Minggu, 26 April 2026
Halmahera Timur
Halmahera Timur Berbenah Menuju Transformasi Kemajuan

Konflik Rusia vs Ukraina

Rusia Peringatkan Dunia soal Risiko Perang Nuklir dalam Konflik Rusia vs Ukraina: Bahayanya Serius

Menlu Rusia, Sergei Lavrov mengimbau seluruh dunia agar tidak meremehkan risiko konflik nuklir yang cukup besar dalam invasi Rusia ke Ukraina.

Ramil SITDIKOV/SPUTNIK/AFP
Presiden Rusia Vladimir Putin saat mengumumkan "operasi militer" di Ukraina pada 24 Februari 2022 dan meminta tentara di sana untuk meletakkan senjata mereka, menentang kemarahan Barat dan seruan global untuk tidak melancarkan perang. 

TRIBUNTERNATE.COM - Menteri Luar Negeri Rusia, Sergei Lavrov mengimbau seluruh dunia agar tidak meremehkan risiko konflik nuklir yang cukup besar dalam invasi Rusia ke Ukraina.

Ia juga menyebut bahwa pasokan senjata NATO ke Ukraina "pada dasarnya" memiliki arti bahwa aliansi Barat terlibat dalam perang proxy dengan Rusia.

Saat menghadiri wawancara televisi pemerintah Rusia, Sergei Lavrov ditanya tentang pentingnya menghindari Perang Dunia Ketiga dan apakah situasi saat ini sebanding dengan Krisis Rudal Kuba tahun 1962.

"Risikonya sekarang cukup besar," jawab Sergei Lavrov menurut transkrip wawancara dalam situs resmi kementerian Rusia.

"Saya tidak ingin meningkatkan risiko itu secara artifisial. Banyak yang akan seperti itu."

"Bahayanya serius, nyata. Dan kita tidak boleh meremehkannya," imbuh Lavrov, seperti dikutip TribunTernate.com dari The Straits Times, Selasa (26/4/2022).

Baca juga: Dirut Pertamina Tak Kooperatif Soal Kasus Lili Pintauli, Novel Baswedan: Itu Salah Dewas KPK Sendiri

Baca juga: Survei LSI: Kelangkaan dan Mahalnya Harga Minyak Goreng Bikin Citra Pemerintah Semakin Buruk

Baca juga: Jokowi Tinjau Sirkuit Formula E Bareng Anies Baswedan, Ini Tanggapan Politisi PDIP dan Gerindra

Menteri Luar Negeri Ukraina, Dmytro Kuleba mengatakan bahwa pernyataan Menlu Rusia terkait nuklir merupakan ketakutan Rusia yang diartikan sebagai tanda kelemahan.

"Rusia telah kehilangan harapan terakhirnya untuk menakut-nakuti dunia agar tidak mendukung Ukraina," tulis Kuleba di Twitter setelah wawancara Lavrov tayang.

"Ini hanya berarti bahwa Moskow merasakan kekalahan," tambahnya.

Baca juga: 2 Bulan Invasi Rusia, PBB: Hampir 5,2 Juta Warga Ukraina Melarikan Diri dari Perang

Baca juga: Rusia Luncurkan Uji Coba Rudal Balistik Sarmat, Disebut Vladimir Putin sebagai yang Terbaik di Dunia

Selama kunjungan ke Kyiv pada Minggu (24/4), Menteri Luar Negeri AS, Antony Blinken dan Menteri Pertahanan, Lloyd Austin berjanji untuk memberikan lebih banyak bantuan militer pada Ukraina.

Pada Senin (25/4), Departemen Luar Negeri AS menggunakan deklarasi darurat untuk menyetujui potensi penjualan amunisi senilai 165 juta dolar Amerika ke Ukraina.

Pentagon mengatakan, paket itu dapat mencakup amunisi artileri untuk howitzer, tank, dan peluncur granat.

Duta Besar Moskow untuk Washington kemudian meminta AS untuk menghentikan pengiriman dan memperingatkan bahwa senjata Barat telah membuat konflik makin panas.

"NATO, pada dasarnya, terlibat dalam perang dengan Rusia melalui proxy dan mempersenjatai proxy itu."

"Perang berarti perang," ujar Lavrov.

Halaman 1/3
Ikuti kami di

Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved