Halmahera Timur
Halmahera Timur Berbenah Menuju Transformasi Kemajuan

Ucapan Presiden Perancis Emmanuel Macron Tuai Kecaman, Al Qaeda Ancam Bunuh Penghina Nabi Muhammad

jaringan Al Qaeda di Islam Maghreb mendesak para pengikutnya untuk membunuh siapa pun yang menghina Nabi Muhammad SAW.

AP/Mahmud Hossain Opu
Para pendukung Islami Andolan Bangladesh, sebuah partai politik Islam, membawa guntingan foto Presiden Perancis Emmanuel Macron dengan kalung di sekelilingnya saat mereka memprotes penerbitan karikatur Nabi Muhammad yang mereka anggap menghujat, di Dhaka, Bangladesh, Selasa (27/10/2020). Muslim di Timur Tengah dan sekitarnya pada Senin menyerukan boikot produk Perancis dan protes atas karikatur, tetapi Macron telah berjanji negaranya tidak akan mundur dari cita-cita sekuler dan pembelaan kebebasan berbicara. 

"Boikot sudah menjadi tugas, tetapi itu tidak cukup," lanjut Al Qaeda AQMI dalam pernyataannya.

Organisasi militan Islam tersebut juga mengancam untuk membalas dendam terhadap pernyataan Emmanuel Macron.

AQMI juga mendeskripsikan Emmanuel Macron sebagai sosok yang "masih muda dan tidak berpengalaman, dengan otak yang kecil" serta mengatakan bahwa "Presiden Perancis ngotot untuk menghina Nabi."

Baca juga: Kronologi Tewasnya 3 Korban dalam Penyerangan Pisau di Perancis, Salah Satunya Dipenggal

Baca juga: Emmanuel Macron dan Kontroversi Kartun Nabi Muhammad, Negara-negara Arab Boikot Produk Perancis

KLARIFIKASI PRESIDEN PERANCIS EMMANUEL MACRON

Presiden Perancis Emmanuel Macron mengatakan dia dapat memahami kemarahan umat Muslim yang dikejutkan oleh kartun kontroversial yang menggambarkan Nabi Muhammad.

Namun dalam sebuah wawancara dengan Al Jazeera, dia menegaskan dia tidak pernah bisa menerima pembenaran atas tindakan kekerasan.

Macron mengatakan posisinya telah disalahpahami: bahwa perannya bukanlah mendukung konten kartun, yang dipandang sebagai penghujatan oleh umat Islam, tetapi untuk membela hak atas kebebasan berekspresi.

"Perancis berada dalam kondisi syok setelah serangan ini, dengan perasaan sedih dan marah. Dan untuk pertama kalinya saat kami mengalami serangan ini, ada reaksi kuat yang menyerang Perancis secara internasional, atas dasar banyak kesalahpahaman dan itulah mengapa saya ingin menjernihkannya," ujar Macron kepada Al Jazeera.

Pernyataan itu disampaikan setelah serangan mematikan di sebuah gereja di Nice, yang menewaskan tiga orang; insiden serangan ketiga yang diduga dilakukan oleh kelompok radikal dalam satu bulan terakhir.

Selain itu, Perancis juga mengalami sejumlah boikot dari negara-negara Islam.

Macron mengatakan, dia meyakini bahwa reaksi keras dari negara-negara Muslim karena orang-orang telah salah memahami bahwa dia mendukung kartun itu, atau bahwa kartun itu dibuat oleh pemerintah Perancis.

"Saya memahami sentimen yang diungkapkan. Tapi Anda harus memahami tugas saya sekarang, yakni melakukan dua hal: untuk menenangkan kondisi dan juga melindungi hak-hak ini," ujarnya, merujuk pada hak berekspresi bagi mereka yang menciptakan kartun tersebut.

"Saat ini di dunia ada orang yang mendistorsi Islam dan dengan mengatasnamakan membela agama, mereka membunuh, mereka membantai... saat ini ada kekerasan yang dilakukan oleh gerakan dan individu ekstremis yang mengatasnamakan Islam."

Emmanuel Macron juga mengatakan pemboikotan produk-produk Perancis yang diserukan di tengah kemarahan negara Islam itu "tidak dapat diterima."

Konteks dari pernyataan Macron

Tiga orang ditikam hingga tewas di Nice pada Kamis oleh seorang pria Tunisia yang tiba di kota bagian selatan Perancis itu sehari sebelumnya.

Halaman
123
Sumber: Tribun Palu
Berita Terkait
Ikuti kami di
AA

Berita Terkini

© 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved