Kamis, 7 Mei 2026
Halmahera Timur
Halmahera Timur Berbenah Menuju Transformasi Kemajuan

Liputan Wisata

Menelusuri Jejak Kopi di Benteng Oranje Ternate Pada Era Kolonial

Dalam sejarahnya, kopi mulai mendapatkan peran penting ketika VOC menerapkan kebijakan hongitochten pada 1625, yakni pembasmian tanaman rempah

Tayang: | Diperbarui:
TribunTernate.com/Iga Almira Rugaya Assagaf
LOCAL EXPERIENCE - Budayawan sekaligus Sekretaris Dinas Pariwisata Kota Ternate, Rinto Taib ketika diwawancarai di Benteng Oranje, Kelurahan Gamalama, Kecamatan Ternate Tengah, Kota Ternate, Maluku Utara, Senin (8/12/2025). Di mana, Rinto Taib menjelaskan soal adanya jejak kopi di Benteng Oranje Ternate pada era kolonial. 

TRIBUNTERNATE.COM, TERNATE - Benteng Oranje di Kota Ternate ternyata tidak hanya menyimpan jejak sejarah rempah-rempah seperti pala dan cengkeh, tetapi juga menyimpan kisah panjang tentang kopi yang pernah menjadi bagian penting dalam kehidupan kolonial.

Jejak itu kini kembali diulas bertepatan dengan peringatan Hari Rempah Nasional, 11 Desember 2025. Budayawan sekaligus Sekretaris Dinas Kebudayaan Kota Ternate, Rinto Taib, bercerita, sejak kedatangan bangsa Eropa pada akhir abad ke-16, Benteng Oranje bukan hanya berfungsi sebagai benteng pertahanan, tetapi juga sebagai pusat permukiman dan kehidupan bangsa kolonial. 

Kehadiran Belanda pada 1599 membawa perubahan besar dalam pola perdagangan rempah, yang tidak lagi terbatas pada pala dan cengkeh, tetapi juga mencakup komoditas lain seperti lada, kayu manis, hingga kopi.

Baca juga: Pemda, BPK Wilayah XXI dan Pelaku Budaya Bicara Tenun Halmahera Barat: "Ini Harus Terus Ada"

LOCAL EXPERIENCE - Budyawan sekaligus Sekretaris Dinas Pariwisata Kota Ternate, Rinto Taib ketika diwawancarai di Benteng Oranje, Kelurahan Gamalama, Kecamatan Ternate Tengah, Kota Ternate, Maluku Utara, Senin (8/12/2025).
LOCAL EXPERIENCE - Budyawan sekaligus Sekretaris Dinas Pariwisata Kota Ternate, Rinto Taib ketika diwawancarai di Benteng Oranje, Kelurahan Gamalama, Kecamatan Ternate Tengah, Kota Ternate, Maluku Utara, Senin (8/12/2025). (TribunTernate.com/Iga Almira Rugaya Assagaf)

Dalam sejarahnya, kopi mulai mendapatkan peran penting ketika VOC menerapkan kebijakan hongitochten pada 1625, yakni pembasmian tanaman pala dan cengkeh di luar Ambon. Kebijakan ini mendorong pencarian komoditas alternatif, dan kopi kemudian ditanam sebagai pengganti pala dan cengkeh di sejumlah wilayah, termasuk Ternate.

"Sehingga, dalam proses membasmi pala dan cengkeh tersebut ada kebijakan lain sebagai alternatif tanaman untuk menggantikan pala dan cengkeh adalah kopi." Jelas Rinto Taib, ketika diwawancarai pada Senin (8/12/2025), di Benteng Oranje Ternate.

Kopi yang berkembang di Ternate pada masa itu bukan jenis arabika atau robusta, melainkan liberika. Kata Rinto Taib, jenis kopi ini berasal dari Afrika dan dibawa melalui jalur perdagangan global. 

Liberika dikenal memiliki nilai eksklusif dan harga yang mahal, sehingga konsumsinya kala itu lebih diperuntukkan bagi kalangan tertentu, terutama para petinggi Belanda dan bangsawan lokal.

LOCAL EXPERIENCE - Budyawan sekaligus Sekretaris Dinas Pariwisata Kota Ternate, Rinto Taib ketika diwawancarai di Benteng Oranje, Kelurahan Gamalama, Kecamatan Ternate Tengah, Kota Ternate, Maluku Utara, Senin (8/12/2025).
LOCAL EXPERIENCE - Budyawan sekaligus Sekretaris Dinas Pariwisata Kota Ternate, Rinto Taib ketika diwawancarai di Benteng Oranje, Kelurahan Gamalama, Kecamatan Ternate Tengah, Kota Ternate, Maluku Utara, Senin (8/12/2025). (TribunTernate.com/Iga Almira Rugaya Assagaf)

"Peruntukkannya itu untuk apa? Yang pasti untuk memenuhi kebutuhan para petinggi yang menyukai cita rasa kopi yang bernilai mahal saat itu dan juga jenis kopi ini memiliki nilai ekslusif di kalangan masyarakat Ternate sendiri dan sekitarnya karena didatangkan dari luar dan menjadi komoditi yang sangat mahal." Ujarnya.

Selain itu kata Rinto Taib, sebagai pusat permukiman orang Eropa, Benteng Oranje juga dikenal sebagai City of Malayo, sebuah pusat kehidupan kota. Di kawasan inilah budaya minum kopi berkembang sebagai bagian dari gaya hidup masyarakat perkotaan kolonial. Kopi menjadi minuman istimewa yang disajikan dalam interaksi sosial, khususnya di kalangan bangsawan dan pejabat VOC.

"Artinya bahwa sebuah pusat kehidupan Kota, konsumsi kopi menjadi bagian dari gaya hidup orang Kota. Oleh sebab itu, konsumsi kopi sangat istimewa karena hanya diperuntukkan bagi kalangan tertentu misalnya bangsawan di keraton, serta untuk masyarakat di pemukiman benteng itu sendiri."

Jejak budaya kopi tersebut kata Rinto, masih dapat dilacak hingga kini melalui peninggalan arkeologis berupa rumah tungku yang berada di belakang bekas kediaman Gubernur Jenderal VOC di dalam Benteng Oranje. 

LOCAL EXPERIENCE - Salah satu kawasan di Benteng Oranje, Kelurahan Gamalama, Kecamatan Ternate Tengah, Kota Ternate, Maluku Utara, Senin (8/12/2025).
LOCAL EXPERIENCE - Salah satu kawasan di Benteng Oranje, Kelurahan Gamalama, Kecamatan Ternate Tengah, Kota Ternate, Maluku Utara, Senin (8/12/2025). (TribunTernate.com/Iga Almira Rugaya Assagaf)

Keberadaan tungku ini menjadi bukti kuat bahwa kopi memiliki posisi penting, tidak hanya sebagai komoditas perdagangan global, tetapi juga sebagai bagian dari kehidupan sehari-hari di benteng tersebut.

Sementara untuk kebutuhan perkebunan berskala besar, Rinto Taib menyebut bahwa kopi tidak ditanam di dalam kawasan Benteng Oranje. Lahan perkebunan kopi pada masa kolonial berada di wilayah daratan tinggi yang kini dikenal sebagai Kelurahan Malikurubu atau kawasan Torano.

"Karena dalam perkembangannya kopi tidak hanya untuk konsumsi kalangan tertentu saja tapi sudah bernulai industri yakni ekspor, maka diperlukan Kawasan yang khusus untuk tanaman kopi ini,"

"Hingga kini, kawasan tersebut masih dikenal masyarakat dengan sebutan Kaha Kopi atau Tanah Kopi, menandakan fungsinya sebagai bekas perkebunan kopi di era Belanda."

Uniknya, Rinto Taib menjelaskan bahwa meski terdapat rumah tungku di belakang rumah Gubernur Jenderal VOC untuk mengolah kopi pada saat itu, prosesnya tidak semudah yang dibayangkan, karena keterbatasan moda transportasi saat itu.

"Tentu di masa itu tidak ada kendaraan seperti sekarang, oleh sebab itu tenaga manusialah satu-satunya yang bisa dimanfaatkan. Beruntung, saat itu pengolahan kopi di perkebunan sudah cukup modern,"

"Maka ada moda angkutan berupa kereta yang digunakan untuk mengangkut biji kopi ini ke Benteng Oranje. Ada jalur keretanya namun sayang saat ini kita tidak bisa melihat jalur itu lagi karena pembangunan yang ada. Jalur itu sudah tertutup aspal,"

"Tetapi, informasi ini masih terus diwariskan dari generasi ke generasi. Bahwa pada saat itu, ada jalur kereta yang digunakan untuk mengangkut biji kopi dari perkebunan ke dalam Benteng Oranje," tuturnya.

Seiring waktu, kata Rinto Taib, perkebunan kopi di Torano mengalami penyusutan akibat alih fungsi lahan dan perubahan minat pasar. Meski demikian, sisa-sisa tanaman kopi liberika masih dapat ditemukan, meski tidak lagi dibudidayakan secara khusus seperti pada masa kolonial.

Dalam konteks kekinian, budaya minum kopi masih hidup di Benteng Oranje. Kawasan ini kini menjadi ruang publik dan destinasi favorit masyarakat untuk menikmati kopi.

Hampir setiap kafe dan pelaku UMKM di dalam benteng menyediakan menu kopi, meski jenis yang disajikan umumnya robusta, bukan lagi liberika seperti di masa lalu.

"Liberika kini tidak terlalu diminati karena harganya mahal meskipun masih banyak peminatnya karena memiliki cita rasa yang eksklusif lebih dari arabika maupun robusta," kata Rinto Taib.

Menurutnya, mengangkat kisah kopi dalam peringatan Hari Rempah Nasional menjadi penting karena kopi juga memiliki nilai sejarah, budaya, dan politik ekonomi global yang kuat. 

Kopi pernah menjadi komoditas strategis yang menggantikan pala dan cengkeh akibat kebijakan kolonial, sekaligus memperkuat posisi Ternate dalam peta perdagangan dunia.

Ia juga menekankan pentingnya peran generasi muda untuk memahami bahwa julukan Kota Rempah bukan sekadar slogan, melainkan refleksi dari perjalanan sejarah panjang Ternate

Pemahaman terhadap jejak kopi, rempah, dan peninggalan sejarah seperti Benteng Oranje diharapkan dapat memperkuat identitas budaya sekaligus mendukung pengembangan city branding Kota Ternate sebagai Kota Rempah.

"Kami dari Pemerintah Daerah tentu selalu berupaya untuk memperkuat city branding Kota Ternate Kota Rempah. Termasuk mendukung para UMKM yang menjual produk olahan berbahan rempah." Pungkasnya. (*)

Sumber: Tribun Ternate
Ikuti kami di

Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved