Menyapa Nusantara 2026
Rafale Melesat Cepat, Bawa Indonesia Semakin Kuat
Indonesia telah menerima 6 Rafale, itu merupakan sebagian kecil dari total 42 pesawat yang sudah dibeli Kemenhan RI dari Dassault Aviation
Pesawat ini juga mampu membawa persenjataan seberat 9.500 kilogram yang ditempatkan pada 14 titik cantelan.
Pemerintah membeli 42 unit pesawat tersebut, dan hingga kini enam unit telah tiba di Indonesia. Rafale yang diakuisisi TNI AU ini dilengkapi dengan rudal meteor (Air to Air Beyond Visual Range).
Rudal ini memiliki sejumlah keunggulan, salah satunya kemampuan menjangkau target hingga radius 200 kilometer. Meteor juga dibekali mesin Variable Flow Ducted Ramjet (VFDR) yang memungkinkan rudal mempertahankan kecepatan supersonik tinggi saat melesat menuju sasaran.
Selain rudal Meteor, Rafale juga akan dipersenjatai Smart Weapon AASM Hammer. Senjata buatan Safran Group, Prancis, ini dirancang untuk menghancurkan target di darat maupun laut dengan tingkat akurasi tinggi.
AASM Hammer terdiri atas kit pemandu dan pendorong roket yang dipasang pada bom standar. Sistem tersebut memungkinkan senjata ini meluncur dalam jarak jauh dengan mekanisme fire and forget.
Daya jangkaunya bahkan dapat mencapai lebih dari 50–70 kilometer saat dilepaskan dari ketinggian, serta sekitar 15 kilometer jika diluncurkan dari ketinggian rendah.
Tentu, jika membahas spesifikasi dan kemampuan Rafale secara lebih rinci, satu tulisan saja rasanya tidak cukup untuk merangkum seluruh kecanggihannya.
Namun, kehadiran Rafale bukan sekadar menghadirkan alutsista berteknologi tinggi. Di balik itu, terdapat dampak strategis di sektor pertahanan yang turut memperkuat posisi dan kemampuan Indonesia.
Hubungan baik dengan Prancis
Bukan rahasia lagi bahwa Dassault Aviation, pabrikan Rafale, merupakan perusahaan yang berbasis di Prancis.
Namun, Indonesia tentu tidak bisa begitu saja membeli alutsista strategis dari negara tersebut. Di balik proses pengadaan itu, terdapat hubungan diplomatik yang semakin erat antara Indonesia dan Prancis, terutama dalam beberapa tahun terakhir, termasuk pada era Prabowo Subianto menjabat Menteri Pertahanan.
Hal itu disampaikan Analis dan Pemerhati Pertahanan dari Lembaga Kajian Pertahanan Strategis (Keris), Hanif Rahadian.
“Hubungan strategis Indonesia–Prancis berkembang signifikan, terutama sejak Presiden Prabowo Subianto menjabat Menteri Pertahanan,” ujar Hanif.
Pertemuan demi pertemuan yang telah terjadi membuat Indonesia bisa melenggang bebas membeli Rafale dari Prancis.
Tentu, Indonesia juga mendapat keuntungan lain dari pembelian ini. Hubungan bilateral antara Indonesia dan Prancis semakin menguat sehingga membuka kesempatan untuk kedua belah pihak menjalin kerjasama lain di bidang penguatan pertahanan.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/ternate/foto/bank/originals/Pertahanan-Indonesia.jpg)