Kamis, 7 Mei 2026
Halmahera Timur
Halmahera Timur Berbenah Menuju Transformasi Kemajuan

Opini

Tausyiah Perjuangan: Mengukir Peradaban, Menyulam Kesadaran

"Jihad yang paling utama adalah mengatakan kebenaran di hadapan penguasa yang zalim, "kata Dr Syahrir Ibnu

Tayang:
Editor: Munawir Taoeda
Istimewah
OPINI: Flyer tausyiah perjuangan Dr Syahrir Ibnu 

Oleh: Dr Syahrir Ibnu

Bismillahirrahmanirrahim.
Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh

PUJI SYUKUR kita panjatkan ke hadirat Allah Subhanahuwa Ta’ala, Tuhan yang Maha Menggenggam takdir dan Maha Menuntun perjalanan peradaban. Shalawat serta salam kita haturkan kepada junjungan alam, Rasulullah Muhammad Shallallahu ‘Alaihi Wasallam, sang pemimpin agung yang telah mewariskan cahaya bagi umat manusia.

Pertama-tama, izinkan saya menyampaikan rasa hormat yang setinggi-tingginya kepada para senior dan para pejuang di lingkungan hijau hitam ini (Pejuang Peradaban, insan cita dan Pelopor Perubahan:

- Pengurus Korps Alumni Himpunan Mahasiswa Islam (KAHMI) Provinsi Maluku Utara dan  Forhati. Pengurus KAHMI Kota/Kabupaten dan Forhati yang berkesempatan hadir pada malam ini.

- Pengurus HMI Cabang Ternate, beserta seluruh jajaran kepengurusan yang telah bekerja keras dalam menyelenggarakan momentum besar ini.

- Pengurus Komisariat di lingkungan HMI, yang senantiasa menjadi garda terdepan dalam menjaga marwah intelektualitas dan spiritualitas dalam himpunan kita.

- Seluruh civitas Cipayung yang hadir pada malam ini, sebagai bagian dari semangat kolektif dalam membangun sinergi perjuangan kebangsaan.

- Serta seluruh undangan yang berkesempatan hadir, baik dari kalangan akademisi, aktivis maupun tokoh masyarakat yang turut menyaksikan peristiwa bersejarah ini.

Dengan penuh rasa syukur dan rendah hati, saya mengucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada  Panitia Konferensi Cabang dan Musyawarah Kohati ke-34 HMI Cabang Ternate  dan  Panitia Milad ke-78 HMI, serta segenap Pengurus HMI Cabang Ternate, yang telah memberikan kepercayaan kepada saya untuk mengisi Tausyiah Perjuangan pada malam hari ini.

HMI untuk kedaulatan Bangsa. Tema: Mengukir Peradaban, Menyulam Kesadaran. Amanah ini bukan sekadar kesempatan berbicara, tetapi juga tanggung jawab untuk menyampaikan gagasan, merawat kesadaran dan menyalakan semangat perjuangan dalam tubuh himpunan ini.

HMI Cahaya yang Tak Padam, Rekan Juang sekalian

Himpunan Mahasiswa Islam (HMI), bukan sekadar organisasi mahasiswa, tetapi merupakan bagian dari arus besar perubahan sosial yang terus bertransformasi sejak didirikan oleh Lafran Pane pada 5 Februari 1947.

Dalam konteks sosiologi gerakan sosial, HMI dapat dikategorikan sebagai gerakan reformis yang berupaya mempertahankan nilai-nilai Islam sekaligus merespons perubahan zaman (Tilly, 2004; Diani & McAdam, 2020).  

Di tengah derasnya arus modernitas dan globalisasi, HMI tetap menjadi ruang bagi kaum intelektual Muslim untuk menyulam kesadaran kolektif dan mengukir peradaban berbasis nilai keislaman dan keindonesiaan. Hal ini sejalan dengan firman Allah dalam Surah Ar-Ra’d  13:11

إِنَّ ٱللَّهَ لَا يُغَيِّرُ مَا بِقَوْمٍ حَتَّىٰ يُغَيِّرُوا۟ مَا بِأَنفُسِهِمْ

“Sesungguhnya Allah tidak akan mengubah keadaan suatu kaum sebelum mereka mengubah keadaan diri mereka sendiri

Ayat ini memberikan penegasan bahwa perubahan sosial dan peradaban hanya bisa terjadi jika individu dan kelompok berusaha memperbaiki diri mereka terlebih dahulu.

HMI sebagai organisasi kaderisasi memiliki peran penting dalam membentuk kesadaran ini agar dapat melahirkan pemimpin yang membawa perubahan nyata bagi umat dan bangsa.  

Sejarah mencatat bahwa kader HMI telah berperan dalam berbagai momen penting bangsa, mulai dari era Demokrasi Terpimpin, Orde Baru, hingga Reformasi 1998.

Namun, di era digital saat ini, tantangan yang dihadapi semakin kompleks: fragmentasi ideologi, krisis identitas dan pragmatisme politik yang mengikis idealisme perjuangan (Castells, 2012).

Oleh karena itu, kader HMI harus terus menanamkan nilai-nilai perjuangan agar tetap relevan dalam perubahan zaman.  

Pejuang Peradaban

Menurut teori gerakan sosial Resource Mobilization yang dikemukakan oleh McCarthy & Zald (1977), keberhasilan sebuah gerakan bergantung pada kemampuannya dalam mengelola sumber daya, baik itu manusia, intelektual, maupun jejaring sosial.

Dalam konteks ini, HMI memiliki potensi besar untuk menjadi lokomotif perubahan karena memiliki tiga modal utama:

1. Modal Intelektual

HMI sebagai organisasi kader yang telah melahirkan banyak pemikir, akademisi dan pemimpin nasional.

Proses intelektualisasi dalam HMI dapat dikaitkan dengan konsep public sphere dari Jürgen Habermas (1989), di mana ruang diskusi kritis memungkinkan lahirnya gagasan yang mempengaruhi kebijakan publik dan perkembangan sosial.  

Hal ini selaras dengan firman Allah dalam Surah Al-Mujadilah (58:11):

     يَرْفَعِ ٱللَّهُ ٱلَّذِينَ ءَامَنُوا۟ مِنكُمْ وَٱلَّذِينَ أُوتُوا۟ ٱلْعِلْمَ دَرَجَٰتٍۢ

"Allah akan meninggikan derajat orang-orang yang beriman di antara kamu dan orang-orang yang diberi ilmu beberapa derajat."

Ayat ini menggarisbawahi pentingnya ilmu sebagai faktor utama dalam membangun peradaban. Oleh karena itu, kader HMI harus terus meningkatkan kapasitas intelektualnya agar mampu menjadi agen perubahan yang berkontribusi bagi masyarakat

2. Modal Sosial 

HMI memiliki jaringan luas yang tersebar di seluruh Indonesia, baik dalam bentuk pengurus aktif maupun alumni yang tergabung dalam KAHMI.

James Coleman (1994) dalam teori modal sosialnya menyebutkan bahwa jejaring yang kuat akan meningkatkan kapasitas kolektif suatu organisasi dalam mencapai tujuannya.  

Rasulullah SAW juga menekankan pentingnya peran individu dalam memberikan manfaat kepada sesama, sebagaimana sabdanya dalam  Hadits Riwayat Bukhari dan Muslim:

خَيْرُ النَّاسِ أَنْفَعُهُمْ لِلنَّاس  

"Sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi manusia lain."

Hadits ini menjadi pengingat bagi kader HMI bahwa kebermanfaatan adalah ukuran sejati dari sebuah perjuangan.

Tidak cukup hanya menjadi cerdas dan berilmu, tetapi juga harus berkontribusi nyata bagi masyarakat.  

3. Modal Ideologis

Berpijak pada Islam sebagai nilai dasar dan nasionalisme sebagai bingkai perjuangan, HMI menjadi wadah bagi sintesis antara spiritualitas dan kebangsaan.

Dalam perspektif sosiologi agama, seperti yang dijelaskan oleh Bryan Turner (2011), gerakan keagamaan yang mampu menyeimbangkan aspek transendental dan sosial cenderung lebih bertahan dan berkembang di tengah perubahan zaman.  

Sebagai pemuda, kader HMI harus meneladani semangat perjuangan yang telah dicontohkan oleh generasi terbaik Islam. Rasulullah SAW bersabda dalam Hadits Riwayat Ahmad:  

"Barang siapa yang ingin melihat pemuda yang paling mulia, maka lihatlah Ja’far bin Abi Thalib, yang membawa cahaya di tengah kegelapan."

Pesan ini mengisyaratkan bahwa pemuda memiliki peran strategis dalam perjuangan dan perubahan sosial.

Oleh karena itu, kader HMI harus mengambil peran ini dengan menjadi pelopor dalam membangun peradaban yang adil dan berkeadaban.

Refleksi Menuju HMI yang Lebih Visioner Saudaraku Insan Cita

Memasuki usia ke-78, HMI harus melakukan refleksi mendalam. Apakah ia akan tetap menjadi gerakan transformatif yang mengakar pada nilai-nilai Islam dan kebangsaan, ataukah ia akan kehilangan arah dalam arus globalisasi yang semakin kompleks?  

Sebagai kader HMI, kita tidak boleh hanya menjadi penonton sejarah, tetapi harus menjadi penggerak zaman.

Antonio Gramsci (1971) dalam konsep organic intellectual menekankan bahwa intelektual sejati bukanlah mereka yang hanya berpikir di ruang akademik, tetapi mereka yang terlibat langsung dalam dinamika sosial untuk menciptakan perubahan.

HMI bukan sekadar organisasi mahasiswa, tetapi kawah candradimuka yang menempa pemimpin masa depan.

Oleh karena itu, kader HMI harus memiliki visi yang jelas, daya kritis yang tajam dan keberanian untuk bertindak demi kepentingan umat dan bangsa.

Sebagaimana yang dikatakan oleh Ali Syariati (1979) dalam Red Shi’ism, Black Shi’ism:

"Islam yang sejati adalah Islam yang membebaskan, bukan yang membelenggu. Islam yang menginspirasi perjuangan, bukan yang melanggengkan penindasan."

HMI harus kembali menjadi gerakan yang tidak hanya kritis terhadap ketidakadilan, tetapi juga aktif dalam membangun solusi bagi peradaban.

Penutup

Perjuangan ini masih panjang. Jalan kita masih terjal. Tetapi jangan takut, jangan ragu. Kita tidak sendiri. Kita bersama dalam satu nafas perjuangan. Kita bersama dalam satu barisan keyakinan. Kita bersama dalam satu tekad untuk menjadikan Islam sebagai rahmatan lil ‘alamin dan Indonesia sebagai rumah yang adil bagi semua.

Tetaplah bergerak. Tetaplah berpikir. Tetaplah berjuang. HMI tidak membutuhkan kader yang hanya menjadi pengikut arus, tetapi kader yang berani melawan arus untuk menegakkan kebenaran.

Dalam setiap melangkah, ingatlah selalu pesan ini: "Lebih baik menjadi lilin kecil yang menyala di kegelapan, daripada menjadi lentera besar yang padam di tengah benderang."

HMI harus tetap menjadi ruang intelektual yang dinamis, laboratorium kepemimpinan yang kokoh dan rumah perjuangan yang melahirkan pejuang sejati. Kita harus berani berpikir, berani bergerak dan berani mengambil sikap. Sebagaimana sabda Rasulullah SAW dalam Hadits Riwayat Muslim:  

"Jihad yang paling utama adalah mengatakan kebenaran di hadapan penguasa yang zalim."

Semoga HMI terus menjadi mata air perjuangan yang tak pernah kering, mercusuar dalam kegelapan dan pilar peradaban yang adil dan berkeadaban.  

Selamat Milad ke-78 HMI.

Selamat berkonferensi dan bermusyawarah Kohati ke XXXIV untuk HMI Cabang Ternate.

Semoga Allah Subhanahu wa Ta’ala senantiasa meridhoi langkah kita.

Wassalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh

Sumber: Tribun Ternate
Ikuti kami di

Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved