Kerusuhan di Stadion Kanjuruhan
Tragedi Kanjuruhan: LPSK Ungkap Ada Gas Air Mata Berlebihan, Aparat Halangi Pertolongan Korban
Temuan LPSK: rentetan waktu dari penembakan gas air mata pertama ke selanjutnya itu dilakukan dalam kurun waktu berdekatan.
TRIBUNTERNATE.COM - Lembaga Perlindungan Saksi dan Korban (LPSK) merupakan salah satu pihak yang turut menyelidiki kerusuhan berdarah di Stadion Kanjuruhan, Malang, Jawa Timur.
Diketahui, insiden desak-desakan terjadi di Stadion Kanjuruhan, Malang, Jawa Timur setelah digelarnya laga Derby Jawa Timur, Arema FC vs Persebaya dalam pekan 11 Liga 1 musim 2022-2023, Sabtu (1/10/2022).
Dalam laga tersebut, tim tuan rumah, Arema FC, menelan kekalahan 2-3 dari Persebaya Surabaya.
Kemudian, pendukung Arema FC turun ke lapangan untuk menemui ofisial dan pemain tim idola mereka
Namun, turunnya para pendukung Arema FC di area lapangan Stadion Kanjuruhan malah direspon oleh polisi dengan penembakan gas air mata.
Akibat gas air mata yang ditembakkan ke arah lapangan dan tribun, para penonton mulai panik, merasa sesak napas dan mata pedih, serta berebutan mencari pintu keluar.
Insiden berdarah dalam berdesak-desakan ini pun menjadi sorotan internasional dan disebut-sebut peristiwa sepak bola terkelam nomor dua di dunia.
Hingga 10 hari pasca-kejadian, jumlah korban tewas dalam tragedi maut di Stadion Kanjuruhan telah mencapai 132 orang.
Sementara, korban luka-luka dilaporkan lebih dari 700 orang.
LPSK pun mengungkapkan hasil temuan investigasinya terkait tragedi Stadion Kanjuruhan, yakni adanya penembakan gas air mata berlebihan yang dilakukan aparat keamanan.
Wakil Ketua LPSK, Edwin Partogi Pasaribu, mengatakan temuan tersebut berdasarkan video yang didapati pihaknya saat kejadian penembakan gas air mata pertama kali dilesahkan ke arah penonton.

Baca juga: Sudah Dicopot, Eks Kapolda Jawa Timur Ada Kemungkinan Diperiksa oleh Komnas HAM terkait Kanjuruhan
Baca juga: Tragedi Stadion Kanjuruhan, Komnas HAM Ungkap Kondisi Chaos Saat Gas Air Mata Ditembakkan
Kata dia, rentetan waktu dari penembakan gas air mata pertama ke selanjutnya itu dilakukan dalam kurun waktu berdekatan.
"Kita lihat di video, itu adalah rentetan tembakan yang pertama kita melihat kemudian tembakan kedua, itu tembakan kedua itu dilakukan atau terdengar dalam waktu yang berdekatan," kata Edwin saat jumpa pers secara daring, Kamis (13/10/2022).
"Sangat terlihat bahwa ada penggunaan gas air mata yang ada di lapangan ke arah massa penonton dan berlebihan," sambung Edwin.
Bahkan kata dia, pihaknya mendapati keterangan dari saksi yang menyebut aparat keamanan sengaja menembakkan gas air mata hingga ke luar Stadion.