HARITA NICKEL
Di Balik Transisi Energi, Industri Nikel Maluku Utara Hadapi Tantangan ESG
Peran nikel dalam rantai pasok baterai dan transisi energi global turut dorong tuntutan lebih tinggi terhadap transparansi dan keberlanjutan industri
Ringkasan Berita:1. Pakar lingkungan Institut Teknologi Bandung, Dr. Sonny Abfertiawan, menilai industri nikel terus menunjukkan perbaikan dalam aspek lingkungan, tata kelola dan pengawasan
2. Mengingat di tengah berbagai penilaian terhadap praktik industri nikel di Maluku Utara
3. Menurutnya, meningkatnya peran nikel dalam rantai pasok baterai dan transisi energi global turut mendorong tuntutan yang lebih tinggi terhadap transparansi dan keberlanjutan industri
TRIBUNTERNATE.COM, TERNATE - Di tengah berbagai penilaian terhadap praktik industri nikel di Maluku Utara, pakar lingkungan Institut Teknologi Bandung, Dr. Sonny Abfertiawan, menilai industri nikel terus menunjukkan perbaikan dalam aspek lingkungan, tata kelola dan pengawasan.
Menurutnya, meningkatnya peran nikel dalam rantai pasok baterai dan transisi energi global turut mendorong tuntutan yang lebih tinggi terhadap transparansi dan keberlanjutan industri.
"Dulu industri lebih fokus pada produksi dan hilirisasi. Namun kini aspek lingkungan, sosial dan tata kelola atau ESG ikut menjadi perhatian, karena industri nikel Indonesia sudah terhubung dengan rantai pasok global untuk kebutuhan baterai dan transisi energi, "ujarnya.
Ia menjelaskan bahwa buyer global kini tidak hanya melihat produk akhir, tetapi juga proses produksinya.
Baca juga: Pemkot Ternate Siapkan Hotel, Transportasi dan Pakaian Adat Sambut Rakernas JKPI ke-12
Karena itu isu seperti keterlacakan atau traceability, emisi, pengelolaan air, monitoring lingkungan dan tata kelola perusahaan menjadi semakin penting.
"Kondisi ini mendorong perusahaan untuk terus memperkuat pengelolaan risiko, monitoring, dan transparansi karena standar global dan ekspektasi pasar terus berkembang, sehingga kepercayaan publik tetap terjaga, "katanya.
Sonny menilai pendekatan sustainability atau keberlanjutan di industri nikel juga tidak bisa lagi dilihat secara hitam-putih antara industri dan lingkungan.
Menurutnya, realitas di lapangan jauh lebih kompleks karena industri ekstraktif tetap memiliki risiko lingkungan, namun di sisi lain juga memiliki peran ekonomi dan strategis yang besar dalam rantai pasok transisi energi global.
"Karena itu sustainability bukan berarti tanpa risiko, tetapi bagaimana risiko terus dipetakan, dikelola, dimonitor dan diperbaiki secara konsisten."
"Continuous improvement penting karena kondisi lingkungan, teknologi, dan standar global terus berkembang, "jelasnya.
Sonny menambahkan bahwa pengelolaan lingkungan di wilayah tropis seperti Pulau Obi memiliki tantangan tersendiri karena dipengaruhi curah hujan tinggi dan kondisi pesisir yang sensitif.
Karena itu, sistem pengendalian limpasan dan kualitas air harus dirancang adaptif mengikuti dinamika alam.
"Di wilayah tropis seperti Obi, sistem pengendalian air limpasan tambang harus dirancang tangguh karena kondisi cuaca bisa berubah cepat, termasuk saat hujan ekstrem."
"Yang penting adalah memastikan monitoring, evaluasi, dan perbaikan berjalan terus menerus agar tetap memenuhi baku mutu lingkungan, "ujarnya.
Ia menambahkan bahwa pendekatan tersebut sejalan dengan prinsip good mining practice yang kini semakin menjadi perhatian industri pertambangan global.
| Gandeng Wartawan Halmahera Selatan, Harita Nickel Kurban 2 Ekor Sapi |
|
|---|
| Harita Nickel dan Masyarakat Kawasi Perkuat Kolaborasi Jaga Warisan Budaya Pulau Obi |
|
|---|
| Pulau Obi dan Hilirisasi Nikel: Membaca Fakta di Balik Narasi Krisis |
|
|---|
| Harita Nickel Peduli, Bantu Bangun Gereja di Obi Selatan |
|
|---|
| Jejak Kebiasaan Kecil Menjaga Lingkungan dari Ternate hingga Kawasi |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/ternate/foto/bank/originals/Sediment-Pond-Tuguraci-2-untuk-pengelolaan-air-limpasan-tambang-Harita-Nickel.jpg)