Virus Corona
Epidemiolog: Meski Gejalanya Ringan, Varian Omicron tetap Berpotensi Bebani Layanan Kesehatan
Covid-19 varian Omicron tetap memberikan kerugian yang cukup besar, baik dalam sektor ekonomi, sosial, maupun layanan kesehatan.
TRIBUNTERNATE.COM - Pandemi virus corona penyebab penyakit Covid-19 telah berlangsung selama hampir dua tahun.
Dalam kurun waktu itu pula, virus corona jenis baru ini bermutasi menjadi beberapa varian dan turunan, salah satunya adalah Omicron.
Setelah varian Delta, Omicron kini menjadi varian yang jadi perhatian global.
Varian Omicron kini semakin menyebar ke berbagai negara, dan mulai menjadi varian yang dominan di beberapa negara termasuk Amerika Serikat (AS).
Di Indonesia, kasus pertama yang terkait dengan varian ini pun telah terdeteksi.
Kemunculan varian Omicron mendapat perhatian khusus dari berbagai pihak, mulai dari Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), pemerintah negara, hingga pakar penyakit menular dan epidemiologi.
Ahli Epidemiologi Indonesia sekaligus Peneliti Pandemi dari Griffith University, Dicky Budiman, menyebut bahwa Covid-19 varian Omicron termasuk jenis varian yang menular secara cepat.
Bahkan, orang yang sudah divaksin Covid-19 dua dosis masih bisa tertular oleh varian ini.
Varian Omicron memang memang terlihat ringan, sedang, atau tidak bergejala.
Namun, Dicky menegaskan bahwa varian Omicron tetap memberikan kerugian yang cukup besar, baik dalam sektor ekonomi, sosial, maupun layanan kesehatan.
"Karena jumlah SDM berkurang. Karena mereka harus menjalankan masa isolasi atau karantina dalam jumlahnya banyak sekali," ungkap Dicky pada Tribunnews, Selasa (11/12/2022).
Baca juga: Kenaikan Kasus Omicron Tinggi tapi Pasien Rawat Inap Rendah, Menkes Ubah Strategi Layanan Kesehatan
Baca juga: Omicron Merebak, Jumlah Kasus Covid-19 Dunia Telah Lampaui Angka 300 Juta
Baca juga: Sebut Omicron dan Delta sebagai Ancaman Kembar Pandemi, WHO Perintahkan untuk Tingkatkan Vaksinasi
Ia pun mencontohkan kondisi di Australia saat ini. Banyak terjadi permasalahan suplai makanan. Lalu beberapa layanan rapid test juga terganggu.
Hal ini dikarenakan banyak sumber daya manusia yang akhirnya tidak ada. Dampak ini bisa saja dialami Indonesia.
Sehingga, Indonesia harus bersiap melakukan re-definisi kasus kontak.
"Artinya jika dia sudah divaksin penuh dalam durasi protektif 7 bulan pasca suntikan kedua, atau booster, maka kalau dimaksud dengan kasus kontak erat ini adalah dia tidak menggunakan masker dalam ruangan, kurun waktu 15 menit misalnya kontak," papar Dicky lagi.
Jika tidak dapat memenuhi dalam kasus kontak, maka tetap upayakan protokol kesehatan.
Potensi dampak Omicron sekali lagi ditekankan Dicky tetap akan membebankan fasilitas kesehatan dan kematian.
"Tetap ada. Tidak ada jaminan sedikit pun bahwa ini tidak akan berbahaya dan meledak mendekati Delta," tegasnya.
Variasi yang sangat beragam ini membuat setiap orang harus menghindari sikap pengabaian dan meremehkan pada varian Omicron. Karena, menurut Dicky, dampaknya akan besar sekali.
Varian Omicron Harus Dianggap Serius dan Berbahaya
Epidemiolog Universitas Griffith Australia, Dicky Budiman mengatakan bahwa karena Omicron kini telah dimasukkan ke kategori varian yang menjadi perhatian atau Variant of Concern (VoC), maka selayaknya harus dianggap 'berbahaya'.
"Ya semua Variant of Concern itu berbahaya, karena begitu satu varian dimasukkan dalam kategori Variant of Concern, berarti ada hal yang serius yang berbahaya, termasuk dalam hal Omicron ini," kata Dicky, dalam pesan singkatnya kepada Tribunnews, Rabu (29/12/2021).
Baca juga: Studi Tunjukkan Risiko Rawat Inap Kasus Infeksi Varian Omicron Lebih Ringan daripada Delta
Baca juga: Pandemi Belum Usai, Muncul Kabar Varian Covid-19 Baru Bernama Delmicron, Perpaduan Delta dan Omicron
Baca juga: Penelitian: 3 Dosis Vaksin Sinovac Gagal Melindungi Seseorang dari Infeksi Covid-19 Omicron
Sebelumnya, setelah Afrika Selatan mengidentifikasi varian ini, negara itu kemudian melaporkan kepada Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) yang akhirnya menyebut varian baru ini sebagai Omicron dan memasukkannya dalam kategori VoC.
Selanjutnya, Omicron pun mulai menyebar ke berbagai belahan dunia dengan memiliki jumlah 32 mutasi yang disebut merupakan hasil gabungan dari berbagai varian sebelumnya.
WHO pada Rabu waktu Swiss mengatakan bahwa risiko yang ditimbulkan oleh Omicron masih 'sangat tinggi'.
Pernyataan ini disampaikan setelah jumlah kasus Covid-19 melonjak 11 persen secara global pada pekan lalu.
Dikutip dari laman Russia Today, Rabu (29/12/2021), Omicron saat ini berada dibalik lonjakan kasus infeksi yang bergerak cepat di beberapa negara.
"Bahkan varian ini telah melampaui varian Delta yang sebelumnya menjadi varian dominan. Risiko keseluruhan terkait varian baru yang menjadi perhatian ini pun tetap sangat tinggi," jelas WHO dalam pembaharuan epidemiologi mingguan terkait Covid-19.
WHO menambahkan bahwa bukti yang konsisten menunjukkan varian Omicron memiliki keunggulan pertumbuhan dibandingkan Delta, dengan waktu penggandaan dua hingga tiga hari.
Peningkatan pesat dalam kejadian kasus pun terlihat di sejumlah negara, termasuk Inggris dan Amerika Serikat (AS), di mana (Omicron) telah menjadi varian yang dominan.
"Tingkat pertumbuhan yang cepat kemungkinan merupakan kombinasi dari sifatnya yang dapat menghindari kekebalan dan peningkatan transmisibilitas varian Omicron secara intrinsik," kata WHO.
Artikel ini telah tayang di Tribunnews.com dengan judul Epidemiolog: Masuk Kategori Variant of Concern, Omicron Termasuk Bahaya
Artikel ini telah tayang di Tribunnews.com dengan judul Varian Omicron Tidak Berbahaya Seperti Delta? Pakar Epidemiologi: Tidak Ada Jaminan