Halmahera Timur
Halmahera Timur Berbenah Menuju Transformasi Kemajuan

Pulau Taliabu

Kebutuhan Pangan di Taliabu Masih Bergantung Pasokan dari Luar Daerah, Hasriani Buka Data

Sekertaris Dinas Pertanian Pulau Taliabu, Hasriani, ditunjuk sebagai pembicara dalam rapat konsolidasi melibatkan tiga dinas

Penulis: Laode Havidl | Editor: Mufrid Tawary
Tribunternate.com
PROGRAM: Tampak kegiatan Panen Raya pangan pada puncak HKG PKK ke 51 tingkat Provinsi di Pulau Taliabu. 

TRIBUNTERNATE.COM, TALIABU - Sekertaris Dinas Pertanian Pulau Taliabu, Hasriani, ditunjuk sebagai pembicara dalam rapat konsolidasi melibatkan tiga dinas, dan dihadiri oleh para pelaku UMKM.

Di antaranya, Dinas Ketahanan Pangan, Dinas Pertanian dan Dinas Perindagkop dan UKM Taliabu dengan tema "Stabilitas Pasokan dan Harga Pangan (SPHP) Tahun 2023" bertempat di Balai Rakyat Desa Kilo, Taliabu Barat.

Kata dia, rapat ini dibuat bertujuan untuk mengetahui serta menghindari lonjakan harga pangan di Pulau Taliabu.

Sebab, salah satu masalah tingginya harga karena kurangnya ketersediaan pangan di masyarakat

Dengan membeberkan data perbandingan produksi ketahanan pangan di Pulau Taliabu, dari tahun 2021 ke 2022.

Bahwa, produksi tanaman jagung turun 2.440 ton, ubi jalar mengalami penurunan 70 ton, dan ubi 1.970 ton.

"Terbatasnya produksi tanaman pangan, sehingga kebutuhan konsumsi penduduk masih harus didatangkan dari daerah lain," ungkap Hasriani.

Baca juga: Dinkes Taliabu Gelar Jalan Sehat hingga Pengobatan Gratis

Hasriani menerangkan, ada sejumlah aspek yang menjadi masalah mendasar pada data tersebut.

Pertama aspek ekonomi, di mana belum diterapkannya teknologi budidaya yang baik.

Kedua, lemahnya akses petani terhadap teknologi, informasi dan permodalan. Ketiga, terbatas tingkat pendidikan petani.

"Juga fasilitas sarana prasarana budidaya yang masih kurang. Teknik budidaya belum optimal dan tidak tepat waktu karena tergantung air hujan," bebernya.

Disamping itu, Hasriani juga paparkan tentang produksi komoditi perkebunan di Pulau Taliabu.

Pertama produksi komoditi cengkih pada tahun 2021 capai 440 ton. Tahun 2022, menjadi 418 ton, turun 22 ton.

"Sementara pala naik 1,3 ton. Cokelat (kakao) mengalami penurunan dari tahun 2021 ke 2022 turun 200 ton. Kelapa juga alami penurunan," pungkasnya. (*)

Sumber: Tribun Ternate
Berita Terkait
Ikuti kami di
AA

Berita Terkini

© 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved