Halmahera Timur
Halmahera Timur Berbenah Menuju Transformasi Kemajuan

Virus Corona

Bukan Karena Vaksinasi, Tingkat Kesuburan Pria Berkurang Jika Pernah Terinfeksi Covid-19

Penelitian baru menyebut, pasangan memiliki peluang hamil yang sedikit lebih rendah, jika sang pria pernah terinfeksi Covid-19.

Pexels/Andrew Neel
Ilustrasi seorang pria yang tingkat kesuburannya menurun karena pernah terinfeksi Covid-19. 

TRIBUNTERNATE.COM - Menurut sebuah penelitian baru yang didanai oleh Institut Kesehatan Nasional (NIH) Amerika Serikat, vaksinasi Covid-19 tidak mempengaruhi kesuburan atau peluang seseorang untuk bisa hamil.

Dalam penelitian yang melibatkan 2.000 pasangan ini, para peneliti tidak menemukan adanya perbedaan dalam kemungkinan pembuahan antara pasangan yang telah divaksinasi dan pasangan yang tidak divaksinasi.

Namun, pasangan memiliki peluang pembuahan yang sedikit lebih rendah, jika sang pria pernah terinfeksi Covid-19 dalam waktu 60 hari sebelum siklus menstruasi.

Dengan demikian, menurut penelitian yang dipublikasikan dalam American Journal of Epidemiology ini, Covid-19 bisa mengurangi kesuburan pria untuk sementara waktu.

Diketahui, penelitian ini melibatkan 2.126 wanita yang tinggal di AS atau Kanada selama Desember 2020 hingga September 2021.

Kemudian para peneliti mengikuti dan mempelajari mereka hingga November 2021.

Baca juga: Soroti Pentingnya Vaksin, Pakar Sebut Kasus Covid-19 8 Kali Lebih Besar daripada yang Dilaporkan

Baca juga: Penerima Vaksin Primer Sinovac Bisa dapat Booster AstraZeneca & Pfizer, Ini Takaran Dosisnya

Para peserta penelitian diminta untuk menyelesaikan kuisioner setiap delapan minggu tentang sosio-demografi, gaya hidup, faktor medis, dan informasi pasangannya.

Hasilnya, para peneliti tidak menemukan adanya perbedaan besar dalam tingkat pembuahan per siklus menstruasi antara pasangan yang tidak divaksinasi dan pasangan yang divaksinasi.

Pasangan yang divaksinasi adalah termasuk mereka yang baru mendapatkan satu dosis vaksin Covid-19.

Dr Diana Bainchi, Direktur Institut Nasional Kesehatan Anak dan Pengembangan Manusia Eunice Kennedy Shriver di NIH mengatakan, hasil penelitian ini menunjukkan bahwa vaksin tidak mempengaruhi kesuburan.

Ia juga mengatakan bahwa hasil penelitian ini bisa menjadi referensi bagi dokter untuk memberitahu pasien mereka terkait vaksinasi bagi pasangan yang ingin hamil.

"Temuan ini memberikan kepastian bahwa vaksinasi untuk pasangan yang mengharapkan kehamilan tampaknya tidak mengganggu kesuburan," kata Dr Diana Bianchi.

"Mereka juga memberikan informasi bagi dokter yang menasihati pasien yang berharap untuk hamil," lanjutnya.

Ilustrasi vaksinasi pada ibu hamil.
Ilustrasi vaksinasi pada ibu hamil. (Tribun Batam/Argianto DA Nugroho)

Merokok Pengaruhi Tingkat Kesuburan

Dari banyak masalah kesehatan yang mungkin terjadi akibat merokok, yang paling menjadi perhatian utama adalah gangguan reproduksi. Salah satunya adalah merokok dapat merusak sperma.

Merokok juga dapat berdampak negatif pada kesuburan pria maupun wanita.

Melansir dari WebMD, merokok membuat sperma memiliki kemungkinan lebih kecil untuk membuahi sel telur.

Kesimpulan tersebut didapatkan dalam laporan studi yang dipublikasikan dalam jurnal Human Reproduction tahun 2010.

Penelitian ini dilakukan terhadap 53 orang perokok berat dan 63 orang bukan perokok.

Hasilnya menunjukkan bahwa pria yang merokok lebih tidak subur dibanding bukan perokok.

Baca juga: Terawan Klaim Vaksin Nusantara Bisa Lawan Omicron dan Siap Dijadikan Booster

Baca juga: Jokowi Akhirnya Gratiskan Vaksin Booster untuk Semua Masyarakat, Syaratnya Hanya Ini

Ketidaksuburan ini karena sperma perokok diketahui kekurangan satu jenis protein penting.

Sebagai informasi, sel sperma manusia membawa dua protein kecil yang disebut protamin 1 dan protamin 2.

Pada perokok, peneliti menemukan sel sperma mereka membawa terlalu sedikit protamin 2.

Ketidakseimbangan ini membuat mereka sangat rentan terhadap kerusakan DNA.

"Ketika kami menyuntikkan sel sperma yang rusak ini ke dalam sel telur, sperma tidak mampu membuahi sel. Bahkan jika pembuahan terjadi, tingkat keguguran sangat tinggi," kata Mohamad Eid Hammadesh, salah satu peneliti yang terlibat studi tersebut.

Para peneliti berpendapat, hal ini mungkin karena sperma yang rusak akibat kebiasaan merokok kehilangan sebagian besar kemampuannya untuk melawan radikal bebas di dalam cairan mani.

Penelitian lain yang menunjukkan hasil serupa juga dipublikasikan pada tahun 2016 di jurnal European Urology.

Dalam studi tersebut, merokok dikaitkan dengan penurunan jumlah sperma, penurunan motulitas, dan morfologi sperma yang buruk.

Merangkum Verywell Family, merokok membuat pria terpapar kadmium dan timbal tingkat tinggi.

Kedua zat tersebut merupakan logam yang sering dikaitkan dengan penurunan kesuburan.

Pada perokok berat yang merokok 20 batang atau lebih dalam sehari memiliki kadar yang lebih tinggi dalam air mani.

Untuk memperbaiki hal ini, banyak ahli menyarankan agar pria berhenti merokok.

Meskipun tidak ada konsensus tentang berapa lama pria harus berhenti merokok agar sperma mereka kembali sehat, tapi yang banyak disarankan adalah 3 bulan.

Itu karena dibutuhkan hampir 3 bulan bagi sel sperma untuk mencapai kematangan.

Memberikan waktu setidaknya 3 bulan untuk perbaikan setelah menghentikan kebiasaan merokok dianggap adalah durasi paling masuk akal.

(TribunTernate.com/Ron)(Tribunnews.com)

Berita Terkait
Ikuti kami di
AA

Berita Terkini

© 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved