Minggu, 31 Mei 2026
Halmahera Timur
Halmahera Timur Berbenah Menuju Transformasi Kemajuan

Rumput Laut Indonesia Disulap Jadi Kancing Baju dan Kacamata di Australia

Melalui teknologi bioplastik, rumput laut hasil budidaya petani Indonesia diolah menjadi berbagai produk seperti kancing baju, bingkai kacamata

Tayang:
Tribunnetwork.com
HASIL PRODUKSI RUMPUT LAUT - Produk akhir rumput laut seperti kacamata, kancing baju dan kain. Produl ramah lingkungan pengganti plastik diproduksi Start-up Australia, Uluu. Bahan baku diimpor dari Indonesia. (Tribun Network/Domu D. Ambarita) 

TRIBUNTERNATE.COM - Rumput laut Indonesia kini tidak hanya dimanfaatkan sebagai bahan makanan, tetapi juga menjadi bahan baku produk ramah lingkungan bernilai tinggi di Australia.

Melalui teknologi bioplastik, rumput laut hasil budidaya petani Indonesia diolah menjadi berbagai produk seperti kancing baju, bingkai kacamata, kain, hingga komponen interior kendaraan.

Potensi ekonomi yang diperoleh petani pun cukup menjanjikan. Dalam satu siklus panen selama 45 hari, petambak ikan atau udang yang menanam rumput laut dapat memperoleh tambahan pendapatan sekitar Rp7 juta hingga Rp8 juta.

Baca juga: Murid Dilarang Bermedsos, Mahasiswa Cari Pacar Kutu Buku dan Tinggalkan Smartphone

KERJA SAMA INDONESIA - Anggota parlemen Australia merangkap Menteri Pembangunan Internasional, Menteri Usaha Kecil, Menteri Urusan Kemajemukan Dr Anne Aly, mengatakan kerja sama Australia dan Indonesia sangat strategis. Anne Adalah Muslimah pertama menteri di Negeri Kanguru. (Tribunnews.com/Domu D Ambarita)
KERJA SAMA INDONESIA - Anggota parlemen Australia merangkap Menteri Pembangunan Internasional, Menteri Usaha Kecil, Menteri Urusan Kemajemukan Dr Anne Aly, mengatakan kerja sama Australia dan Indonesia sangat strategis. Anne Adalah Muslimah pertama menteri di Negeri Kanguru. (Tribunnews.com/Domu D Ambarita) (Tribunnetwork.com)

Hal itu terungkap dalam kunjungan delegasi Australia-Indonesia Senior Editors Program ke Australia Barat yang difasilitasi Kedutaan Besar Australia untuk Indonesia.

Pada hari kedua kegiatan, delegasi bertemu dengan Menteri Pembangunan Internasional, Menteri Usaha Kecil, dan Menteri Urusan Kemajemukan Australia, Anne Aly, di Perth.

Anne Aly yang merupakan migran asal Mesir dan muslimah pertama yang menjadi menteri dalam sejarah Australia menyampaikan pentingnya kemitraan antara Australia dan Indonesia.

"Sebagai seorang migran, dan juga sebagai seorang Muslimah, kita cukup dewasa sebagai sebuah negara untuk mengembangkan kemitraan semacam ini dengan negara mayoritas Muslim terbesar di dunia, Indonesia. Itu sangat berarti bagi saya pribadi. Sebagai Anggota Parlemen dan sebagai menteri, itu sangat berarti bagi saya dalam hal hubungan antarmasyarakat," ujar Anne.

Anne mengaku telah mengunjungi Jakarta dan Surabaya serta melihat berbagai proyek kerja sama kedua negara, terutama di bidang manajemen bencana dan penyandang disabilitas.

Terkait perannya sebagai Menteri UMKM, Anne menyebut masih banyak peluang kolaborasi yang dapat dikembangkan bersama Indonesia, khususnya dalam pemberdayaan perempuan, disabilitas, dan sektor kesehatan.

Rumput Laut Pengganti Plastik

Hasil Produksi Rumput Laut_kacamata
HASIL PRODUKSI RUMPUT LAUT - Produk akhir rumput laut seperti kacamata, kancing baju dan kain. Produl ramah lingkungan pengganti plastik diproduksi Start-up Australia, Uluu. Bahan baku diimpor dari Indonesia. (Tribun Network/Domu D. Ambarita)

Sebagai pengganti jadwal usai makan siang, delegasi berkunjung ke kawasan pantai, di pinggir laut West Coast Drive, Watermas Bay. Matahaari Terik, namun cuaca sejuk, sekitar 14 derajat Celsius. Kami jogging usai makan siang, sebelum pertemuan formal. Lalu, diskusi dengan manajemen perusahaan start-up yang beroperasi sejak 2021, Uluu. Disambut Michelle Wheeler, Kepala Komunikasi Uluu, dan terhubung virtual melalui layar dalam jaringan (online) dengan CEO Uluu Indonesia Dian Kurniawati, yang tengah berada di Indonesia. Perusahaan ini memang menggunakan brand yang sangat singkat, Uluu.

Michelle presentasi bagaimana sebaran sampah plastik telah mencemari daratan, Sungai dan lauatan. Sampah yang susah terurai. Kemudian dia menjelaskan, Uluu telah menemukan teknologi baru mengolah rumput laut pengganti plastik. “Kualitasnya lebih bagus, dan harganya lebih murah,” kata Michelle, yang punya pengalaman 15 tahun sebagai wartawan sains dan teknologi.

Delegasi kemudian dibawa berkeliling kantor, melihat proses produksi rumput laut, yang diimpor dari Sulawesi Selatan, Jawa Timur dan Nusa Tenggara Timur. Michelle memperlihatkan mata rantai proses rumput laut, termasuk menyaksikan rumput laut kering warna kuning keemasan dalam bungkusan bal plastik.  

Hasil akhir produksinya, butiran-butiran kancing baju, frame atau bingkai kacamata –yang bentuknya mirip dengan kacamata Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi Prof Stella Christie. Michelle menekuk frame kacamata yang sangat elastis. Juga tampak lembaran kain, dan semacam bagian dari dashboard mobil.

Dian Kurniawati menjelaskan, rumput laut ditanam petani/petambak yang biasa pelihara ikan bandeng, atau ikan bawal atau udang. Sembari bertambak, menanam rumput laut. ”Masa panen rata-rata 45 hari. Selain mendapat hasil panen dari ikan atau udang, juga dapat panen rumput laut. Hasil sekali panen, kira-kira Rp 7 juta sampai Rp 8 juta,” kata Dian.

Uluu membeli rumput laut dalam standar kualitas tinggi dalam harga yang bagus. Menurutnya, Uluu menampung rata-rata 10 ton rumput lauat dari Indonesia. 

Halaman 1/2
Ikuti kami di

Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved