Opini
Strategi Dekapitasi Amerika dan Israel terhadap Iran
Nasionalisme, sebagai bentuk kesadaran kolektif, justru menemukan momentum penguatannya ketika menghadapi ancaman bersama
Oleh: Yanuardi Syukur
Dosen Antropologi Unkhair Ternate
DALAMA lintasan sejarah konflik global, strategi dekapitasi telah menjadi instrumen yang kerap digunakan untuk mencapai ‘kemenangan cepat’ dengan cara menyingkirkan kepemimpinan lawan: ‘potong dari kepala.’ Antulio J. Echevarria (2017) mendefinisikan dekapitasi sebagai ‘upaya untuk melumpuhkan atau menghancurkan suatu kelompok dengan menyingkirkan kepemimpinannya,’ yang berbeda dengan penargetan sistematis yang menyasar seluruh anggota organisasi.
Amerika Serikat dan Israel, dalam beberapa tahun terakhir, kelihatannya semakin intensif menerapkan strategi ini terhadap Iran dan jaringan proksinya.
Serangan udara Israel pada Juni 2025 yang menewaskan Panglima IRGC Hossein Salami dan Komandan Angkatan Udara IRGC Amir Ali Hajizadeh, diikuti serangan gabungan Amerika-Israel pada 28 Februari 2026 yang menewaskan Pemimpin Tertinggi Iran Ali Khamenei, menandai eskalasi signifikan dalam pendekatan ini (Frantzman, 2025; Aziz, 2026).
Secara konseptual, strategi dekapitasi bertujuan melumpuhkan kemampuan organisasi musuh dengan memenggal kepala kepemimpinannya.
Namun, strategi ini menyimpan sejumlah asumsi kultural yang problematik tentang bagaimana kekuasaan dan masyarakat sesungguhnya bekerja.
Artinya, jika Amerika dan Israel hendak bermitra dengan Iran secara setara dan tentu saja harus bersikap adil pada Palestina seharusnya asumsi kultural ini dapat dipertimbangkan.
Asumsi dasar strategi dekapitasi adalah bahwa organisasi politik atau militer bekerja seperti tubuh biologis: jika kepala dipenggal, maka seluruh sistem akan runtuh. Metafora organik ini, meskipun intuitif, sesungguhnya mereduksi kompleksitas sosial yang jauh lebih rumit.
Hami Aziz (2026) dengan tepat mengkritik asumsi ini ketika menulis bahwa struktur politik Iran "tidak dibangun di sekitar satu figur yang penyingkirannya menjamin transformasi ideologis."
Kekuasaan di Iran, seperti halnya banyak masyarakat kompleks lainnya, tersebar dalam jejaring institusi yang saling terkait majelis ulama, korps militer, birokrasi pemerintahan, hingga basis massa di tingkat lokal.
Kita tahu bahwa kekuasaan tidak pernah sepenuhnya tersentralisasi pada satu titik, melainkan selalu dinegosiasikan dan didistribusikan melalui berbagai saluran sosial yang terlihat maupun yang tidak terlihat.
Dalam konteks ini, penting untuk membedakan antara ‘penangkapan’ dan ‘pembunuhan’ pemimpin, karena sebagaimana diargumentasikan Ulas Erdogdu (2025), kedua bentuk dekapitasi ini memicu proses dan outcome yang berbeda.
Seorang pemimpin yang ditangkap masih dapat memainkan peran dari dalam penjara, menciptakan permainan tawar-menawar baru antara pemimpin, negara, dan organisasinya sebuah kompleksitas yang hilang ketika pemimpin langsung dibunuh.
Fenomena dekapitasi juga dapat dibaca melalui kerangka antropolog Mary Douglas tentang ‘tubuh sebagai metafora sosial.’
Douglas berargumen: bahwa cara masyarakat memperlakukan tubuh fisik seringkali mencerminkan cara mereka memahami tubuh sosial. Ketika Amerika dan Israel terobsesi memenggal "kepala" musuh, kita perlu bertanya: apa yang sedang terjadi dengan "tubuh" mereka sendiri?
Unkhair Ternate
| Menjemput Ruh Para Sultan di Kursi Bioskop |
|
|---|
| Wellness tourism Sebagai Upaya Peningkatan Pendapatan Daerah di Provinsi Maluku Utara |
|
|---|
| Tanah Ulayat dalam Cengkeraman Kapital: Ketika Pembangunan Menggeser Hak Masyarakat Adat |
|
|---|
| Rolemodel Hikmah Puasa Ramadan |
|
|---|
| “Disciplined Conversation” dan Pencegahan Korupsi di Desa |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/ternate/foto/bank/originals/OPINI-Yanuardi-Syukur-selaku-Dosen-Antropologi-Unkhair-Ternate.jpg)