Breaking News:

Kebijakan Impor Garam Tuai Kritikan dari Ketua MPR RI dan Anggota DPR Komisi VI

Rencana impor garam dinilai sebagai bentuk nyata dari kegagalan pemerintah dalam meningkatkan potensi garam nasional.

TribunJabar.id/Siti Masithoh
Seorang petani garam, Raji (52), menggunakan teknologi geomembran dalam proses pembuatan garam di Desa Pegagan Lor, Kecamatan Kapetakan, Kabupaten Cirebon, Minggu (21/10/2018). 

TRIBUNTERNATE.COM - Pemerintah melalui Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian berencana membuka keran impor garam tahun 2021 sebanyak 3,07 juta ton.

Angka impor garam tahun ini mengalami kenaikan dibandingkan tahun 2020 lalu yang tercatat sebanyak 2,7 juta ton.

Rencana pemerintah yang akan kembali melakukan impor garam dinilai sebagai bentuk nyata dari kegagalan pemerintah dalam meningkatkan potensi garam nasional.

Indonesia diketahui memiliki garis pantai sepanjang 95.181 kilometer dan merupakan garis pantai terpanjang kedua di dunia.

Namun, Indonesia tidak mampu dimanfaatkan untuk mencukupi kebutuhan garam di dalam negeri dan memilih mengimpor garam dari negara-negara dengan garis pantai yang jauh lebih pendek ketimbang negeri ini.

Kebijakan impor garam ini pun menuai kritikan dari sejumlah pihak, di antaranya Ketua MPR RI Bambang Soesatyo dan Anggota Komisi IV DPR RI Ema Umiyyatul Chusnah.

1. Ketua MPR RI Bambang Soesatyo: Pemerintah Diminta Pertimbangkan Nasib Petambak Garam Lokal

Ketua MPR RI Bambang Soesatyo mengingatkan pemerintah agar mempertimbangkan nasib petambak garam lokal yang dapat terdampak akibat kebijakan ini.

"Meminta pemerintah mempertimbangkan produksi garam dari petambak yang ada serta mengkaji kembali rencana impor garam tersebut, mengingat impor garam yang berlebihan tentunya akan merugikan petambak garam disamping dapat mempengaruhi peningkatan harga garam lokal," ujar pria yang akrab disapa Bamsoet ini kepada wartawan, Selasa (23/3/2021).

Seorang petani garam, Raji (52), menggunakan teknologi geomembran dalam proses pembuatan garam di Desa Pegagan Lor, Kecamatan Kapetakan, Kabupaten Cirebon, Minggu (21/10/2018).
Seorang petani garam, Raji (52), menggunakan teknologi geomembran dalam proses pembuatan garam di Desa Pegagan Lor, Kecamatan Kapetakan, Kabupaten Cirebon, Minggu (21/10/2018). (TribunJabar.id/Siti Masithoh)

Baca juga: Polemik Kebijakan Impor Beras, Mendag Muhammad Lutfi: Kalau Memang Saya Salah, Saya Siap Berhenti

Baca juga: Rencana Impor Beras 1 Juta Ton Tuai Kritikan dari Faisal Basri, Rizal Ramli, hingga Febri Diansyah

Dia juga meminta adanya dukungan dan bantuan pemerintah bagi petambak garam untuk memberikan bimbingan teknik.

Halaman
123
Editor: Rizki A
Sumber: Tribunnews
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved