Selasa, 12 Mei 2026
Halmahera Timur
Halmahera Timur Berbenah Menuju Transformasi Kemajuan

Opini

Astrianti Ismail: Higiene dan Sanitasi Kunci Pelaksanaan Program MBG

Program MBG tak hanya untuk memenuhi kebutuhan gizi siswa siswi, namun upaya nyata untuk mencegah terjadinya keracunan dilingkungan sekolah

Tayang:
Editor: Munawir Taoeda
Dok Pribadi Astrianti Ismail
PEMIKIRAN: Astrianti Ismail merupakan mahasiswi Magister Ilmu Gizi Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Hasanuddin atau Unhas Makassar, Sulawesi Selatan 

Astrianti Ismail
Mahasiswi Magister Ilmu Gizi Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Hasanuddin (Unhas) Makassar

ASTRIANTI Ismail merupakan mahasiswi Magister Ilmu Gizi Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Hasanuddin (Unhas) Makassar, menilai penerapan higiene dan sanitasi  menjadi kunci penting dalam pelaksanaan program Makan Bergizi Gratis (MBG) bagi siswa dan siswi di sekolah.

Menurut Astrianti, program Makan Bergizi Gratis (MBG) merupakan salah satu kebijakan pemerintah yang sangat dinanti, karena program ini bertujuan memastikan agar setiap anak sekolah mendapatkan asupan makanan yang sehat, bergizi dan tentunya aman untuk dikonsumsi.

Oleh karena itu penerapan higiene dan sanitasi yang ketat dinilai sangatlah penting dalam pelaksanaan program ini, agar risiko keracunan makanan dapat ditekan semaksimal mungkin.

Ia menjelaskan bahwa ada beberapa aspek yang harus diperhatikan:

Baca juga: Rayakan HUT Presiden Prabowo, Nasi Goreng dan Telur Ceplok Jadi Menu Spesial MBG se Indonesia

Pertama, higiene penjamah makanan, yaitu penjamah makanan harus menjaga kebersihan diri, menggunakan alat pelindung diri (APD) saat mengolah makanan, tidak memegang makanan secara langsung dengan tangan kosong,  serta rutin mencuci tangan selesai dari toilet, merokok, memegang barang kotor, mengolah bahan mentah dan memegang uang.

Kedua, higiene bahan makanan. Higiene bahan makanan seperti daging, telur, ikan, ayam, serta sayuran harus dalam kondisi baik,  masih segar, tidak rusak dan tidak mengalami perubahan bentuk, warna, maupun rasa, tidak terkontaminasi dengan cemaran biologis, fisik dan kimia. Bahan makanan juga sebaiknya berasal dari pemasok yang resmi dan terpercaya.

PEMILIRAN: Astrianti Ismail merupakan mahasiswi Magister Ilmu Gizi Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Hasanuddin atau Unhas Makassar, Sulawesi Selatan
PEMILIRAN: Astrianti Ismail merupakan mahasiswi Magister Ilmu Gizi Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Hasanuddin atau Unhas Makassar, Sulawesi Selatan (Dok Pribadi Astrianti Ismail)

Ketiga, higiene sanitasi peralatan. Peralatan  yang digunakan dalam pengolahan makanan tidak boleh rusak, mudah dibersihkan, lapisan peralatan tidak boleh mudah larut dalam asam, basa atau garam yang lazim di temukan dalam proses memasak, peralatan yang kontak langsung dengan makanan tidak boleh mengeluarkan logam berat beracun, wadah makanan juga tertutup rapat agar terhindar dari lalat, debu dan sumber kontaminasi lainnya.

Keempat, Proses sanitasi peralatan.  Proses diawali dengan pencucian menggunakan sabun atau  detergen untuk menghilangkan kotoran dan sisa bahan makanan yang menempel, setelah itu  diperlukan tahapan sanitasi untuk memastikan seluruh bakteri atau patogen yang mungkin masih tertinggal dapat dimusnahkan.

Baca juga: Tahun Ini, 6.000 Dapur MBG Bakal Hadir di Daerah Terpencil

Beberapa penyanitasi yang dapat digunakan seperti larutan klorin, larutan quaternary amonium dan iodin.

Astrianti Ismail menegaskan, apabila prinsip higiene dan sanitasi diterapkan secara konsisten pada setiap tahapan mulai dari penjamah makanan, pemilihan bahan makanan hingga pengolahan dan penyajian dengan menggunakan peralatan yang layak.

Maka program Makan Bergizi Gratis (MBG) tidak hanya untuk memenuhi kebutuhan gizi siswa siswi, akan tetapi menjadi upaya yang nyata untuk mencegah terjadinya keracunan dilingkungan sekolah. (*)

Ikuti kami di

Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved