Halmahera Timur
Halmahera Timur Berbenah Menuju Transformasi Kemajuan

ARCoV, Vaksin mRNA Pertama Buatan China Berhasil Picu Respons Imun pada 95% Penerima Vaksinnya

Vaksin Covid-19 teknologi mRNA pertama buatan China, ARCoV, berhasil memicu respons imun tubuh pada 95% penerimanya pada uji coba tahap pertama.

TRIBUNNEWS/IRWAN RISMAWAN
Ilustrasi vaksinasi Covid-19. 

TRIBUNTERNATE.COM - Menurut data uji klinis tahap pertama, vaksin Covid-19 dengan teknologi mRNA pertama yang dibuat oleh China dapat memicu respons imun tubuh pada 95 persen penerima vaksin ini.

Vaksin yang dikenal sebagai ARCoV itu sedang dikembangkan bersama oleh Walvax Biotechnology, Sozhou Abogen Bioscience dan PLA Academy of Military Science.

Menurut sebuah laporan yang diterbitkan pada Senin (24/1/2022) di The Lancet Microbe, uji klinis fase satu vaksin ARCoV telah dilakukan untuk menilai keamanan awal, tolerabilitas, dan imunogenisitas suntikan.

Antara 30 Oktober hingga 2 Desember 2020, tim uji coba merekrut 120 orang dewasa sehat berusia 18 hingga 59 tahun untuk secara acak yang ditugaskan untuk menerima suntikan vaksin atau plasebo.

Kemudian, subjek dibagi menjadi beberapa kelompok berdasarkan dosis vaksin yang diambil, yakni antara 5 mikrogram (mcg) hingga 25 mcg.

Akhirnya, sebanyak 118 peserta menerima dua dosis vaksin ARCoV dengan jarak 28 hari.

Hasilnya, antibodi penetral ditemukan di antara 80 persen hingga 95 persen peserta yang mendapatkan dua dosis vaksin, bervariasi dengan dosis yang mereka terima.

Baca juga: Bukan Karena Vaksinasi, Tingkat Kesuburan Pria Berkurang Jika Pernah Terinfeksi Covid-19

Baca juga: Penerima Sinovac akan Dapat Booster Vaksin Merek Zifivax buatan China, Efektifkah?

Kelompok yang menerima suntikan dengan dosis 20 mcg menunjukkan tingkat antibodi-positif tertinggi, yakni 95 persen.

Dalam percobaan ini tidak ditemukan efek samping parah yang dilaporkan oleh para penerima vaksin, namun kebanyakan dari mereka menunjukkan efek yang ringan.

Sementara itu, di antara mereka yang mendapatkan dosis 15 mcg, 70 persen melaporkan rasa sakit di tempat suntikan dan 90 persen mengalami demam.

ILUSTRASI Vaksinasi Covid-19.
ILUSTRASI Vaksinasi Covid-19. (TRIBUNNEWS/JEPRIMA)

Untuk diketahui, vaksin dengan teknologi mRNA bekerja dengan cara mengirimkan sedikit kode genetik ke sel.

Kode genetik tersebut kemudian akan mengajarkan sel untuk membuat protein yang bisa memicu respons imun terhadap virus corona.

Sebagai informasi, hingga saat ini ada dua vaksin mRNA yang digunakan dan diyakini oleh seluruh dunia, yakni vaksin yang dikembangkan Pfizer-BioNTech dan Moderna.

Vaksin-vaksin tersebut mengungguli vaksin mRNA yang lain dalam hal uji klinis dan merupakan salah satu vaksin Covid-19 yang paling banyak diberikan di dunia.

Namun untuk ARCoV ini, China belum menyetujui vaksin mRNA itu untuk penggunaan umum.

Baca juga: Virus Corona Varian Omicron Dapat Bertahan hingga 8 Hari pada Permukaan Plastik

Baca juga: Terus Bertambah, Jumlah Kasus Covid-19 Varian Omicron di Indonesia Kini Capai 1.766 Orang

Meski demikian, ARCoV telah disetujui oleh regulator obat China pada Juni 2021 untuk memulai uji klinis.

Hal itu membuat ARCoV menjadi salah satu vaksin mRNA terdepan yang dibuat di dalam negeri (China).

Saat ini, vaksin tersebut sedang dalam uji coba fase tiga di luar negeri, termasuk Indonesia, Meksiko, dan Nepal.

Namun, tidak ada data dari studi fase dua dan tiga yang dirilis.

Selain itu, para peneliti juga mempelajari penggunaan vaksin mRNA ini sebagai suntikan booster untuk orang China, yang sebagian besar divaksinasi dua dosis vaksin dari virus yang tidak aktif dan bukan mRNA.

Selain ARCoV, ada pula vaksin mRNA alternatif yang dikembangkan oleh perusahaan biotek China, termasuk di antaranya dibuat oleh Stmirna Therapeutics dan Zhuhai Lifanda Biotechnology.

Pada Desember 2021, pembangunan fasilitas produksi untuk ARCoV dimulai di provinsi Yunnan, China Barat Daya.

Melansir The Strait Times, proyek ini akan mulai beroperasi dalam delapan bulan dengan kapasitas awal 120 juta dosis per tahun.

(TribunTernate.com/Ron)(The Strait Times)

Berita Terkait
Ikuti kami di
AA

Berita Terkini

© 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved