Pada akhirnya, tantangan terbesar pembangunan SDM Indonesia bukan sekadar bagaimana menciptakan individu yang cerdas dan terampil, melainkan bagaimana membentuk manusia Indonesia yang tetap teguh memegang nilai-nilai Pancasila di tengah derasnya arus perubahan global. Tanpa fondasi tersebut, pembangunan SDM berisiko kehilangan arah dan hanya akan menghasilkan kemajuan yang bersifat materialistik semata.
Oleh karena itu, ketika bangsa ini membicarakan masa depan SDM Indonesia, sejatinya yang perlu dibangun bukan hanya kompetensi, melainkan juga karakter kebangsaan. Di sinilah Pancasila menemukan relevansinya yang mendalam. Ia bukan sekadar warisan sejarah atau simbol kenegaraan, melainkan kompas moral yang harus memandu perjalanan Indonesia menuju masa depan. Mengabaikan Pancasila dalam pembangunan SDM berarti mengabaikan esensi jati diri bangsa itu sendiri. Dan itulah agenda besar yang selama ini, disadari atau tidak, mulai terabaikan. (*)