Liputan Khusus
Dampak Rupiah Melemah, Harga Roti Bakar di Ternate Naik Jadi Rp 23 Ribu per Porsi
"Dampak melemahnya rupiah membuat harga jual roti bakar yang sebelumnya Rp 20 ribu per porsi kini naik menjadi Rp 23 ribu, "aku Ridwan, pedagang
Penulis: Sansul Sardi | Editor: Munawir Taoeda
Ringkasan Berita:1. Melemahnya nilai tukar rupiah dan kenaikan harga gas LPG mulai dirasakan pelaku usaha kecil di Kota Ternate, Maluku Utara2. Meski demikian, para pedagang masih berupaya bertahan dengan menyesuaikan harga jual tanpa mengurangi minat pelanggan3. Salah satunya dirasakan Ridwan (27), pedagang Roti Bakar 78 Bandung yang berjualan di Kelurahan Salero, Kecamatan Ternate Utara
TRIBUNTERNATE.COM, TERNATE - Melemahnya nilai tukar rupiah dan kenaikan harga gas LPG mulai dirasakan pelaku usaha kecil di Kota Ternate, Maluku Utara.
Meski demikian, para pedagang masih berupaya bertahan dengan menyesuaikan harga jual tanpa mengurangi minat pelanggan.
Salah satunya dirasakan Ridwan (27), pedagang Roti Bakar 78 Bandung yang berjualan di Kelurahan Salero, Kecamatan Ternate Utara.
Pria asal Kabupaten Majalengka, Jawa Barat itu mengaku kondisi usahanya masih relatif stabil meski terjadi kenaikan sejumlah biaya operasional.
Baca juga: Warung Makan di Ternate Ikut Terdampak Rupiah Anjlok, Menu Naik Harga
"Untuk sekarang masih aman dan relatif stabil, belum ada pengaruh yang terlalu besar, meskipun kita belum tahu bagaimana ke depannya, "ujarnya saat ditemui Tribunternate.com, Selasa (9/6/2026).
Menurutnya, dampak melemahnya rupiah membuat harga jual roti bakar yang sebelumnya Rp 20 ribu per porsi kini naik menjadi Rp 23 ribu.
"Meski saya naikan harga, tapi Alhamdulillah konsumen masih tetap datang seperti biasa, "katanya.
Ridwan menuturkan, kenaikan harga tersebut belum memengaruhi jumlah pembeli yang datang setiap hari.
Pelanggan setianya masih tetap mencari roti bakar yang telah ia jual selama hampir satu dekade di Kota Ternate.
"Sampai sekarang masih stabil. Belum terlalu mengganggu daya beli masyarakat, "ujarnya.
Selain nilai tukar rupiah, kelangkaan dan kenaikan harga LPG juga menjadi tantangan bagi pelaku usaha kuliner.
Ridwan mengaku harga gas yang biasa dibelinya mengalami kenaikan cukup signifikan.
"Dulu harga normal sekitar Rp 175 ribu per tabung, sekarang sudah Rp 255 ribu, naiknya hampir Rp 80 ribu, "ungkapnya.
Kenaikan biaya operasional tersebut turut berdampak pada usaha kecil yang mengandalkan gas LPG sebagai kebutuhan utama dalam proses produksi.
Meski demikian, Ridwan mengaku belum merasakan penurunan omzet yang signifikan.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/ternate/foto/bank/originals/Dampak-melemahnya-rupiah-terhadap-pedagang-di-Ternate.jpg)