Opini
Menghidupkan Kembali 'Agent of Change' yang Mati di Layar Gadget
Abdullah Adam: Mahasiswa adalah penyambung lidah rakyat yang paling lantang, sebuah kekuatan moral yang siap berdiri di garis depan
Abdullah Adam
Pemuda Rua Pulau Ternate
DAHULU, kata 'mahasiswa' selalu bersanding erat dengan perubahan. Di pundak mereka, ada titipan harapan dari jutaan rakyat yang tidak memiliki suara.
Mahasiswa adalah penyambung lidah rakyat yang paling lantang, sebuah kekuatan moral yang siap berdiri di garis depan menjadi check and balance ketika kebijakan pemerintah mulai berbelok membelakangi kepentingan publik.
Sejarah bangsa ini bahkan mencatat dengan tinta emas bagaimana "parlemen jalanan" mampu mengubah arah sejarah.
Namun hari ini, riuh rendah suara perjuangan itu seolah lenyap, digantikan oleh keheningan yang mengkhawatirkan.
Mahasiswa yang digadang-gadang sebagai agent of change (agen perubahan) tampaknya sedang mengalami mati suri.
Terbuai Alogaritma, Lupa Realita
Realitas hari ini memperlihatkan pemandangan yang miris. Ketika kebijakan publik yang kontroversial diketuk, atau ketika jeritan rakyat kecil menggema di ruang-ruang publik, respon yang muncul dari kalangan akademis muda ini kerap kali suam-suam kuku.
Mengapa? Jawabannya mungkin ada di genggaman tangan mereka masing-masing.
Generasi muda kita hari ini tengah terbuai dalam candu digital. Waktu dan energi yang seharusnya dialokasikan untuk mendiskusikan isu-isu krusial bangsa, justru habis tersedot oleh algoritma TikTok, Instagram, dan media sosial lainnya.
Ruang diskusi publik yang dulunya hidup di koridor kampus, kini bergeser menjadi ajang berburu konten viral yang acap kali dangkal dan sekadar hiburan semata.
Kita tidak sedang anti-teknologi. Namun, ketika gawai membuat mahasiswa menjadi apatis terhadap penderitaan di sekitarnya, di situlah letak petakanya.
Mereka lupa bahwa ada tanggung jawab besar yang melekat pada status 'mahasiswa 'sebuah hak istimewa yang tidak dimiliki oleh semua pemuda di negeri ini.
Urgensi Menghidupkan Fungsi Kontrol
Media sosial seharusnya menjadi alat penguat gerakan, bukan malah menjadi candu yang meninabobokan.
Parlemen jalanan memang bukan satu-satunya cara, namun esensi dari gerakan tersebut yaitu fungsi kontrol terhadap jalannya pemerintahan, tidak boleh hilang.
Jika mahasiswa hari ini lebih memilih menjadi penonton pasif di balik layar ponsel pintar mereka, lalu siapa lagi yang akan menyuarakan hak-hak rakyat? Siapa lagi yang akan menjadi benteng bagi ketidakadilan?
Sudah saatnya mahasiswa bangun dari tidur panjangnya di dunia maya. Tantangan zaman boleh berubah, dan cara berjuang boleh bermutasi, namun idealisme tidak boleh mati.
Mahasiswa harus ingat kembali khitah mereka: kembali ke tengah masyarakat, mendengar keluh kesah rakyat dan menjadi motor penggerak perubahan yang nyata, bukan sekadar angka views dan likes di media sosial. (*)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/ternate/foto/bank/originals/Abdullah-Adam-Pemuda-Kelurahan-Rua-Pulau-Ternate.jpg)