Kamis, 21 Mei 2026
Halmahera Timur
Halmahera Timur Berbenah Menuju Transformasi Kemajuan

Menyapa Nusantara 2026

Rafale Melesat Cepat, Bawa Indonesia Semakin Kuat

Indonesia telah menerima 6 Rafale, itu merupakan sebagian kecil dari total 42 pesawat yang sudah dibeli Kemenhan RI dari Dassault Aviation

Tayang:
Editor: Munawir Taoeda
Dok ANTARA
Presiden Prabowo Subianto (ketiga kanan) didampingi Kepala Staf Angkatan Udara (Kasau) Marsekal TNI Mohamad Tonny Harjono (kedua kanan) meninjau Smart Weapon Hammer dan Missile Meteor saat serah terima alat utama sistem persenjataan (alutsista) dari Pemerintah kepada TNI di Lanud Halim Perdanakusuma, Jakarta, Senin (18/5/2026). Pemerintah menambah alutsista baru yang terdiri dari enam pesawat MRCA Rafale, empat pesawat Falcon 8X, satu pesawat A-400M, Radar GCI GM403, Smart Weapon Hammer dan Missile Meteor guna memastikan keamanan seluruh wilayah Indonesia, baik udara, laut, maupun daratan. ANTARA FOTO/Galih Pradipta/bar 

Penguatan industri pertahanan

Menurut Hanif, hubungan hangat antara Indonesia dan Prancis membawa dampak positif, tidak hanya dalam pengadaan Rafale, tetapi juga dalam pengembangan kemampuan pertahanan nasional.

Salah satu keuntungan yang dimiliki Indonesia ialah adanya ruang untuk mengembangkan kapabilitas Rafale melalui transfer teknologi maupun pelibatan industri pertahanan (inhan) dalam negeri. Hal ini menunjukkan bahwa Prancis memiliki pendekatan yang relatif lebih terbuka dibanding sejumlah negara lain yang umumnya membatasi negara pembeli dalam mengembangkan atau memperluas teknologi alutsista yang diakuisisi.

Namun, peluang tersebut perlu disambut dengan peningkatan kualitas industri pertahanan nasional. Dengan begitu, TNI AU dan inhan dalam negeri dapat bekerja sama mengembangkan teknologi Rafale agar lebih sesuai dengan doktrin dan kebutuhan tempur Indonesia.

“Penguatan kapasitas inhan nasional menjadi penting agar dukungan pemeliharaan dan sustainment armada TNI AU dapat berjalan secara konsisten, mandiri, dan berkelanjutan,” kata Hanif.

Selain itu, kehadiran Rafale juga dinilai mendorong TNI meningkatkan kapabilitas di bidang network-centric warfare serta interoperabilitas antar-matra dan antar-sistem pertahanan.​​​​​​​

Hanif menilai pengembangan sistem komunikasi satelit militer yang mandiri, disertai penggunaan datalink nasional yang aman, akan menjadi faktor krusial dalam memaksimalkan pengoperasian Rafale.

Peningkatan interoperabilitas tersebut, lanjut Hanif, hanya dapat tercapai melalui penguatan kualitas teknologi, baik lewat kerja sama dengan industri pertahanan dalam negeri maupun kolaborasi strategis dengan Prancis.

Peningkatan kualitas sumber daya manusia

Sumber daya manusia menjadi salah satu unsur paling penting dalam kemajuan pertahanan nasional. Sebab, secanggih apa pun teknologi yang dimiliki, efektivitasnya tetap bergantung pada kemampuan para awak dan operator yang mengendalikannya.

Karena itu, kehadiran Rafale juga harus diiringi dengan peningkatan kualitas SDM, mulai dari pilot hingga teknisi pendukung yang bertugas merawat pesawat di pangkalan.

Dalam proses tersebut, Prancis sebagai negara produsen turut memfasilitasi pendidikan dan pelatihan bagi para pilot serta personel pendukung lainnya untuk memahami sistem dan operasional Rafale secara menyeluruh.

Hingga saat ini, tercatat delapan pilot telah menyelesaikan pendidikan di Prancis dan dinyatakan layak menerbangkan Rafale. Selama pelatihan, mereka mempelajari berbagai aspek, mulai dari pengetahuan teknis mengenai sistem dan mesin pesawat hingga praktik penerbangan bersama instruktur pendamping.

Saat ini, masih ada empat pilot lain yang menjalani pelatihan. Nantinya, seluruh 12 pilot tersebut akan bertugas di Skadron 12 yang bermarkas di Lanud Roesmin Nurjadin, Pekanbaru, Riau.

Catatan yang harus diperhatikan

Halaman 3/4
Ikuti kami di

Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved