Senin, 27 April 2026
Halmahera Timur
Halmahera Timur Berbenah Menuju Transformasi Kemajuan

Opini

Rolemodel Hikmah Puasa Ramadan

Puasa Ramadan adalah ibadah ritual spiritual yang komprehensif dan sarat makna. Sebagaimana firman Allah, puasa diwajibkan bagi umat Islam

TribunTernate.com/Sansul Sardi
OPINI - Kadri Laetje Asisten I Gubernur Maluku Utara dengan opininya bertajuk "Rolemodel Hikmah Puasa Ramadan". 

Kadri Laetje

Asisten I Gubernur Maluku Utara

 

Puasa Ramadan adalah ibadah ritual spiritual yang komprehensif dan sarat makna. Sebagaimana firman Allah, puasa diwajibkan bagi umat Islam yang beriman dalam ketetapan rukun, sebagaimana juga diwajibkan kepada kaum terdahulu.

Pertanyaan awal penulis: apa hikmah puasa yang kita jalankan setiap tahun?

Jawaban konvensional tentu berkisar pada pemahaman bahwa Puasa Ramadhan membentuk ketakwaan, meraih pahala surga, rahmat, magfirah, ampunan, kesabaran, keikhlasan, kesehatan jasmani dan rohani, serta menekan nafsu. Itulah role model hikmah yang setiap tahun kita impikan.

Namun, tidak adakah model impian lain yang harus kita dapat dari hikmah Puasa Ramadan untuk diimplementasikan pada dekade peradaban modern, peradaban teknologi saat ini?

Setelah Puasa Ramadan, kita sering kali hanya menjadi penonton dan pengguna di tengah moderasi teknologi kaum Atheis, kaum China, dan kaum Barat yang berkemajuan serta menyumbangkan teknologi untuk kehidupan umat manusia dengan moto mereka: One Planet, One Humanity, One Love.

Paradigma cara pandang kemanusiaan mereka telah berubah. Sehingga Tuhan kita yang sama, Tuhanmu, Tuhanku, Tuhan kita semua umat manusia, melimpahkan atmosfer ilmu pengetahuan kepada mereka yang berkembang. Saat ini mereka menguasai teknologi dan telah berupaya hijrah ke Planet Mars.

Padahal 1500 tahun silam, Alquran adalah sumber inspirasi ilmu pengetahuan kita. Namun kita tidak menjadikannya sebagai sumber inspirasi keilmuan untuk peradaban teknologi kebutuhan umat manusia. Kita hanya mengambil sepotong ayat-ayat untuk memuluskan ambisi politik. Kita hanya menggunakan Alquran untuk mata lomba STQ dan MTQ, padahal seharusnya lebih jauh dari itu, Alquran dikaji sebagai sumber segala pengetahuan.

Sejarah panjang politik kekhalifahan Islam banyak yang gagal dan berakhir dengan penaklukan sesama kaum muslimin, baik di era Khulafaur Rasyidin, Muawiyah, Fatimiyah, Abbasiyah maupun Utsmaniyah, karena ambisi politik dan monarki kekuasaan.

Kita lupa pada kejayaan Islam di era pertengahan yang jaya dengan sains dan peradaban ilmu pengetahuan. Ilmuwan Islam seperti Umar Khayam, Al-Khawarizmi, Al-Kindi, Al-Farabi, Abu al-Wafa, Ibnu Sina, Al-Buni, dan Yusuf Al-Battani telah meletakkan dasar dan menyumbang bagi peradaban modern yang kemudian dipelopori pada abad ke-15 oleh Rene Descartes, Leonardo da Vinci, Galileo Galilei dan lainnya.

Kita kini harus bersikap meninggalkan ambisi politik dan kembali kepada ambisi sains dan ilmu pengetahuan. Hafal dan analisis Alquran, juga hafal dan analisis ilmu matematika, kimia, fisika, dan biologi untuk umat manusia. Sehingga kita juga dapat ambil bagian dalam moto One Planet, One Humanity, One Love.

Pertanyaan terakhir penulis: apa hikmah Puasa Ramadhan di era peradaban teknologi, era 5.0, era IA?

Jawabannya, kita masih berada pada puasa rutin ritual, dan setelah puasa kita hanya menjadi user teknologi dan sibuk tukar tambah teknologi di dealer dan counter.

Idealnya, hikmah puasa membuka pikiran kita untuk melahirkan peradaban teknologi, pertahanan alutsista, dan ketahanan pangan umat manusia di segala dimensi: pendidikan, kesehatan, pendapatan, pertanian, perikanan, transportasi, informasi dan komunikasi.

Kita melupakan peradaban ilmu pengetahuan yang menjadi budaya generasi tengah yang ditinggalkan ilmuwan Islam di abad pertengahan.

Sumber: Tribun Ternate
Halaman 1/2
Ikuti kami di

Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved