Jumat, 12 Juni 2026
Halmahera Timur
Halmahera Timur Berbenah Menuju Transformasi Kemajuan

Opini

Menghidupkan Kembali 'Agent of Change' yang Mati di Layar Gadget

Abdullah Adam: Mahasiswa adalah penyambung lidah rakyat yang paling lantang, sebuah kekuatan moral yang siap berdiri di garis depan

Tayang:
Editor: Munawir Taoeda
Istimewa/Kolase Tribunternate.com
OPINI: Abdullah Adam, Pemuda Kelurahan Rua, Pulau Ternate 

Abdullah Adam
Pemuda Rua Pulau Ternate

DAHULU, kata 'mahasiswa' selalu bersanding erat dengan perubahan. Di pundak mereka, ada titipan harapan dari jutaan rakyat yang tidak memiliki suara.

Mahasiswa adalah penyambung lidah rakyat yang paling lantang, sebuah kekuatan moral yang siap berdiri di garis depan menjadi check and balance ketika kebijakan pemerintah mulai berbelok membelakangi kepentingan publik.

Sejarah bangsa ini bahkan mencatat dengan tinta emas bagaimana "parlemen jalanan" mampu mengubah arah sejarah.

​Namun hari ini, riuh rendah suara perjuangan itu seolah lenyap, digantikan oleh keheningan yang mengkhawatirkan.

Mahasiswa yang digadang-gadang sebagai agent of change (agen perubahan) tampaknya sedang mengalami mati suri.

​Terbuai Alogaritma, Lupa Realita

​Realitas hari ini memperlihatkan pemandangan yang miris. Ketika kebijakan publik yang kontroversial diketuk, atau ketika jeritan rakyat kecil menggema di ruang-ruang publik, respon yang muncul dari kalangan akademis muda ini kerap kali suam-suam kuku.

Mengapa? Jawabannya mungkin ada di genggaman tangan mereka masing-masing.

​Generasi muda kita hari ini tengah terbuai dalam candu digital. Waktu dan energi yang seharusnya dialokasikan untuk mendiskusikan isu-isu krusial bangsa, justru habis tersedot oleh algoritma TikTok, Instagram, dan media sosial lainnya.

Ruang diskusi publik yang dulunya hidup di koridor kampus, kini bergeser menjadi ajang berburu konten viral yang acap kali dangkal dan sekadar hiburan semata.

​Kita tidak sedang anti-teknologi. Namun, ketika gawai membuat mahasiswa menjadi apatis terhadap penderitaan di sekitarnya, di situlah letak petakanya.

Mereka lupa bahwa ada tanggung jawab besar yang melekat pada status 'mahasiswa 'sebuah hak istimewa yang tidak dimiliki oleh semua pemuda di negeri ini.

​Urgensi Menghidupkan Fungsi Kontrol

​Media sosial seharusnya menjadi alat penguat gerakan, bukan malah menjadi candu yang meninabobokan.

Sumber: Tribun Ternate
Halaman 1/2
Ikuti kami di

Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved