zakat.
Bagi Baznas, peternakan sangat penting karena Indonesia rata-rata tidak kurang 200.000 ton itu masih mengimpor daging, sehingga dengan begitu tidak sedikit dana yang mengalir ke luar negeri untuk membeli daging.
Dengan memperhatikan masalah peternakan, maka ketahanan pangan akan tercukupi, sekaligus kedaulatan pangan juga mampu tercukupi dari dalam negeri sendiri.
Dengan berdaulat, maka tidak perlu ada impor, termasuk melalui upaya peternakan sendiri.
Dengan jumlah penduduk Indonesia sekitar 293 juta orang, maka jika setiap keluarga memiliki usaha peternakan, maka negeri kita tidak perlu lagi mengimpor daging.
Potensi yang dimiliki bangsa kita sebetulnya merupakan anugerah dari Allah SWT kepada umat manusia untuk disyukuri, dengan cara dikembangkan dan diusahakan untuk memenuhi kebutuhan daging di negeri sendiri.
Secara historis, kambing adalah bagian dari perjalanan hidup Rasulullah Muhammad SAW yang di waktu kecil hingga remaja merupakan seorang penggembala kambing.
Nabi Musa, juga menggembala kambing, bahkan, mahar untuk menikahi putri Nabi Syuaib juga dari hasil menggembala kambing selama delapan tahun dan disempurnakan menjadi 10 tahun.
Dengan demikian, sebetulnya ada keterkaitan sejarah antara kenabian dengan usaha peternakan. Dalam konteks agama, peternakan itu merupakan simbol betapa pentingnya usaha tersebut.
Peternakan yang sekarang dibantu oleh Baznas, adalah dana yang suci, dana yang baik dan bersih, kemudian digunakan untuk usaha peternakan yang sangat dekat dengan sejarah kerasulan/kenabian.
Usaha ini memiliki banyak keberkahan karena ada nilai meneladani apa yang dilakukan oleh nabi-nabi, khususunya Muhammad SAW.
Karena itu, Baznas sangat memberikan perhatian terhadap usaha peternakan, karena sumbernya dari sesuatu yang bersih dan merupakan upaya keberlanjutan dari kehidupan kenabian dan pada akhirnya sangat bermanfaat bagi semua kalangan.