Saksi Kata
SAKSI KATA: Kekecewaan Calon Pengantin di Ternate, Kronologi Briptu Alfandi Batalkan Nikah di Hari-H
Kami berkesempatan mewawancarai Anisa untuk mengetahui lebih jauh kronologi kejadian, serta beberapa kejanggalan yang ia rasakan
Penulis: Iga Almira Rugaya Assagaf | Editor: Iga Almira Rugaya Assagaf
TRIBUNTERNATE.COM, TERNATE - Sebuah kisah pilu dialami oleh seorang wanita bernama Anisa setelah rencana pernikahannya dengan Briptu Alfandi Alim (AA), seorang anggota Densus 88 Mabes Polri, berakhir tragis di hari-H.
Briptu Alfandi secara sepihak tiba-tiba membatalkan pernikahan tepat di hari-H, dengan alasan sakit berat hingga tidak sanggup menggerakkan tubuhnya.
Bingung dengan keadaan saat itu, Anisa dan keluarga yang sudah menunggu untuk melangsungkan akad nikah hingga siang saat itu, memilih menyusul Briptu Alfandi untuk memastika kondisinya.
Baca juga: Temui Keluarga Anisa di Ternate, Briptu Alfandi Nyatakan Ingin Lanjutkan Pernikahan
Namun, sesampainya di sana, bukan sambutan baik yang diterima Anisa dan keluarga. Tetapi kekecewaan. Briptu Alfandi menolak ijab Kabul, padahal sudah disarankan untuk diwakilkan.
Anisa kini menuntut keadilan setelah merasa dipermalukan dan diduga ditipu oleh calon suaminya tersebut.
Kami berkesempatan mewawancarai Anisa untuk mengetahui lebih jauh kronologi kejadian, serta beberapa kejanggalan yang ia rasakan dari calon suaminya menjelang hari pernikahan.
Simak rangkuman obrolan Bersama Anisa, dalam wawancara Saksi Kata episode 21.
7 Tahun Menjalin Kasih hingga Nikah Dinas
Hubungan asmara antara Anisa dan Briptu Alfandi telah terjalin selama 7 tahun. Keseriusan hubungan ini diperkuat saat Alfandi secara pribadi mendatangi desa asal Anisa di Desa Gamsungi untuk melamar.
Sebagai anggota Polri, keduanya bahkan telah melaksanakan Sidang Nikah Dinas di Mabes Polri, Jakarta, pada 7 Mei 2026.
Setelah mengurus administrasi di Jakarta, mereka kembali ke Ternate pada 9 Mei untuk mempersiapkan acara akad nikah dan resepsi yang telah disepakati jatuh pada 16 Mei 2026.
Kejanggalan Menjelang Hari-H
Menurut Anisa, perubahan sikap mulai terlihat setelah mereka pulang dari Jakarta. Alfandi sempat mencoba menunda pernikahan dengan alasan menunggu setelah Lebaran. Selain itu, Alfandi menjadi sangat protektif terhadap ponselnya, terutama setelah mereka membeli mas kawin bersama.
Bahkan, setibanya di Ternate pada 9 Mei, Anisa mengaku menerima pesan fiktif seolah-olah dari lelaki selingkuhannya. Ia merasa dijebak punya lelaki lain.
Ia bahkan menduga bahwa pesan tersebut dikirim oleh Briptu Alfandi sendiri untuk menyudutkannya. Karena sebelumnya, Alfandi sempat menyadap WhatsApp miliknya, seakan mencari-cari kesalahan Anisa untuk alasan menunda atau membatalkan pernikahan.
Muncul juga kebohongan pada malam menjelang akad (15 Mei). Alfandi mengaku kepada ibunya bahwa surat izin dari Mabes Polri belum keluar. Ibu Alfandi lantas melampiaskan kekesalan pada Anisa. Padahal, Anisa mengetahui bahwa surat izin tersebut sudah diterbitkan sejak tengah malam.
Dugaan Skenario Sakit Mendadak di Hari Pernikahan
Pada pagi hari tanggal 16 Mei, saat Anisa sedang dirias, ibu Alfandi menghubungi dan mengabarkan bahwa anaknya tiba-tiba lumpuh mendadak, dengan penglihatan kabur serta tangan dan kaki yang tidak bisa digerakkan.
| Cerita Aminah, Gempa M 7,6 Runtuhkan Sebagian Rumahnya: Saya Tidak Berani Tidur di Kamar Lagi |
|
|---|
| Kisah Pilu Rohana, Guru di Ternate Kehilangan Rumah Akibat Kebakaran: 'Habis Tak Tersisa' |
|
|---|
| SAKSI KATA: Direktur PT Betteravel Indonesia Ternate Mengurai Polemik Dugaan Penipuan Umrah |
|
|---|
| SAKSI KATA: Melihat Lebih Dekat Kasus HIV/AIDS di Ternate dari Kacamata Petugas Lapangan |
|
|---|
| SAKSI KATA: Cerita Keluarga Korban Dugaan TPPO Empat Warga Halmahera Selatan di Myanmar |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/ternate/foto/bank/originals/saksi-kata-21_briptu-alfandi.jpg)