DPRD Maluku Utara
Baru 20 Persen, Komisi III DPRD Maluku Utara Soroti Serapan Anggaran Pemprov
Ketua Komisi III DPRD Maluku Utara, Merlisa Marsaoly, menyoroti lambannya proses pelelangan proyek di lingkup Pemerintah Provinsi Maluku Utara
Penulis: Fizri Nurdin | Editor: Sitti Muthmainnah
TRIBUNTERNATE COM,SOFIFI- Ketua Komisi III DPRD Maluku Utara, Merlisa Marsaoly, menyoroti lambannya proses pelelangan proyek di lingkup Pemerintah Provinsi Maluku Utara.
Hingga awal Juli 2025, serapan anggaran daerah baru menyentuh angka 20 persen.
Menurut Merlisa, kondisi ini sangat mengkhawatirkan dan berpotensi menggagalkan banyak program fisik.
Baca juga: Leo Jaga Bicaranya, Virgo dan Pasangan Saling Pengertian: Ramalan Zodiak Cinta Selasa 8 Juli 2025
“Ini sudah bulan Juli, tapi penyerapan anggaran baru mencapai 20 persen. Artinya, masih ada 80 persen kegiatan yang belum melalui proses pelelangan,” ujar Merlisa saat diwawancarai di Kantor DPRD Maluku Utara, Senin (7/7/2025).
Ia menegaskan, keterlambatan tersebut bukan sekadar persoalan administratif, tetapi mencerminkan lemahnya manajemen pelaksanaan program di sebagian besar Organisasi Perangkat Daerah (OPD).
Bagi Merlisa, sejumlah OPD belum menunjukkan keseriusan dan profesionalisme dalam menjalankan proses pelelangan.
Merlisa mengungkapkan, meskipun beberapa kegiatan sudah ditayangkan dalam Sistem Informasi Rencana Umum Pengadaan (SirGub), namun hingga kini banyak OPD belum juga menyerahkan dokumen pelengkap ke Biro Pengadaan Barang dan Jasa (BPBJ).
“Kalau semua saling menunggu, bagaimana mungkin kegiatan bisa berjalan? Proses pelelangan bukanlah proses yang instan ada tahapan penawaran, masa sanggah, hingga kontrak. Apalagi kalau perencanaannya belum matang,” tegasnya.
Ia bahkan menyoroti hingga saat ini, hanya Dinas PUPR yang aktif memasukkan dokumen pelelangan. OPD lain, katanya, masih pasif dan terkesan menunda-nunda.
Menurut Merlisa, masih ada sekitar Rp200 miliar anggaran kegiatan yang belum juga dilelang, sementara yang sudah berjalan baru sekitar Rp68 miliar, sebagian besar berasal dari Dinas PUPR.
Salah satu proyek yang disorot adalah rehabilitasi Rumah Sakit Jiwa yang hingga kini belum memiliki kejelasan dokumen lelang.
Ia juga menilai bahwa meskipun beberapa proyek menggunakan skema swakelola dan e-purchasing, hal itu tidak bisa dijadikan alasan untuk bersikap pasif terhadap proses pelaksanaan kegiatan.
“Banyak kegiatan ini menyentuh langsung masyarakat, seperti infrastruktur dasar dan layanan publik. Kalau ini tertunda, masyarakat yang paling merasakan dampaknya,” ujarnya.
Merlisa mendorong seluruh OPD agar lebih disiplin dalam pengelolaan waktu dan proses teknis kegiatan.
Ia juga meminta BPBJ untuk segera menyurati OPD dan menyampaikan daftar program yang telah dan belum dilelang sebagai dasar evaluasi DPRD.
| DPRD Malut Soroti Struktur APBD, Usul Pangkas OPD untuk Tekan Belanja Pegawai |
|
|---|
| DPRD Malut Kritik Anggaran Pendidikan 2026: Skema Swakelola Rp20,6 Miliar Jadi Sorotan |
|
|---|
| Ketua DPRD Maluku Utara Iqbal Ruray Siap Kawal Perda Masyarakat Adat |
|
|---|
| Serap Aspirasi Warga Sidangoli Dehe, Iswanto ST Tegaskan Komitmen Perjuangkan Infrastruktur Desa |
|
|---|
| Ketua DPRD Maluku Utara Tekankan Prioritas Pelunasan Utang dalam Rakor Keuangan Nasional |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/ternate/foto/bank/originals/Kantor-Gubernur-Maluku-Utara-diambil-Selasa-sore-622024-di-Sofifi-kemarin.jpg)