Breaking News:

Virus Corona

Kasus Covid-19 Melonjak, Ketua Satgas Covid-19 IDI Zubairi Djoerban Sebut Lockdown Perlu Diterapkan

Mengingat pandemi Covid-19 semakin parah, menurut Zubairi Djoerban, yang dibutuhkan adalah pembatasan pergerakan masyarakat.

Penulis: Rizki A. Tiara | Editor: Rohmana Kurniandari
Kompas.com/Sania Mashabi
Dokter spesialis penyakit dalam (internis) sekaligus Ketua Satgas Covid-19 Ikatan Dokter Indonesia (IDI), Prof. Dr. Zubairi Djoerban, Sp.PD-KHOM. 

Sehingga, masyarakat diharapkan dapat menyadari betapa gawatnya pandemi Covid-19 saat ini.

Namun, Zubairi menyebut bahwa lockdown tidak perlu diterapkan terlalu lama.

Sementara, dibutuhkan pula kesabaran sekaligus kesadaran dari semua pihak dalam menghadapi pandemi.

"PPKM Mikro belum cukup?

Ya lihat saja kondisi sekarang bagaimana. Kebijakan lockdown akan mengesankan bahwa situasi saat ini benar-benar darurat sehingga masyarakat juga sadar akan hal itu. Tidak usah lama-lama--dan memang butuh kesabaran serta kesadaran dari semua pihak."

Di bagian terakhir utas cuitannya, Zubairi Djoerban menjelaskan apakah lockdown dapat menjamin terkendalinya pandemi Covid-19.

Menurut Zubairi, lockdown akan efektif dalam mengendalikan pandemi Covid-19 jika dilakukan dengan benar.

Namun, Zubairi tidak bisa memaksakan penerapan lockdown.

Ia tetap memposisikan dirinya sebagai dokter yang menginginkan keselamatan dan kesehatan masyarakat.

Serta menyerahkan kepada pemerintah yang berwenang untuk memberlakukan lockdown.

"Apakah lockdown sebuah jaminan?

Asal dilakukan dengan benar ya akan efektif. Namun saya juga tidak bisa memaksakan. Itu terserah yang punya kewenangan. Sebagai dokter, tentu saja saya ingin memprioritaskan keselamatan dan kesehatan.

Terima kasih."

Mantan Direktur WHO Asia Tenggara: Lockdown Total Perlu Diberlakukan

Mantan Direktur WHO Asia Tenggara Prof Tjandra Yoga Aditama mengatakan, pembatasan sosial sesuatu yang mutlak diperlukan saat ini.

Pembatasan sosial dapat saja hanya amat terbatas, atau sedikit lebih luas, atau memang luas sampai kepada lockdown total.

"Yang pasti, dengan perkembangan sekarang, tidak mungkin lagi hanya meneruskan program yang sudah ada, sekarang harus ada peningkatan pembatasan sosial secara nyata dan jelas," kata dia melalui pesan tertulis yang diterima Tribunnews.com, Jumat (18/6/2021).

Ia mengatakan, pemerintah harus melakukan penanganan Covid-19 yang maksimal, efektif serta efisien.

Seperti yang disampaikan Kementerian Kesehatan bahwa puncak kasus Covid-19 di Tanah Air diprediksikan terjadi pada akhir Juni ini.

"Sulit dibayangkan bagaimana suasana pada akhir bulan ini kalau kasus terus naik. Karena itu, kenaikan kasus perlu dikendalikan dan diturunkan. Apalagi, kemarin ada tambahan 12.624 kasus baru Covid-19," ujarnya.

Kemudian, langkah kedua setelah melakukan pembatasan sosial adalah meningkatkan secara maksimal pelaksanaan tes dan telusur ata test and tracing.

"Kedua hal ini angka indikator targetnya jelas, hanya tinggal dipastikan pelaksanaannya di semua Kabupaten/Kota secara merata dengan komitmen yang jelas guru besar FKUI ini.

Ketiga, melihat kasus sudah tinggi maka perlu kesiapan fasilitas pelayanan kesehatan, baik di Rumah Sakit maupun juga sama pentingnya di pelayanan kesehatan primer.

"Bukan hanya ruang isolasi dan ICU, alat dan obat, sarana dan prasarana lain yang disiapkan, tetapi yang paling penting adalah SDM petugas kesehatan yang harus terjamin bekerja secara aman. Tidaklah tepat kalau hanya menambah ruang rawat tanpa diiringi penambahan petugas kesehatan," ungkap Prof.Tjandra.

Kemudian, perlu kepastian tersedianya data yang akurat dan selalu update.

Sejumlah tenaga medis sedang menangani pasien di Instalasi Gawat Darurat (IGD) yang penuh hingga sebagian pasien harus dirawat di selasar depan IGD RSUP Dr Kariadi, Kota Semarang, Jawa Tengah, Selasa (15/6/2021). Kondisi tersebut juga terjadi pada sejumlah rumah sakit di Kota Semarang bersamaan dengan meningkatnya kasus Covid-19. Tribun Jateng/Hermawan Handaka
Sejumlah tenaga medis sedang menangani pasien di Instalasi Gawat Darurat (IGD) yang penuh hingga sebagian pasien harus dirawat di selasar depan IGD RSUP Dr Kariadi, Kota Semarang, Jawa Tengah, Selasa (15/6/2021). Kondisi tersebut juga terjadi pada sejumlah rumah sakit di Kota Semarang bersamaan dengan meningkatnya kasus Covid-19. Tribun Jateng/Hermawan Handaka (Tribun Jateng/Hermawan Handaka)

Analisis data ini juga harus dilakukan dengan dasar ilmu pengetahuan yang baik dan bijak.

Hal ini sangat diperlukan agar penentu kebijakan publik dapat membuat keputusan yang berbasis bukti ilmiah yang tetap atau evidence-based decision making process.

Langkah kelima, pemberian vaksinasi ke publik secara maksimal.

Walau vaksinasi tidak akan secara cepat menurunkan angka kasus yang sedang tinggi di suatu tempat.

Sebanyak 50 orang penyandang disabilitas dan tuna rungu (bisu tuli) serta 15 orang tuna netra mengikuti vaksinasi Covid-19 di Lapangan Karangayu, Kota Semarang, Jawa Tengah, Kamis (17/6/2021). Untuk vaksinasi Covid-19 ini satu penyandang disabiltas didampingi 3 tim. Tribun Jateng/Hermawan Handaka
Sebanyak 50 orang penyandang disabilitas dan tuna rungu (bisu tuli) serta 15 orang tuna netra mengikuti vaksinasi Covid-19 di Lapangan Karangayu, Kota Semarang, Jawa Tengah, Kamis (17/6/2021). Untuk vaksinasi Covid-19 ini satu penyandang disabiltas didampingi 3 tim. Tribun Jateng/Hermawan Handaka (Tribun Jateng/Hermawan Handaka)

Tetapi jelas vaksinasi berperan penting dalam pengendalian pandemi.

Harus diingat dalam menentukan berapa jumlah orang yang harus divaksin agar tercapai kekebalan komunal (‘Herds Immunity’) maka tergantung dari angka reproduksi penyakit dan juga efektifitas vaksin.

Jika angka reproduksi meningkat, dan juga efektifitas vaksin menurun misalnya karena varian baru, maka jumlah orang yang harus di vaksin perlu lebih banyak lagi untuk dapat memperoleh kekebalan komunal (‘Herds Immunity’)

"Jadi dalam situasi sekarang maka angka sasaran vaksinasi mungkin perlu dihitung ulang," ujarnya.

(TribunTernate.com/Rizki A.) (Tribunnews.com/Rina Ayu Panca Rini)

Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved