Opini
Astrianti Ismail: Higiene dan Sanitasi Kunci Pelaksanaan Program MBG
Program MBG tak hanya untuk memenuhi kebutuhan gizi siswa siswi, namun upaya nyata untuk mencegah terjadinya keracunan dilingkungan sekolah
Astrianti Ismail
Mahasiswi Magister Ilmu Gizi Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Hasanuddin (Unhas) Makassar
ASTRIANTI Ismail merupakan mahasiswi Magister Ilmu Gizi Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Hasanuddin (Unhas) Makassar, menilai penerapan higiene dan sanitasi menjadi kunci penting dalam pelaksanaan program Makan Bergizi Gratis (MBG) bagi siswa dan siswi di sekolah.
Menurut Astrianti, program Makan Bergizi Gratis (MBG) merupakan salah satu kebijakan pemerintah yang sangat dinanti, karena program ini bertujuan memastikan agar setiap anak sekolah mendapatkan asupan makanan yang sehat, bergizi dan tentunya aman untuk dikonsumsi.
Oleh karena itu penerapan higiene dan sanitasi yang ketat dinilai sangatlah penting dalam pelaksanaan program ini, agar risiko keracunan makanan dapat ditekan semaksimal mungkin.
Ia menjelaskan bahwa ada beberapa aspek yang harus diperhatikan:
Baca juga: Rayakan HUT Presiden Prabowo, Nasi Goreng dan Telur Ceplok Jadi Menu Spesial MBG se Indonesia
Pertama, higiene penjamah makanan, yaitu penjamah makanan harus menjaga kebersihan diri, menggunakan alat pelindung diri (APD) saat mengolah makanan, tidak memegang makanan secara langsung dengan tangan kosong, serta rutin mencuci tangan selesai dari toilet, merokok, memegang barang kotor, mengolah bahan mentah dan memegang uang.
Kedua, higiene bahan makanan. Higiene bahan makanan seperti daging, telur, ikan, ayam, serta sayuran harus dalam kondisi baik, masih segar, tidak rusak dan tidak mengalami perubahan bentuk, warna, maupun rasa, tidak terkontaminasi dengan cemaran biologis, fisik dan kimia. Bahan makanan juga sebaiknya berasal dari pemasok yang resmi dan terpercaya.
Ketiga, higiene sanitasi peralatan. Peralatan yang digunakan dalam pengolahan makanan tidak boleh rusak, mudah dibersihkan, lapisan peralatan tidak boleh mudah larut dalam asam, basa atau garam yang lazim di temukan dalam proses memasak, peralatan yang kontak langsung dengan makanan tidak boleh mengeluarkan logam berat beracun, wadah makanan juga tertutup rapat agar terhindar dari lalat, debu dan sumber kontaminasi lainnya.
Keempat, Proses sanitasi peralatan. Proses diawali dengan pencucian menggunakan sabun atau detergen untuk menghilangkan kotoran dan sisa bahan makanan yang menempel, setelah itu diperlukan tahapan sanitasi untuk memastikan seluruh bakteri atau patogen yang mungkin masih tertinggal dapat dimusnahkan.
Baca juga: Tahun Ini, 6.000 Dapur MBG Bakal Hadir di Daerah Terpencil
Beberapa penyanitasi yang dapat digunakan seperti larutan klorin, larutan quaternary amonium dan iodin.
Astrianti Ismail menegaskan, apabila prinsip higiene dan sanitasi diterapkan secara konsisten pada setiap tahapan mulai dari penjamah makanan, pemilihan bahan makanan hingga pengolahan dan penyajian dengan menggunakan peralatan yang layak.
Maka program Makan Bergizi Gratis (MBG) tidak hanya untuk memenuhi kebutuhan gizi siswa siswi, akan tetapi menjadi upaya yang nyata untuk mencegah terjadinya keracunan dilingkungan sekolah. (*)
| Menjemput Ruh Para Sultan di Kursi Bioskop |
|
|---|
| Wellness tourism Sebagai Upaya Peningkatan Pendapatan Daerah di Provinsi Maluku Utara |
|
|---|
| Tanah Ulayat dalam Cengkeraman Kapital: Ketika Pembangunan Menggeser Hak Masyarakat Adat |
|
|---|
| Rolemodel Hikmah Puasa Ramadan |
|
|---|
| Strategi Dekapitasi Amerika dan Israel terhadap Iran |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/ternate/foto/bank/originals/Opini-Astrianti-Ismail-mahasiswi-Magister-Ilmu-Gizi-Fakultas-Kesehatan-Masyarakat-Unkhas-Makassar.jpg)