Jumat, 1 Mei 2026
Halmahera Timur
Halmahera Timur Berbenah Menuju Transformasi Kemajuan

Pemprov Malut

Akses Hingga Minim Investor Jadi Masalah Utama Pengembangan Wisata Maluku Utara

Kepala Dinas (Kadis) Pariwisata Provinsi Maluku Utara, Tahmid Wahab, membeberkan lima persoalan mendasar yang menjadi hambatan utama

Tayang:
Penulis: Fizri Nurdin | Editor: Sitti Muthmainnah
TribunTernate.com/Fizri Nurdin
PARIWISATA: Kepala Dinas Pariwisata Provinsi Maluku Utara, Tahmid Wahab, saat diwawancarai Wartawan saat mengikuti Upacara HUT ke-80 RI di Sofifi, Minggu (17/8/2025) kemarin, Senin (18/8/2025) 

TRIBUNTERNATE.COM, SOFIFI - Kepala Dinas (Kadis) Pariwisata Provinsi Maluku Utara, Tahmid Wahab, membeberkan sejumlah persoalan mendasar, yang menjadi kendala dalam pengembangan sektor pariwisata daerah.

Menurutnya, kelemahan utama pariwisata Maluku Utara terletak pada lima faktor pokok, yakni aksesibilitas, sarana-prasarana, partisipasi masyarakat, sumber daya manusia (SDM), dan minimnya investor yang menanamkan modal di bidang pariwisata.

"Kelemahan kita soal aksesibilitas dari dan menuju objek wisata. Kedua, sarana-prasarana penunjang destinasi juga masih sangat terbatas. Ketiga, partisipasi masyarakat di sekitar objek wisata masih minim."

Baca juga: Tahmid Wahab Ungkap Kendala Pengembangan Pariwisata Maluku Utara

"Keempat, sumber daya di sektor pariwisata kita jujur masih terbatas. Dan kelima, investor yang berani berinvestasi di dunia pariwisata juga masih sangat sedikit. Inilah kelemahan-kelemahan kita," jelas Tahmid diwawancarai usai mengikuti upacara HUT RI ke-80 di Sofifi, Minggu (17/8/2025).

Ia menambahkan, dengan kondisi tersebut, mustahil bagi pemerintah daerah secara maksimal melakukan pembangunan infrastruktur pariwisata

Anggaran yang tersedia sekitar Rp15 miliar, menurut Tahmid, belum cukup untuk menopang pembangunan destinasi yang tersebar di sepuluh kabupaten/kota.

"Kalau misalnya dalam rangka pembangunan infrastruktur di objek wisata dengan anggaran yang ada, sangat tidak mungkin. Karena destinasi ini tersebar di semua kabupaten/kota. Akhirnya kita lebih fokus pada pengembangan ekonomi kreatif," tambahnya.

Kata Tahmid, fokus pada ekonomi kreatif dilakukan melalui dukungan kebutuhan pelaku usaha kecil dan menengah di sektor pariwisata, seperti bantuan alat produksi, kerajinan, hingga kebutuhan pendukung lainnya. 

Meski demikian, ia berharap alokasi anggaran dapat ditingkatkan agar pembangunan infrastruktur wisata bisa lebih nyata.

"Kita berharap dari nilai Rp15 miliar itu bisa naik, karena semangat dari Gubernur untuk mendorong percepatan pembangunan pariwisata sangat tinggi."

"Beliau juga sudah melakukan langkah-langkah strategis, seperti kerja sama dengan Pemerintah Provinsi Jawa Tengah maupun Bali," katanya.

Kerja sama tersebut, jelas Tahmid, difokuskan pada dua aspek utama. Dengan Jawa Tengah, Pemprov Maluku Utara mendorong pengembangan ekonomi kreatif karena lebih relevan. 

Sementara dengan Bali, pengembangan destinasi wisata.

"Kalau di Bali, kita coba atur bagaimana supaya wisatawan mancanegara maupun domestik yang sudah datang ke sana bisa diarahkan juga ke Maluku Utara. Jaraknya sebenarnya tidak terlalu jauh, hanya transit di Makassar, lalu sekitar satu jam lebih ke Ternate atau Sofifi. Kurang lebih tiga jam perjalanan, mereka sudah bisa sampai," tuturnya.

Ia mengingatkan bahwa promosi pariwisata tidak boleh berlebihan. Di mana, promosi harus dilakukan secara jujur agar tidak mengecewakan wisatawan ketika tiba di lokasi.

"Kadang kita promosi berlebihan. Kalau wisatawan sudah datang, ternyata fasilitas di lapangan tidak sesuai dengan harapan mereka, itu justru merugikan. Jadi promosi harus jujur. Jangan sampai muluk-muluk, tapi hasilnya mengecewakan," tegasnya.

Sumber: Tribun Ternate
Halaman 1/2
Ikuti kami di

Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved