Densus 88 Sebut Afghanistan Training Ground Teroris, Waspadai Kembalinya WNI Eks Kombatan Taliban
Kabag Bantuan Operasi Densus 88 mengingatkan, Indonesia punya pengalaman yang buruk terhadap eks kombatan Taliban usai kembali ke Tanah Air.
TRIBUNTERNATE.COM - Kembali berkuasanya Taliban di Afghanistan mendapat sorotan dari Tim Densus 88 Antiteror Polri, utamanya terkait dengan kelompok-kelompok teroris di Indonesia.
Menurut Kabag Bantuan Operasi Densus 88 Kombes Pol Aswin Siregar, Afghanistan menjadi tempat melatih diri (training ground) para kelompok teroris yang biasa beraksi di Tanah Air.
Awalnya, Aswin menyampaikan konflik di Afghanistan yang terjadi sejak 1970 silam telah memicu datangnya pejuang alias kombatan dari berbagai penjuru negara, tak terkecuali Warga Negara Indonesia (WNI).
Ia mengungkapkan banyak WNI yang diketahui menjadi kombatan berdalih memperjuangkan nasib dan kemerdekaan umat Islam.
Sesampainya di sana, mereka mendapatkan pencucian otak (brainwash).
"Sampai di sana mereka biasa lah yang mengalami proses brainwash. Kemudian membangun jaringan kenal satu sama lain dan melatih dan melengkapi diri dengan persenjataan yang ada," kata Aswin dalam diskusi daring, Senin (30/8/2021).
Baca juga: 5 Pimpinan KPK yang Dijatuhi Sanksi Kode Etik: Firli Bahuri, Lili Pintauli, hingga Abraham Samad
Baca juga: Jokowi Teken Perpres, Wakil Menteri Bakal Dapat Bonus hingga Rp580 Juta
Baca juga: Wakil Ketua KPK Langgar Kode Etik, Febri Diansyah: Dewas Sebenarnya Punya Pilihan Sanksi Berat Lain
Ia mencatat ada lebih dari 10 gelombang WNI yang berangkat ke Afghanistan dengan maksud menjadi kombatan pejuang di Afghanistan. Mereka menjadikan tempat itu sebagai melatih berperang.
"Ada yang tercatat misalnya, saya mungkin lebih ada 10 gelombang yang berangkat ke Afghanistan dari tahun-tahun awal itu ya. Kemudian setelah mereka selesai dalam tanda kutip berjuang di sana, selesai berlatih di sana, Afghanistan itu akan selalu itu jadi training ground mereka ya berlatih dan berperang," ungkapnya.
Ia menerangkan WNI eks kombatan di Afghanistan ini rata-rata memiliki pemikiran dengan tingkat radikalisme yang tinggi seusai pulang ke Indonesia. Tercatat, ada sejumlah aksi teror yang diperbuat eks kombatan di Afghanistan.
"Kemudian selesai pulang ke Indonesia dan melakukan berbagai aksi teror ya di sini sebagaimana yang tercatat di kita itu ada bom malam natal ketika konflik di Poso, Bom Bali 1, bom Bali 2, bom JW Marriott, bom Kedubes Australia, Ritz Carlton dan sebagainya," ungkapnya.
Atas dasar itu, Aswin mengingatkan bahwa keberadaan WNI sebagai kombatan di Afghanistan berdampak terhadap pemikirannya selepas pulangnya ke Indonesia.
"Jadi hasil-hasil dari keberadaan mereka di Afghanistan itu secara nyata dan faktual memberikan dampak terhadap pemikiran dan aksi mereka setelah kembali ke Indonesia," jelasnya.
Lebih lanjut, Aswin mengkhawatirkan dengan kemenangan Taliban ini membuat adanya WNI kembali berangkat atau justru pulang kembali ke Indonesia. Hal inilah yang tengah diantisipasi oleh Densus 88.
"Kami dari pihak Densus mengingatkan bahwa potensi ancaman para returnis atau orang Indonesia yang akan berangkat ke sana sebagai foreign fighter itu sudah pernah ada. Ini bukan prediksi ini sejarah. Ketika ada konflik, orang berbondong-bondong berapa bergelombang gelombang berangkat ini sudah pernah terjadi. Jangan sampai terulang lagi di zaman ini gitu ya," tukasnya.
Baca juga: Pernah Janji Hormati Hak-hak Perempuan, Kini Taliban Larang Wanita Keluar Tanpa Pendamping
Baca juga: Kuasai Afghanistan, Taliban Masih Harus Hadapi 6 Tantangan Ini: Penerimaan Masyarakat hingga Ekonomi
Baca juga: Dituding Dekat dengan Taliban, Jusuf Kalla: Itu Bukan karena Saya Berpihak pada Mereka
Pergerakan WNI eks Kombatan Taliban yang Pulang ke Indonesia Diawasi
Tim Densus 88 Antiteror Polri mewaspadai pergerakan Warga Negara Indonesia (WNI) yang pulang dari negara Afghanistan.
Hal ini mencegah adanya WNI yang merupakan eks kombatan Taliban.
Kabag Bantuan Operasi Densus 88 Kombes Pol Aswin Siregar menyampaikan pihaknya telah memantau pergerakan banyaknya WNI yang pulang dari Afghanistan menuju Indonesia.
"Dengan kemenangan Taliban ini banyak orang yang kembali ke negara kita. Banyak orang Indonesia yang kembali ke negaranya. Bukan orang Indonesia saja, tapi yang lain juga ada ya," kata Aswin dalam diskusi daring, Senin (30/8/2021).
Ia menyampaikan kepulangan WNI tersebut harus dicermati secara teliti oleh pihak bandara.
Mereka harus ditanyakan terlebih dahulu ihwal keberadaanya selama di Afghanistan.
"Di sana mereka sebagai apa sebetulnya, ini perlu dicermati. Jangan-jangan yang kembali ini ada juga yang kombatan. Ada juga yang terlibat perang," ujarnya.
Baca juga: Taliban Kuasai Afghanistan, Guru Besar UI: Indonesia Jangan Buru-buru Beri Pengakuan
Ia mengingatkan bahwa Taliban telah berhasil membebaskan 5.000 orang tahanan yang juga merupakan kombatan. Dia menduga, ada orang Indonesia yang turut dilepaskan Taliban.
"Seperti beberapa waktu yang lalu ada pembebasan atau dilepaskannya 5.000 orang dari penjara. Berapa orang orang Indonesia tuh di dalamnya yang dilepaskan yang oleh Taliban diputihkan lagi itu ya sekarang keluar dari penjara," ujarnya.
Lebih lanjut, Aswin menerangkan eks kombatan Taliban dinilai memiliki tingkat radikalisme yang tinggi.
Pasalnya, kata dia, mereka mengalami proses pencucian otak oleh pihak Taliban.
"Mereka yang kembali ini memiliki tingkat radikalisme yang tinggi karena ada pembelokan tujuan dari awalnya mungkin terpanggil untuk membela atau melindungi sesama umat Islam kemudian berubah menjadi mendirikan Daulah Islamiyah. Merasa bahwa jalan untuk mewujudkan kemenangan itu dengan menguasai dan mendirikan negara," ungkapnya.
Aswin mengingatkan bahwa Indonesia punya pengalaman yang buruk terhadap eks kombatan Taliban usai kembali ke Indonesia.
Rata-ratanya pernah melakukan aksi teror.
"Selesai pulang ke Indonesia dan melakukan berbagai aksi teror ya di sini sebagaimana yang tercatat di kita itu ada bom malam natal ketika konflik di Poso, Bom Bali 1, bom Bali 2, bom JW Marriott, bom Kedubes Australia, Ritz Carlton dan sebagainya," bebernya.
"Jadi aksi mereka itu jadi hasil-hasil dari keberadaan mereka di Afghanistan itu secara nyata dan faktual memberikan dampak terhadap pemikiran dan aksi mereka setelah kembali ke Indonesia," tutupnya.
Sebagai informasi, Taliban telah berhasil menguasai Kabul, ibukota Afghanistan sejak 15 Agustus 2021 lalu.
Presiden Afganistan Ashraf Ghani langsung meninggalkan ibu kota, tak lama Taliban berhasil menguasai kota terbesar di negara itu.
Hal ini membuat warga berbondong-bondong meninggalkan Afghanistan dan memenuhi bandar udara.
Setidaknya 26 Warga Negara Indonesia (WNI) telah dievakuasi ke Tanah Air dari Afghanistan pada Sabtu (21/8/2021).
Diketahui, Taliban adalah kelompok militan yang berbasis di Afghanistan. Kelompok militer tersebut dilengkapi persenjataan dan menguasai hampir seluruh wilayah negara tersebut.
Artikel ini telah tayang di Tribunnews.com dengan judul Densus 88 Waspadai Pergerakan WNI Eks Kombatan Taliban yang Pulang ke Indonesia
Artikel ini telah tayang di Tribunnews.com dengan judul Densus 88 Ungkap Afghanistan Jadi Training Ground Para Kelompok Teroris di Indonesia
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/ternate/foto/bank/originals/suicide-bombing-kabul.jpg)