Kamis, 4 Juni 2026
Halmahera Timur
Halmahera Timur Berbenah Menuju Transformasi Kemajuan

Pemkab Halmahera Selatan

Atasi Anak Putus Sekolah di Pesisir, Diknas Halmahera Selatan Gencarkan Inovasi "SARUMA CERDAS"

Berdasarkan data Dinas Pendidikan Halmahera Selatan di 2025, masih ada 9.696 anak usia 7-15 tahun yang belum mengakses layanan pendidikan formal

Tayang:
Penulis: Nurhidayat Hi Gani | Editor: Munawir Taoeda
TribunTernate.com/Nurhidayat Hi Gani
PENDIDIKAN: Kepala Dinas Pendidikan Halmahera Selatan Siti Khodija. Berdasarkan data yang dikantongi di 2025, tercatat masih ada 9.696 anak usia 7-15 tahun yang belum mengakses layanan pendidikan formal 

Ringkasan Berita:1. Tingginya angka anak putus sekolah di wilayah kepulauan mendorong Dinas Pendidikan Halmahera Selatan untuk menggencarkan inovasi pembelajaran berbasis adaptif
2. Salah satu model yang mulai diterapkan Dinas Pendidikan Halmahera Selatan adalah "SARUMA CERDAS"
3. Pendekatan ini menggunakan sistem jemput bola oleh guru perahu dan tutor sebaya untuk menjangkau anak-anak di pulau-pulau kecil serta kawasan pesisir

TRIBUNTERNATE.COM, BACAN - Tingginya angka anak putus sekolah di wilayah kepulauan mendorong Dinas Pendidikan Halmahera Selatan, Maluku Utara untuk menggencarkan inovasi pembelajaran berbasis adaptif.

Salah satu model yang mulai diterapkan Dinas Pendidikan Halmahera Selatan adalah "SARUMA CERDAS".

Pendekatan ini menggunakan sistem jemput bola oleh guru perahu dan tutor sebaya untuk menjangkau anak-anak di pulau-pulau kecil serta kawasan pesisir, melalui kurikulum yang disesuaikan dengan kondisi wilayah mereka.

Berdasarkan data Dinas Pendidikan Halmahera Selatan di 2025, tercatat masih ada 9.696 anak usia 7-15 tahun yang belum mengakses layanan pendidikan formal. Faktor utamanya meliputi:

Baca juga: KJH FC Tumbangkan DPRD FC 1-0 dalam Laga Fun Football PWI Cup I Halmahera Selatan

1. Keterbatasan akses transportasi laut

2. Jarak sekolah yang terlalu jauh dari rumah

2. Kondisi ekonomi yang memaksa anak-anak ikut membantu orang tua melaut

"Kita tidak bisa menggunakan model sekolah reguler untuk semua wilayah, "ujar Kepala Dinas Pendidikan Halmahera Selatan Siti Khodija dalam keterangannya, Rabu (3/6/2026).

"Di Halmahera Selatan, laut adalah jalan utama, kalau sekolah tidak bisa dijangkau oleh anak, maka gurulah yang harus datang menemui anak, "sambungnya.

Dijelaskan, metode guru perahu dan tutor sebaya ini mengusung kurikulum adaptif yang tidak terpaku pada target akademik yang kaku.

Materi difokuskan pada kebutuhan dasar literasi, numerasi serta keterampilan hidup (life skills) anak pesisir.

Sebagai contoh, pembelajaran matematika dikaitkan langsung dengan aktivitas menghitung hasil tangkapan ikan.

Sedangkan pembelajaran literasi menggunakan pendekatan cerita rakyat lokal daerah (Halmahera Selatan).

"Anak-anak jadi lebih cepat tanggap karena yang dipelajari ada di kehidupan mereka sehari-hari."

"Target utamanya bukan sekadar mengejar ujian, tapi memastikan mereka bisa baca, tulis, hitung dan punya bekal untuk melanjutkan ke jenjang yang lebih tinggi, "papar Siti.

Sumber: Tribun Ternate
Halaman 1/2
Ikuti kami di

Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved