Terkini Internasional
Kuasai Afghanistan, Taliban Masih Harus Hadapi 6 Tantangan Ini: Penerimaan Masyarakat hingga Ekonomi
Taliban hanya memiliki sedikit atau tidak sama sekali pemahaman teknokratis tentang bagaimana melakukan fungsi-fungsi lain dari pemerintahan.
TRIBUNTERNATE.COM - Kelompok Taliban telah berhasil menguasai Afghanistan pekan lalu, 20 tahun setelah dilengserkan dari kekuasaan berkat invasi militer yang dipimpin Amerika Serikat (AS).
Hal ini pun mendapat sorotan dari sejumlah pihak, termasuk para pengamat.
Namun, kelompok bersenjata ini masih akan mendapat sejumlah tantangan yang harus diatasi.
Para analis dan pejabat Afghanistan menyebut, memenangkan perang mungkin akan menjadi bagian yang mudah.
Akan tetapi, menjaga perdamaian dan mengatur negara yang dilanda konflik sekaligus miskin itu adalah hal yang sulit.
Dirangkum oleh Al Jazeera, berikut enam tantangan yang harus dihadapi oleh Taliban dalam upaya memerintah negara berpenduduk 38 juta orang itu untuk kedua kalinya sejak 2001:
Penerimaan Masyarakat
Pemerintah Presiden Ashraf Ghani gagal memenuhi aspirasi rakyat, karena standar hidup mereka hampir tidak meningkat dan ditambah layanan mendasar yang buruk, seperti kesehatan dan pendidikan.
Pemerintah Afghanistan terperosok dalam korupsi, sementara situasi keamanan tetap genting.
Hal ini memaksa ribuan warga Afghanistan meninggalkan negara itu.
Banyak pemimpin milisi yang terkenal dan antek-anteknya hanya diharuskan menjalani rehabilitasi, padahal mereka memiliki catatan pelanggaran hak asasi manusia yang mengerikan dan korupsi.
Masyarakat memang frustrasi dan menantikan perubahan, tetapi itu tidak berarti mereka menyambut kembalinya kelompok Taliban.
“Di banyak wilayah di Afghanistan, orang-orang dihadapkan dengan pilihan yang sulit, yakni rezim Taliban yang represif atau pemerintah yang mengambil jauh lebih banyak daripada yang mampu disediakannya,” kata Jonathan Schroden, direktur program penelitian di Center for Naval Analyses yang berbasis di negara bagian AS, Virginia.
“Sementara beberapa orang Afghanistan tentu saja memiliki preferensi yang kuat dan mendukung satu pihak versus yang lain, sebagian besar terjebak di tengah dan tidak terlalu antusias terhadap kedua pihak,” sambung Schroden, yang mengepalai Countering Threats and Challenges Program.
Baca juga: 26 WNI Dievakuasi dari Afghanistan, Sempat Terjadi Penundaan Izin Mendarat di Kabul
Baca juga: Cerita Pelik Skadron Udara 17 TNI AU Evakuasi WNI dari Afghanistan, Lalui Berbagai Kendala
Kekuatan yang tersebar
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/ternate/foto/bank/originals/afghan-militia.jpg)