Rabu, 13 Mei 2026
Halmahera Timur
Halmahera Timur Berbenah Menuju Transformasi Kemajuan

HARITA NICKEL

Pulau Obi dan Hilirisasi Nikel: Membaca Fakta di Balik Narasi Krisis

Di Harita Nickel, pengelolaan limpasan air hujan menjadi bagian penting dalam operasional DSTF baik dari area fasilitas maupun lingkungan sekitarnya

Tayang: | Diperbarui:
Editor: Munawir Taoeda
Istimewa
PERTAMBANGAN: Tim Geotek sedang melakukan pengukuran stabilitas tanah untuk memastikan kondisi tanah mampu menopang timbunan tailing secara stabil 

Ringkasan Berita:1. Narasi tentang industri nikel di Kawasi, Pulau Obi, belakangan menguat
2. Sejumlah laporan bahkan menyebut hilirisasi sebagai “petaka”, dengan tuduhan kerusakan lingkungan hingga tekanan sosial terhadap masyaraka
3. Perdebatan mengenai hilirisasi nikel pun tidak lagi hanya soal ada atau tidaknya risiko, tetapi juga bagaimana risiko tersebut dikelola, diawasi dan dievaluasi

TRIBUNTERNATE.COM, TERNATE - Narasi tentang industri nikel di Kawasi, Pulau Obi, belakangan menguat. Sejumlah laporan bahkan menyebut hilirisasi sebagai “petaka”, dengan tuduhan kerusakan lingkungan hingga tekanan sosial terhadap masyarakat.

Di tengah kritik tersebut, muncul pertanyaan yang lebih mendasar: bagaimana keberlanjutan dijalankan dalam industri ekstraktif yang didorong untuk mendukung transisi energi, tetapi tetap menghadapi risiko ekologis dan sosial?

Pertanyaan itu juga yang disoroti akademisi School of Environmental Studies, University of Victoria, Jeremy L. Caradonna.

Ia melihat keberlanjutan bukan sebagai kondisi yang selesai dalam satu tahap, melainkan proses yang terus berkembang dalam menghadapi keterbatasan lingkungan, sosial dan kebutuhan pembangunan.

Baca juga: 12 Ramalan Zodiak Besok Kamis 14 Mei 2026: Sagitarius Humoris, Libra Penyelesaian, Scorpio Jitu

Baca juga: 12 Ramalan Keuangan Shio Besok Kamis 14 Mei 2026: Karier, Bisnis, Hoki Finansial

Dalam konteks Pulau Obi, perdebatan mengenai hilirisasi nikel pun tidak lagi hanya soal ada atau tidaknya risiko, tetapi juga bagaimana risiko tersebut dikelola, diawasi, dan dievaluasi.

Akademisi lingkungan Universitas Indonesia, Tri Edhi Budhi Soesilo, mengingatkan bahwa Indonesia sebenarnya tidak kekurangan standar.

AMDAL, Rencana Pengelolaan Lingkungan Hidup (RKL), dan Rencana Pemantauan Lingkungan Hidup (RPL) telah tersedia secara komprehensif. Persoalannya, menurut dia, terletak pada implementasi.

"Penilaian terhadap industri tidak bisa berhenti pada narasi dampak. Harus dilihat bagaimana sistem pengelolaan lingkungan dijalankan secara konkret, "ujarnya.

Fasilitas Filter Press di Fasilitas Pemrosesan Sisa Hasil Pengolahan HPAL Harita Nickel
Fasilitas Filter Press di Fasilitas Pemrosesan Sisa Hasil Pengolahan HPAL Harita Nickel (Istimewa)

Menurut Tri Edhi, industri ekstraktif memang selalu memiliki konsekuensi lingkungan yang perlu dikelola secara serius, terutama di wilayah dengan curah hujan tinggi dan bentang alam kompleks seperti Pulau Obi.

Karena itu, ukuran utama keberlanjutan bukan sekadar ada atau tidaknya risiko, melainkan bagaimana risiko tersebut dikenali, dikendalikan, dipantau, dan diperbaiki secara berkelanjutan.

Ia menilai praktik di Pulau Obi memberikan gambaran yang lebih utuh. Pengelolaan lingkungan dibangun sebagai bagian dari sistem operasional yang berkelanjutan.

Ia mencontohkan pengendalian air limpasan sebagai salah satu fokus utama. Melalui pembangunan check dam, drainase, dan kolam penampungan, aliran air hujan dikelola untuk mencegah sedimentasi sekaligus menjaga kualitas lingkungan di sekitar area operasional.

Pendekatan ini dinilai penting mengingat Pulau Obi berada di kawasan dengan intensitas hujan tinggi, sehingga pengendalian air menjadi faktor penting dalam menjaga stabilitas area tambang dan fasilitas pengolahan.

Dalam aspek pengelolaan limbah, inovasi juga mulai terlihat. Slag nikel hasil proses pirometalurgi dimanfaatkan sebagai campuran media tanam untuk reklamasi dan telah mengantongi Standar Nasional Indonesia (SNI).

"Pendekatan ini menunjukkan pergeseran dari sekadar pengelolaan limbah menuju pemanfaatan kembali yang bernilai tambah, "ujarnya.

Halaman 1/3
Ikuti kami di

Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved