Virus Corona
Jika Sudah Pernah Terpapar Covid-19 dan Sembuh, Adakah Peluang Terinfeksi Lagi dengan Varian Delta?
Seberapa kuat kekebalan seseorang yang pernah terpapar Covid-19 sebelumnya, untuk bisa terlindungi dari penularan virus corona varian delta?
TRIBUNTERNATE.COM - Di tengah pandemi Covid-19 yang masih belum juga berakhir, banyak hal yang harus kita waspadai, satu di antaranya adalah kemunculan varian baru virus corona penyebab penyakit tersebut.
Saat ini, salah satu varian baru virus corona yang menjadi sorotan adalah varian Delta atau B.1.617.2 yang muncul karena adanya mutasi virus.
Virus corona varian Delta telah merebak ke berbagai negara di dunia, tak terkecuali Indonesia, dan menyebabkan lonjakan kasus infeksi.
Dengan potensi penularan yang lebih tinggi ketimbang varian virus corona awal, muncul pertanyaan apakah seseorang yang pernah terpapar Covid-19 dan sembuh, dapat terinfeksi lagi oleh virus corona varian Delta?
Diketahui, pada awal Juli 2021 lalu, Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit AS (CDC) mengumumkan bahwa Delta sekarang menjadi varian virus corona paling dominan di Amerika Serikat.
Yakni, terhitung sekitar 51 persen dari semua kasus infeksi baru.
Baca juga: Peneliti MIT: Sekolah Butuh Lebih dari Udara Terbuka untuk Cegah Penularan Covid-19
Baca juga: Sertifikat Vaksin Covid-19 Bisa Didownload di PeduliLindungi, Segera Kirim Email Jika Belum Muncul
Baca juga: Menkes RI Minta Masyarakat Tidak Pilih-pilih Vaksin Covid-19: Semuanya Punya Manfaat yang Sama

Sejumlah vaksin yang tersedia saat ini, seperti Pfizer, Moderna, AstraZeneca, dan Johnson & Johnson mampu bekerja dengan baik melawan berbagai varian virus corona, termasuk varian delta.
Vaksin tersebut juga dapat mencegah gejala penyakit yang parah, rawat inap (hospitalisasi), dan kematian akibat Covid-19.
Selain vaksin, diketahui pula orang yang sembuh dari Covid-19 telah memiliki antibodi khusus yang dapat melawan virus.
Lalu, seberapa kuat kekebalan seseorang yang pernah terpapar Covid-19 sebelumnya, untuk bisa terlindungi dari penularan virus corona varian delta?
Kekebalan yang terbentuk berkat infeksi sebelumnya, dalam banyak kasus, dapat melindungi seseorang dari kasus infeksi ulang atau reinfeksi, dikutip TribunTernate.com dari Healthline.
Namun, ketika kasus reinfeksi benar-benar terjadi, gejala penyakit yang timbul cenderung ringan.
Akan tetapi, kekebalan sifatnya bervariasi secara signifikan dari orang yang satu dengan orang yang lain.
Jadi, ada banyak orang yang memiliki respon imun yang kuat dan tahan lama sehingga dapat terlindungi dari virus corona varian Delta setelah kasus infeksi sebelumnya.
Di sisi lain, ada pula seseorang yang setelah sembuh dari Covid-19 memiliki respons imun yang lemah dan tetap berisiko tertular kembali.
Karena masih ada banyak hal yang belum diketahui, para ahli menyarankan orang yang sudah pernah terpapar Covid-19 untuk mendapatkan setidaknya satu dosis vaksin untuk meningkatkan kadar antibodinya.
Namun, sejumlah ahli lainnya merekomendasikan orang yang pernah tertular Covid-19 untuk mendapatkan divaksin secara lengkap, baik dengan dua dosis suntikan messenger RNA (mRNA) maupun satu dosis vaksin Johnson & Johnson.
Kasus infeksi ulang atau reinfeksi jarang terjadi
“Kami tahu bahwa kasus infeksi ulang (reinfeksi) bukanlah kejadian umum, setidaknya dalam jangka pendek dengan varian asli virus serta beberapa varian lainnya,” kata Dr. Amesh Adalja, sarjana senior di Johns Hopkins Center for Health Security sekaligus ahli penyakit menular.
Sebuah studi dari Cleveland Clinic yang melacak kasus pada tenaga kesehatan yang divaksinasi atau sebelumnya terpapar Covid-19 menemukan bahwa tingkat infeksi ulang pada dasarnya sama dengan mereka yang telah divaksinasi.
Studi lain dari Qatar juga menemukan bahwa kemungkinan infeksi ulang sama rendahnya di antara orang-orang yang sebelumnya terpapar Covid-19 dan mereka yang divaksinasi.
Meskipun studi ini menunjukkan kasus infeksi ulang dengan berbagai varian jarang terjadi, penting untuk dicatat bahwa studi-studi itu dilakukan awal tahun ini dan tidak digelar di lokasi dengan sirkulasi varian delta yang tinggi.
Baca juga: Positif Covid-19 saat akan Jalani SKD CPNS 2021? Bisa Lakukan Penjadwalan Ulang, Ini Kata BKN
Baca juga: Apa itu Badai Sitokin pada Pasien Covid-19? Simak Gejala dan Cara Pengobatannya
Baca juga: Apa itu Badai Sitokin pada Pasien Covid-19? Simak Gejala dan Cara Pengobatannya
Kasus infeksi ulang cenderung ringan gejalanya
Memang ada kasus infeksi ulang, dan respon imun setiap orang berbeda-beda.
Ada orang yang punya kekebalan yang kuat dan tahan lama setelah tertular virus corona lagi, tetapi ada juga orang yang memiliki respons kekebalan yang lebih lemah.
Kekebalan setelah kasus infeksi sebelumnya "sangat bervariasi dari satu orang ke orang lain - bahkan, mungkin hampir tidak ada [kekebalan, red.] dan tidak bertahan lama untuk beberapa orang," kata Dr. Richard A. Martinello, spesialis penyakit menular Yale Medicine sekaligus profesor di Yale School of Medicine.
Sebuah studi kecil yang dipimpin oleh para peneliti di Oxford University menemukan bahwa orang yang menghasilkan respon kekebalan yang lebih lemah mungkin lebih berisiko terinfeksi ulang oleh varian baru virus corona.
Namun dalam kebanyakan kasus, kekebalan yang diberikan dari infeksi sebelumnya tampaknya memberikan perlindungan yang baik terhadap timbulnya gejala penyakit yang parah.
“Umumnya, kasus infeksi ulang tidak akan parah karena kekebalan sudah terbentuk berkat kasus infeksi sebelumnya,” jelas Adalja.
Sistem kekebalan tubuh melibatkan banyak bagian: antibodi, sel T, dan sel B.
Antibodi adalah garis pertahanan pertama tubuh dalam melawan infeksi dan mengejar protein lonjakan (tempat mutasi pada varian terjadi).
Antibodi adalah tiket untuk mencegah infeksi, yang ringan sekalipun.
Sel T dan sel memori B yang berdiam di kelenjar getah bening baru akan beraksi setelah terpapar kembali dengan patogen tertentu.
Sel T dapat mengenali banyak bagian berbeda dari SARS-CoV-2 (setidaknya 57 lokasi), bukan hanya protein varian yang selama ini selalu menjadi berita utama.
Sel T sangat penting dalam menyerang virus dan mencegah timbulnya gejala penyakit parah, risiko rawat inap, dan kematian.
Selain itu, sebuah laporan baru-baru ini yang mengevaluasi infeksi SARS-CoV-2 sebelumnya menemukan bahwa sel B memori menghasilkan antibodi baru yang dapat mengenali varian baru dan mutasinya saat terpapar patogen.
Karena kompleksitas sistem kekebalan kita, sebagian besar infeksi ulang – bahkan dengan varian delta – diperkirakan hanya menimbulkan gejala ringan.
Vaksinasi tetap direkomendasikan
Adalja merekomendasikan strategi satu dosis vaksin Covid-19 bagi seseorang yang pernah terpapar penyakit itu dan sembuh.
“Saya menyarankan orang yang pernah terinfeksi sebelumnya untuk divaksinasi. Hanya satu dosis saja mungkin sudah cukup dalam memperkuat kekebalan alami mereka, ” kata Adalja.
Bukti menunjukkan bahwa hanya satu dosis vaksinsetelah terjadinya infeksi sebelumnya dapat meningkatkan kadar antibodi, bahkan lebih tinggi daripada dua dosis pada orang yang tidak pernah terpapar Covid-19 sebelumnya.
Namun, karena keberagaman atau banyaknya variasi kekebalan yang dimiliki orang yang satu dengan yang lain, Martinello mengatakan vaksinasi dosis lengkap tetap direkomendasikan.
“Mereka yang pernah terkena Covid-19 harus divaksinasi dan harus mendapatkan vaksin lengkap sesuai yang tersedia atau yang mereka pilih,” kata Martinello.
Penelitian telah menunjukkan bahwa vaksin dapat bekerja melawan berbagai varian virus corona.
Namun, para ilmuwan masih mempelajari tentang kekebalan pada orang yang pernah terpapar Covid-19.
“Vaksinasi menghasilkan respon imun yang kuat dan memberikan perlindungan yang sangat baik terhadap Covid-19,” kata Martinello.
Poin Utama
Orang-orang yang sebelumnya pernah terpapar Covid-19 bertanya-tanya tentang seberapa kuat respon imun mereka untuk melindungi tubuh dari paparan virus corona varian Delta.
Penelitian telah menunjukkan bahwa, secara umum, kasus infeksi ulang jarang terjadi karena sifat kompleks dari sistem kekebalan tubuh kita.
Sebagian besar infeksi ulang yang terjadi gejalanya terbilang ringan.
Kekebalan yang terbentuk dari infeksi sebelumnya memang memberikan beberapa tingkat perlindungan.
Namun, karena banyak hal yang masih belum diketahui, ahli penyakit menular merekomendasikan orang yang pernah terpapar Covid-19 untuk tetap divaksin setidaknya satu dosis atau dosis penuh untuk meningkatkan antibodi mereka.
SUMBER: Healthline
(TribunTernate.com)