Virus Corona
Omicron Merebak, Jumlah Kasus Covid-19 Dunia Telah Lampaui Angka 300 Juta
Per Jumat (7/1/2022), total kasus Covid-19 yang tercatat di seluruh dunia telah melampaui angka 300 juta di tengah merebaknya varian Omicron.
TRIBUNTERNATE.COM - Pandemi virus corona penyebab penyakit Covid-19 telah berlangsung selama kurang lebih dua tahun.
Dalam kurun waktu tersebut, virus corona bernama ilmiah SARS-CoV-2 itu juga mengalami mutasi dengan berbagai varian dan turunannya.
Setelah varian Delta, kini mutasi virus corona menjadi varian Omicron tengah mendapat sorotan dunia.
Bahkan, Omicron menyebabkan ledakan kasus infeksi di berbagai negara.
Per Jumat (7/1/2022), total kasus Covid-19 yang tercatat di seluruh dunia telah melampaui angka 300 juta, sementara varian Omicron menimbulkan rekor jumlah kasus infeksi baru di belasan negara di dunia selama seminggu terakhir.
Dikutip dari Channel News Asia, dalam tujuh hari terakhir, 34 negara telah mencatatkan jumlah kasus mingguan tertinggi sejak awal pandemi Covid-19.
Dari 34 negara itu, 18 negara berada di Eropa dan tujuh negara di Afrika, menurut hitungan AFP berdasarkan angka resmi.
Meskipun jauh lebih menular daripada varian virus corona sebelumnya, Omicron tampaknya menyebabkan gejala yang lebih ringan daripada varian pendahulunya.
Baca juga: Gaji DPRD DKI Jakarta Naik, Terbanyak Ada Tunjangan Perumahan Sebesar Rp80 Juta Per Bulan
Baca juga: Disebut-sebut Maju Calon Gubernur DKI Jakarta, Gibran Rakabuming Bakal Ikuti Jejak Ayahnya?
Bahkan, saat Omicron merebak dan kasus infeksi global tercatat sebanyak 13,5 juta dalam minggu lalu saja - atau 64 persen lebih tinggi dari tujuh hari sebelumnya - rata-rata angka kematian global turun 3 persen.
Otoritas kesehatan masyarakat Prancis mengatakan pada Jumat lalu, bahwa risiko rawat inap sekitar 70 persen lebih rendah untuk Omicron, mengutip data dari AS, Inggris, Kanada, dan Israel.
Namun dengan rata-rata global 2 juta kasus baru yang terdeteksi setiap harinya, para ahli memperingatkan jumlah kasus infeksi yang sangat banyak dikhawatirkan akan membuat sistem kesehatan terancam.
Direktur Jenderal Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) Tedros Adhanom Ghebreyesus mengatakan, Omicron tidak boleh dianggap ringan, karena "varian itu membuat orang dirawat di rumah sakit dan menewaskan orang."
"Faktanya, tsunami kasus sangat besar dan cepat, sehingga membanjiri sistem kesehatan di seluruh dunia," kata Tedros.

"ADA DI SINI UNTUK TINGGAL"
Penyebaran varian Omicron sejak terdeteksi enam minggu lalu telah mendorong banyak negara untuk mengebut upaya vaksinasi, beberapa negara bahkan memberlakukan pembatasan lebih ketat.