Senin, 20 April 2026
Halmahera Timur
Halmahera Timur Berbenah Menuju Transformasi Kemajuan

Pemprov Malut

Tambang Jadi Magnet Baru, Industri Kayu di Maluku Utara Kian Tertekan

"Industri kayu sedang lesu karena harga produk menurun dan ongkos produksi besar, "ungkap Kadis Kehutanan Maluku Utara Sukur Lila

Penulis: Fizri Nurdin | Editor: Munawir Taoeda
Tribunternate.com/Fizri Nurdin
PROGRAM: Kepala Dinas Kehutanan Maluku Utara Sukur Lila saat diwawancarai Tribunternate.com disela-sela kerja, Rabu (16/7/2025) 

TRIBUNTERNATE.COM, SOFIFI - Kehadiran perusahaan tambang di Maluku Utara turut berdampak besar pada kelangsungan usaha industri kayu di wilayah ini. 

Meski sebagian besar perusahaan kehutanan masih tercatat memiliki izin aktif, namun banyak yang memilih untuk tidak lagi beroperasi.

Hal itu disampaikan Kepala Dinas Kehutanan Maluku Utara Sukur Lila saat ditemui di Hotel Sahid Bela, Ternate, Rabu (16/7/2025).

Menurutnya, turunnya harga kayu di pasaran dan tingginya biaya operasional menjadi alasan utama banyak perusahaan berhenti berproduksi.

Baca juga: Ex Liverpool Kagumi Moises Caicedo: Bintang Chelsea Jago Hadapi Trio PSG

Selain itu, sektor tambang dinilai lebih menarik bagi tenaga kerja karena menawarkan upah yang lebih tinggi.

PROGRAM: Kepala Dinas Kehutanan Maluku Utara Sukur Lila saat diwawancarai Tribunternate.com disela-sela kerja, Rabu (16/7/2025)
PROGRAM: Kepala Dinas Kehutanan Maluku Utara Sukur Lila saat diwawancarai Tribunternate.com disela-sela kerja, Rabu (16/7/2025) (Tribunternate.com/Fizri Nurdin)

"Tidak bisa dipungkiri, tambang sekarang menjadi magnet baru bagi tenaga kerja."

"Sementara industri kayu sedang lesu karena harga produk menurun dan ongkos produksi besar, "ujarnya.

Ia menyebut, saat ini hanya 2 perusahaan kayu yang masih beroperasi, yaitu PT Poleko dan PT Telaga Baki. Namun, keduanya pun berproduksi secara terbatas.

Baca juga: Rehabilitasi Hutan di 3 Kabupaten Jadi Fokus Dinas Kehutanan Maluku Utara

"Yang beroperasi tinggal dua. Itu pun kadang hanya Senin sampai Kamis. Satu bulan belum tentu ada produksi. Biaya operasional yang besar jadi pertimbangan mereka, "akunya.

Dengan demikian, harga kayu kelas satu kini hanya sekitar Rp 1 juta per meter kubik, angka yang jauh menurun dibandingkan sebelumnya. 

"Sementara itu biaya produksi tetap tinggi membuat banyak pelaku usaha menilai industri ini tidak lagi menguntungkan, "tandas Sukur Lila. (*)

Sumber: Tribun Ternate
Ikuti kami di

Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved