Sabtu, 9 Mei 2026
Halmahera Timur
Halmahera Timur Berbenah Menuju Transformasi Kemajuan

Terkini Internasional

Joe Biden Sebut Badai Tornado Kentucky yang Terbesar dalam Sejarah AS, Dampak Perubahan Iklim?

Badai tornado yang terjadi secara intensif di Kentucky AS pada Jumat (10/12/2021) dilaporkan telah menewaskan sekitar 70 hingga 100 orang.

Tayang:
Twitter/Sportzstewcom
Badai tornado mengguncang sejumlah negara bagian di Amerika Serikat dan meratakan banyak bangunan. 

TRIBUNTERNATE.COM - Sebanyak tujuh negara bagian di tengah dan selatan Amerika Serikat (AS) kini sedang mencari korban selamat dan mengamati kehancuran yang terjadi akibat badai tornado pada Jumat (10/12/2021).

Badai tornado yang terjadi secara intensif itu dilaporkan menyebabkan sekitar 70 hingga 100 orang meninggal dunia.

Sabtu (11/12/2021) sore, para pejabat setempat telah mengkonfirmasi adanya 29 kematian, 22 kematian di antaranya terjadi di tiga kota di wilayah Kentucky.

Korban tewas sebagian besar adalah mereka yang bekerja di pabrik lilin di Mayfield, di mana ada sekitar 110 karyawan yang sedang bekerja shift malam saat badai tornado terjadi.

Presiden AS Joe Biden pun kemudian mengumumkan keadaan darurat di Kentucky, negara bagian yang mengalami dampak paling parah.

Joe Biden menggambarkan ini sebagai sebuah tragedi yang tak terbayangkan, dan menyebut persitiwa ini sebagai salah satu wabah tornado terbesar dalam sejarah AS.

"Ini menjadi peristiwa tornado paling dahsyat dalam sejarah negara bagian kita," kata Gubernur Kentucky, Andy Beshear, dikutip dari The Guardian.

Beshear memperkirakan, ada puluhan pekerja yang tewas di pabrik lilin ketika atap pabrik runtuh.

Baca juga: Fenomena Pusaran Awan Putih Mirip Tornado di Bogor, Warga Diimbau Menjauh, Ini Penjelasan BMKG

Baca juga: Ada Potensi Cuaca Buruk, BMKG Imbau Warga yang Tinggal di Pesisir Maluku Utara untuk Tetap Waspada

"Tingkat kehancurannya tidak sama seperti apa pun yang pernah saya lihat," ucap Beshear.

"Kami cukup yakin bahwa kami akan kehilangan lebih dari 50 warga, sekarang saya yakin bahwa jumlah itu ada di kisaran 70 orang."

"Faktanya, mungkin jumlah korban akan berakhir melebihi angka 100," imbuhnya.

Sarah Burgess, seorang polisi di kepolisian negara bagian Kentucky mengatakan bahwa seluruh bangunan pada dasarnya telah rata dengan tanah.

Burgess menambahkan bahwa dia tidak bisa mentabulasi jumlah kematian, karena tim pencarian dan penyelamatan sedang menyusuri puing-puing.

Seperti diketahui, ada sekitar 110 pekerja di pabrik lilin saat badai tornado melanda Mayfield, Kentucky.

Wali Kota Mayfield, Kathy Stewart O'Nan mengatakan bahwa pabrik lilin itu seperti kejatuhan bom saat badai terjadi.

"Kami berharap masih ada penyelamatan yang harus dilakukan. Kami khawatir sekarang hanya tinggal pemulihan," ucap O'Nan.

Baca juga: Serius Tangani Dampak Perubahan Iklim, Jokowi akan Paksa Perusahaan Bangun Pusat Persemaian

Baca juga: Perubahan Iklim Picu Perubahan Rasa, Bau, dan Manfaat dari Secangkir Kopi, Ini Penjelasannya

Pada konferensi pers Sabtu (11/12/2021) sore, Biden mengatakan bahwa kerugian yang dialami akibat serangan tornado di Kentucky sangat dalam dan seperti sebuah tragedi.

"Kami masih belum tahu berapa banyak nyawa yang hilang atau berapa tingkat kerusakan total," kata Biden.

"Saya mengatakan kepada semua korban bahwa Anda ada dalam doa kami, dan kepada responden pertama dan personel darurat, ini adalah hal yang benar untuk dilakukan pada waktu yang tepat. Kita akan bisa melewati ini," lanjutnya.

Saat ditanya apakah menurutnya intensitas badai itu berkaitan dengan krisis iklim atau tidak, Biden tidak memberikan jawaban yang jelas.

"Yang saya tahu adalah bahwa intensitas cuaca di seluruh dunia memiliki beberapa dampak sebagai konsekuensi dari pemansan planet ini."

"Dampak spesifik pada badai yang spesifik ini, saya tidak bisa mengatakannya saat ini," tutur Biden.

Diketahui, sistem cuaca yang melewati wilayah itu meningkat saat udara dingin dari Dataran, bertemu dengan udara hangat yang luar biasa dari selatan.

Sebagian besar kehancuran terjadi di sisi "hangat" badai dan setidaknya satu dari empat tornado yang tercatat mungkin berada di darat sejauh 100 mil atau 160 km.

Sekitar 12 jam setelah badai yang dinamai "Atticus" ini terjadi, sebanyak 500 ribu rumah dan bisnis di delapan negara bagian hidup tanpa listrik.

Tingkat kerusakan dari badai tornado ini pun membuat banyak orang terkejut.

(TribunTernate.com/Ron)

Ikuti kami di

Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved