Halmahera Timur
Halmahera Timur Berbenah Menuju Transformasi Kemajuan

Gempa Bumi Turki Suriah

H+13 Gempa Bumi Turki Suriah: Lebih dari 46.000 Korban Tewas, Bangunan Hancur Picu Kemarahan Publik

13 hari pasca-gempa bumi dahsyat magnitudo 7.8 di Turki dan Suriah pada Senin (6/2/2023) lalu, jumlah korban jiwa semakin bertambah.

AFP
Aerial view dari bangunan yang runtuh selama operasi pencarian penyelamatan yang berlangsung di Hatay, tenggara Turki, pada 8 Februari 2023, dua hari setelah gempa kuat melanda wilayah tersebut. 

TRIBUNTERNATE.COM - 13 hari pasca-gempa bumi dahsyat magnitudo 7.8 di Turki dan Suriah pada Senin (6/2/2023) lalu, jumlah korban jiwa semakin bertambah.

Kini, korban tewas di dua negara tersebut tercatat telah melebihi 46.000 jiwa.

Pada Minggu (19/2/2023), korban tewas yang dilaporkan kedua negara mencapai 46.442 orang, dikutip dari Al Jazeera.

Rinciannya, korban tewas di Turki mencapai 40.642 orang, sedangkan Suriah telah melaporkan lebih dari 5.800 kematian.

Ketika Turki berupaya mengelola bencana terburuk yang melanda negaranya, kekhawatiran atas para korban tragedi di Suriah semakin berkembang.

Program Pangan Dunia (WFP) menekankan agar pihak berwenang berhenti memblokir akses ke daerah-daerah untuk menyalurkan bantuan.

Kepala WFP, David Beasley, mengatakan badan itu kehabisan pasokan dan meminta lebih banyak penyeberangan perbatasan dari Turki dibuka.

"Masalah yang kami hadapi (adalah) operasi lintas garis ke Suriah, di mana otoritas Suriah barat laut tidak memberi kami akses yang kami butuhkan," kata Beasley di sela-sela KTT Munich.

Mesut Hancer memegang tangan putrinya yang berusia 15 tahun, Irmak, yang meninggal dunia dalam gempa bumi di Kahramanmaras, dekat pusat gempa, sehari setelah gempa berkekuatan 7,8 melanda tenggara negara itu, Selasa (7/2/2023) - Tim penyelamat di Turki dan Suriah menghadapi cuaca dingin, gempa susulan, dan bangunan yang runtuh, saat mereka menggali korban selamat yang terkubur oleh gempa bumi yang menewaskan lebih dari 5.000 orang. Beberapa kehancuran terparah terjadi di dekat pusat gempa antara Kahramanmaras dan Gaziantep, sebuah kota berpenduduk dua juta jiwa di mana seluruh blok sekarang menjadi reruntuhan di bawah salju yang menumpuk.
Mesut Hancer memegang tangan putrinya yang berusia 15 tahun, Irmak, yang meninggal dunia dalam gempa bumi di Kahramanmaras, dekat pusat gempa, sehari setelah gempa berkekuatan 7,8 melanda tenggara negara itu, Selasa (7/2/2023) - Tim penyelamat di Turki dan Suriah menghadapi cuaca dingin, gempa susulan, dan bangunan yang runtuh, saat mereka menggali korban selamat yang terkubur oleh gempa bumi yang menewaskan lebih dari 5.000 orang. Beberapa kehancuran terparah terjadi di dekat pusat gempa antara Kahramanmaras dan Gaziantep, sebuah kota berpenduduk dua juta jiwa di mana seluruh blok sekarang menjadi reruntuhan di bawah salju yang menumpuk. (Photo by Adem ALTAN / AFP)

Baca juga: H+11 Gempa Bumi di Turki dan Suriah: Jumlah Korban Tewas Capai 43.844 Jiwa

Baca juga: Pria Turki Viral Pegang Tangan Putrinya yang Tertimbun Reruntuhan: Dia Tak Sempat Selamatkan Diri

Di Suriah yang hancur oleh perang saudara selama lebih dari satu dekade, sebagian besar korban jiwa tercatat di sisi barat laut.

Daerah tersebut, dikuasai oleh para pejuang yang berperang dengan pasukan Presiden Bashar Al Assad.

Puluhan Ribu Bangunan Hancur Picu Kemarahan Publik

Baik Turki maupun Suriah tidak mengungkap berapa banyak orang yang belum ditemukan pascagempa.

Bagi keluarga yang masih menantikan kerabatnya di Turki, ada kemarahan publik atas praktik pembangunan yang korup dan cacat sehingga mengakibatkan ribuan rumah dan bisnis hancur.

Diketahui, lebih dari 84.000 bangunan rusak parah, perlu dibongkar segera, atau runtuh.

Satu di antara bangunan tersebut adalah di Antakya, yang menewaskan ratusan orang.

Halaman
12
Sumber: Tribunnews
Berita Terkait
Ikuti kami di
AA

Berita Terkini

© 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved